NamaMu Kata Pertamaku merupakan film drama yang disutradarai dan ditulis oleh Rere Art2tonic serta diproduseri Hendra Sirajuddin. Film berdurasi 94 menit ini dibintangi oleh Adipati Dolken, Rania Putrisari, serta Bogel Apriansyah. Film ini sederhananya mengisahkan perjuangan seorang tuna wicara untuk bisa berbicara. Sang sutradara mengaku kisahnya terinspirasi dari cerita seorang bocah yang mengalami bisu tuli di Pulau Masadiang, Kec. Menui Kepulauan, Kab. Morowali, Sulawesi Tengah.

Alkisah seorang pria bisu (Adipati Dolken) percaya bahwa melakukan suatu ritual khas di Toraja akan membuat seorang bisu dapat berbicara. Pria tersebut lalu melakukan perjalanan ke sana, namun nasibnya naas. Saat di tempat tujuan, tas beserta seluruh isinya tertinggal di bus. Akhirnya sang pria pun hidup menjadi gelandangan hingga akhirnya ia ditolong Yunus (Bogel), seorang pengurus masjid. Beberapa waktu tinggal di sana, sang pria pun akrab dengan seorang gadis pengurus masjid bernama Nila (Rania), dan ia pun jatuh hati padanya.

Ide cerita bernuansa lokal yang diangkat, sebenarnya menarik dan memiliki potensi untuk dikembangkan lebih jauh, namun latar kisah yang disajikan terlalu lemah. Tradisi Toraja yang mengatakan bahwa orang mati pun dapat dihidupkan kembali, apalagi hanya seorang bisu yang ingin bisa bicara. Di sini tidak tergambar jelas bagaimana sebenarnya tradisi tersebut. Kisahnya sendiri bercampur antara sisi drama romantis dan religi dengan segmen akhir yang rasanya bakal mengecoh penonton dengan satu kejutan di akhir film. Kisah film, sebenarnya hanya menggambarkan bagaimana seseorang cacat (tuli) tidak diterima di masyarakat.

Adipati Dolken merupakan aktor muda yang kini tengah naik daun dan perannya sebagai si bisu, terbilang sangat menjiwai. Kabarnya sang aktor pun mengamati hingga ke sekolah luar biasa hanya untuk mendalami perannya sebagai seorang tunawicara. Namun, ini tidak diimbangi sisi teknisnya yang lemah. Alam Toraja yang begitu indah tak mampu dieksplorasi dengan baik, tidak menjanjikan seperti yang diperlihatkan dalam trailer-nya. Beberapa teknik kamera serta teknik editing juga tampak kurang halus dalam beberapa adegan.

Baca Juga  Silam

Dengan berbekal ide menarik bernapaskan tradisi, namun sayangnya film ini tidak mampu mengembangkan alur cerita dengan baik, serta pula ketidakmapanan teknisnya membuat kualitas filmnya jauh di bawah standar.

Tim Penulis:

Wahyu Sri Palupi Ningsih_Eka Puspita Sari_Muhammad Aryodhia Shofiantoro

 

WATCH TRAILER

PENILAIAN KAMI
Overall
40 %
Artikel SebelumnyaOne Cut of the Dead
Artikel BerikutnyaThe Possession of Hannah Grace
Redaksi Montase
memberikan ulasan serta artikel tentang film yang sifatnya ringan, informatif, mendidik, dan mencerahkan. Kupasan film yang kami tawarkan lebih menekankan pada aspek cerita serta pendekatan sinematik yang ditawarkan sebuah film.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini