Red and White (2009)
108 min|Action, Drama, War|13 Aug 2009
6.0Rating: 6.0 / 10 from 375 usersMetascore: N/A
A band of Indonesian men bond together as cadets, survive a massacre, and fight on as guerrilla soldiers against the Dutch despite their conflicts and deep differences in social class.

Merah Putih adalah film aksi perang garahan Yadi Sugandi yang merupakan film pembuka dari trilogi kemerdekaan. Satu hal yang digembar-gemborkan adalah bujet produksi film ini yang mencapai 60 milyar serta para krunya yang pernah terlibat dalam produksi film-film besar, seperti Saving Private Ryan, Black Hawk Down, The Matrix, dan lainnya. Bermain dalam film ini adalah bintang-bintang muda seperti, Lukman Sardi, Donny Alamsyah, Teuku Rifnu, Zumi Zola, dan Darius Sinathrya.

Film berlatar pada perang pasca kemerdekaan ketika tentara Belanda berusaha menyisir tanah Jawa hingga wilayah pedalaman. Alkisah Amir (Lukman), Tomas (Donny), Dayan (Rifnu), Marius (Darius), dan Soerono (Zumi) adalah para pemuda berkemauan kuat yang ingin menjadi tentara. Setelah proses pelatihan di kamp yang melelahkan akhirnya mereka lulus menjadi kadet. Di saat pesta kelulusan kadet berlangsung, desa dan kamp mereka diserang pasukan Belanda. Diceritakankan seluruh kadet di kamp tewas hanya tinggal menyisakan empat orang saja. Cerita bergulir bagaimana keempat pemuda tersebut bertahan hidup, dan masalah ternyata tidak hanya datang dari pasukan musuh namun juga diantara mereka sendiri.

Harapan Merah Putih berbeda dari film-film kita kebanyakan ternyata salah besar. Seperti film kita lazimnya, logika dan akal sehat seringkali dikesampingkan dari naskahnya. Sejak awal kisah berjalan, konflik yang terjalin (masalah perbedaan suku dan agama) tampak sekali dibuat-buat tanpa substansi cerita yang mendalam. Bicara logika, nyaris sepanjang kisahnya sudah tak masuk akal. Coba bayangkan jika memang kamp mereka telah dikuasai Belanda, apakah masuk akal jika gudang persenjataan cuma dijaga satu orang? Menjelang akhir kisah, para pejuang berniat menyergap tentara Belanda yang lewat dengan membuat perangkap dengan rencana dan strategi matang. Hebatnya, sesaat setelah mereka selesai membuat perangkap, sesaat itu pula iring-iringan konvoi Belanda datang. Pertanyaannya, dari mana mereka tahu pasti jika konvoi tersebut akan lewat? Begitu bodohkah tentara Belanda melewati jalan yang belum seratus persen aman dilewati dengan begitu santainya? Tampak sekali keterbatasan setting dan pemain (asing) membuat banyak unsur cerita tidak masuk dalam plotnya sehingga membuat banyak hal masih belum jelas.

Baca Juga  Hompimpa

Naskah yang buruk juga jelas berimbas pada akting pemainnya. Dialognya begitu kaku dan kadang tanpa malu-malu memasukkan kalimat ngepop yang sering kita dengar di film-film barat. “Kamu merindukan saya (do you miss me)?” ujar Dayan sesaat setelah menyelamatkan Amir dan istrinya. Satu hal yang sangat menggelikan adalah aksen Bali Dayan yang jelas-jelas lepas pada sebuah adegan. Aneh, apakah para kru dan pemain saat produksi sama sekali tidak menyadari hal ini? Bicara visual effect, ledakan besar sewaktu kampung dibom memang lumayan namun setelahnya tidak ada sesuatu yang istimewa. Efek suara pun juga sama. Seperti adegan perang di hutan, penonton layaknya menonton diorama, suara desingan peluru dan ledakan yang kita dengar tidak mampu menyatu dengan apa yang kita lihat di gambar. Satu-satunya pencapaian lebih film ini adalah gambar (warna) yang disajikan sangat natural. Melihat film ini pada mulanya, salut rasanya para pembuat film kita setelah sekian lama akhirnya mampu dan berani membuat film berlatar perjuangan seperti ini. Namun berjalannya cerita, rasa salut berganti menjadi rasa lelah dan bosan. Film berbujet sebesar ini mestinya bisa berbuat lebih dari ini setidaknya menawarkan cerita yang lebih baik. Merah Putih bagi saya, penikmat film, adalah sebuah perjuangan yang sia-sia.

WATCH TRAILER

Artikel SebelumnyaLaporan 4th Jogja NETPAC Asian Film Festival
Artikel BerikutnyaMerantau, Hanya Film Laga Semata
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). A lifelong cinephile, he developed a profound passion for film from an early age. After completing his studies in architecture, he embarked on an independent journey exploring film theory and history. His enthusiasm for cinema took tangible form in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience eventually led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched students’ understanding through courses such as Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended well beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, Understanding Film, an in-depth examination of the essential elements of cinema, both narrative and visual. The book’s enduring significance is reflected in its second edition, released in 2018, which has since become a cornerstone reference for film and communication scholars across Indonesia. His contributions to the field also encompass collaborative and editorial efforts. He participated in the compilation of Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1–3 and 30 Best-Selling Indonesian Films 2012–2018. Further establishing his authority, he authored Horror Film Book: From Caligari to Hereditary (2023) and Indonesian Horror Film: Rising from the Grave (2023). His passion for cinema remains as vibrant as ever. He continues to offer insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com while actively engaging in film production with the Montase Film Community. His short films have received critical acclaim at numerous festivals, both nationally and internationally. In recognition of his outstanding contribution to film criticism, his writing was shortlisted for years in a row for Best Film Criticism at the 2021-2024 Indonesian Film Festival. His dedication to the discipline endures, as he currently serves as a practitioner-lecturer in Film Criticism and Film Theory at the Indonesian Institute of the Arts Yogyakarta, under the Independent Practitioner Program from 2022-2024.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses