Hai sobat Montase, saya mau berbagi cerita tentang awal bulan November di kota Yogya. Apa sih yang terjadi saat itu? Sebelumnya, ini sudah bukan jadi hal baru lagi. Di berita-berita TV dan koran-koran sudah memberitakan hal yang paling hangat pada bulan itu yakni Bencana Gunung Merapi. Akan tetapi yang diberitakan kebanyakan tentang keadaan korban bencana (pengungsi) dan situasi Kota Yogya pada saat itu. Apa yang ketinggalan? Ya benar sekali…. para relawan.

Kebetulan pada saat bencana itu terjadi, saya juga bertugas sebagai salah satu koordinator sebuah Posko Bantuan Merapi di salah satu kampus Broadcasting di kota Yogyakarta. Saya akui Posko yang saya koordinatori termasuk posko kecil dan sederhana akan tetapi itu tak mengurungkan saya dan teman-teman sukarelawan lain untuk punya niat besar dalam membantu saudara-saudara kita yang tertimpa bencana.

Diawali dengan keprihatinan akan saudara-saudara kita yang sedang mengungsi dari amukan merapi, saat itu saya dan teman-teman gabungan para mahasiswa seluruh jurusan bersepakat membuat posko bantuan yang berpusat di kampus kami. Dengan atribut yang seadanya serta dana sosial yang masih terbilang masih di titik nol, akhirnya kami bersepakat untuk membagi menjadi dua tim yaitu Tim Penggalangan Dana Sosial yang turun ke jalan-jalanan kota dan Tim Relawan untuk membantu di tempat pengungsian.

Pada hari itu Tim Penggalang Dana pun turun ke jalanan kota. Dengan berbekal hanya masker dan kotak amal yang bertuliskan “ Peduli Merapi”. Penggalangan dana pun tak selancar yang kita bayangkan, pada saat itu kota Jogja masih di selimuti abu vulkanik dari Gunung Merapi. Dan bukan hanya itu, kami juga harus mengalah dengan para penggalang dana dari posko-posko lain. Setelah seharian berpindah-pindah tempat dari jalanan yang satu dan jalanan lain di kota Yogya, kita pun berhasil mengumpulkan dana yang lumayan sebesar 1,8 juta rupiah.

Baca Juga  Disaster Movies

Setelah penghitungan dana sosial hari pertama, kita pun segera membelanjakan kebutuhan pokok, seperti beras, mie instan, alas tidur, serta obat-obatan. Selain itu kami juga mengumpulkan pakaian-pakaian bekas masih layak pakai. Setelah semuanya terkumpul kami mulai mengantarkan ke beberapa posko pengungsian yang membutuhkan. Sebelum pengiriman kita juga harus melakukan survei ke lokasi yang akan dituju, agar tidak terjadi penumpukan barang-barang logistik yang sering terjadi di posko pengungsian lain. Malam pun menjelang dan barang belanjaan pun di data dan langsung diantar ke beberapa daerah di wilayah Sleman, Yogyakarta.

Untuk teman-teman kami yang menjadi relawan di pengungsian. Mereka membantu dalam pendataan logistik dan pendataan pengungsi yang datang. Selain itu pula di sana kami melakukan sedikit trauma healing untuk meringankan beban psikologis yang dialami para pengungsi yaitu dengan mengadakan pentas musik kecil yang bekerjasama dengan anggota paduan suara kampus kami. Selain itu kami juga mengadakan acara nonton bareng film Laskar Pelangi. Namun sayangnya film yang kami putar ternyata masih terlalu berat untuk menghibur pengungsi saat itu. Saat pemutaran jumlah para pengungsi yang menonton juga sangat sedikit.

Di hari-hari berikutnya kami pun terus melakukan kegiatan untuk menjadi relawan untuk korban-korban bencana Merapi.  Berangkat dari rasa kemanusiaan, keiklasan, dan rasa sosial kami terus bertahan hingga akhir bulan November ketika Gunung Merapi sudah relatif tenang.

Artikel SebelumnyaThe Green Hornet, Komedi Superhero Milik Rogen atau Gondry?
Artikel Berikutnya“Superhero”
memberikan ulasan serta artikel tentang film yang sifatnya ringan, informatif, mendidik, dan mencerahkan. Kupasan film yang kami tawarkan lebih menekankan pada aspek cerita serta pendekatan sinematik yang ditawarkan sebuah film.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.