My Neighbor Totoro (1988)

86 min|Animation, Comedy, Family|13 Jul 1990
8.1Rating: 8.1 / 10 from 377,104 usersMetascore: 86
When two girls move to the country to be near their ailing mother, they have adventures with the wondrous forest spirits who live nearby.

My Neighbor Totoro (Tonari no Totoro/1988) merupakan anime produksi studio Ghibli yang ditulis serta diarahkan oleh Hayao Miyazaki. Totoro mendapat banyak pujian tinggi dari para pengamat film luar dan merupakan film yang membuka jalan bagi karir Miyazaki di luar Jepang. Totoro juga menjadi salah satu karakter yang paling populer di kalangan anak-anak Jepang. Hak rilis film ini bahkan dibeli oleh dua studio raksasa, 20th Century Fox serta Walt Disney yang di-dubbing menggunakan bahasa Inggris.

Alkisah seorang profesor muda dan dua putrinya, Satsuki dan Mei, pindah ke daerah pedesaan dengan tujuan agar lebih mudah untuk menjenguk istrinya di rumah sakit. Mereka menempati sebuah rumah yang dekat dengan sebuah pohon besar keramat yang konon dihuni oleh roh penjaga hutan. Suatu ketika, tanpa sengaja Mei masuk ke dalam pohon tersebut dan bertemu dengan makhluk aneh yang ia beri nama Totoro. Satsuki dan Mei pun bersahabat dengan makhluk tersebut. Suatu hari, Mei yang mengetahui penyakit ibunya bertambah parah mendadak menghilang dan Satsuki pun meminta bantuan Totoro untuk mencarinya.

Seperti film anime lazimnya, My Neigbor Totoro berisi unsur fantasi dengan tingkat imaginasi yang tidak bakal kita temui dalam film-film animasi barat. Unsur fantasi tampak menonjol pada karakter-karakter non-manusianya yang berwujud unik. Totoro merupakan mahluk bertubuh besar serta memiliki ciri aneh, yakni berbulu tebal, perut besar, kumis seperti kucing, mata bundar dan kecil, dan telinga serta kaki yang mungil. Wujudnya bisa dibilang separuh lucu separuh menyeramkan terutama jika menyeringai. Satu karakter aneh lagi yang tidak akan pernah kita bayangkan sebelumnya adalah cat bus (bis kucing). Makhluk ini adalah sebuah bis yang berbentuk kucing berkaki sepuluh dan mampu berlari layaknya kucing. Di dalam badannya merupakan interior bis dari bulu tebal termasuk tempat duduk dan jendela. Di malam hari, mata sang kucing berfungsi layaknya lampu bis yang menyorot tajam. Sungguh kreatif dan imajinatif!

Baca Juga  Parasite

Plot film-film karya Miyazaki selalu kental dengan tema keluarga, persahabatan, lingkungan, serta sisi baik dan buruk yang tipis batasannya. My Neigbor Totoro mencakup semua aspek cerita tersebut. Cerita berjalan natural tanpa adanya konflik yang berarti. Tak ada tokoh antagonis dan tak ada pula pertentangan batin para tokohnya. Film ini merupakan sebuah realitas kehidupan sederhana yang dituturkan melalui imaginasi tinggi dengan nilai-nilai spritual yang kental. Secara sederhana, Satsuki dan Mei merupakan simbol dari sifat lugu serta kemurnian jiwa manusia. Sementara Totoro, merupakan metafora esensi alam. Satsuki dan Mei bersahabat dengan Totoro, dan makhluk tersebut pun hanya tampak di mata mereka. Ketika Satsuki dan Mei mengalami masalah maka Totoro pun membantu mereka. Sederhana memang, namun maknanya begitu dalam. Jika kita selaras dengan alam maka alam pun akan senantiasa membantu kita bahkan lebih dari yang kita bayangkan. My Neigbor Totoro bukan hanya sekedar film animasi anak-anak biasa namun lebih dari itu berisi falsafah hidup manusia yang sangat mendasar.

WATCH TRAILER

Artikel SebelumnyaCatatan Laskar Pelangi
Artikel BerikutnyaSekilas Sejarah Anime
His hobby has been watching films since childhood, and he studied film theory and history autodidactically after graduating from architectural studies. He started writing articles and reviewing films in 2006. Due to his experience, the author was drawn to become a teaching staff at the private Television and Film Academy in Yogyakarta, where he taught Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory from 2003 to 2019. His debut film book, "Understanding Film," was published in 2008, which divides film art into narrative and cinematic elements. The second edition of the book, "Understanding Film," was published in 2018. This book has become a favorite reference for film and communication academics throughout Indonesia. He was also involved in writing the Montase Film Bulletin Compilation Book Vol. 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Additionally, he authored the "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). Until now, he continues to write reviews of the latest films at montasefilm.com and is actively involved in all film productions at the Montase Film Community. His short films have received high appreciation at many festivals, both local and international. Recently, his writing was included in the shortlist (top 15) of Best Film Criticism at the 2022 Indonesian Film Festival. From 2022 until now, he has also been a practitioner-lecturer for the Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts in the Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.