Perjanjian dengan Iblis (2019)
80 min|N/A|10 Jan 2019
Rating: Metascore: N/A
Annisa married Bara, a widower with a daughter named Lara. Bara takes a picnic to the island that is still rarely visited by tourists, Bengalor Island, so that his wife and child could get ...

Rumah Produksi Pichouse Films yang memproduksi film horor populer, seperti Danur: I Can See Ghost, Danur 2: Maddah, dan Silam, kali ini merilis film genre yang sama, yakni Perjanjian dengan Iblis. Film ini disutradarai oleh Ardy Octaviand dan tercatat baru pertama kalinya menggarap film horor. Beberapa film garapannya lebih sering bergenre komedi, yakni Oh Tidak..!, (2011), 3 Dara (2015), dan Stip & Pencil (2017). Film ini sendiri diperankan oleh aktris populer Shandy Aulia yang sudah tak asing memang bermain dalam film horor. Shandy pun pernah membintangi film horor, seperti Rumah Kentang (2012), Rumah Gurita (2014), Mall Klender (2014), Tarot (2015), dan The Doll (2016). Terakhir, ia bermain di film horor berjudul Rasuk (2018) yang memiliki plot hampir sama dengan film ini. Selain itu, aktris sekaligus mantan putri Indonesia Artika Sari Devi, yang telah lama absen dari dunia seni peran, kembali berakting dalam film ini. Konon kabarnya biaya produksi film ini mencapai 6 miliar. Akankah film ini laris dan booming? Kita tunggu saja.

Film ini bercerita tentang satu keluarga yang berlibur ke sebuah pulau terpencil bernama Belangor. Mereka adalah sepasang suami istri, yakni Bara (Agni Narottama) dan Annisa (Shandy Aulia), serta putrinya, Lara (Basmalah Gralind).  Annisa adalah seorang Ibu tiri dan hubungannya dengan Lara pun tak begitu dekat. Sesampainya di pulau tersebut, mereka disambut oleh penjaga vila bernama Rengganis (Artika Sari Devi). Mereka harus berjalan cukup jauh untuk mencapai vila. Beberapa keanehan pun juga terjadi, hal ini terlihat gangguan selama di vila serta dari sikap warga lokal yang tak bersahabat dan terlihat acuh dengan mereka

Baca Juga  Jelita Sejuba

Di awal film, sang sineas mencoba memukau penonton dengan opening credit-nya yang terbilang unik. Menurut saya, ini adalah momen paling horor dalam filmnya, terlebih musiknya yang sangat mendukung. Dengan footage hitam putih yang menampilkan gambar-gambar aneh, ditambah credit title film yang berwarna merah kontras, semua begitu menyakinkan bahwa kita bakal melihat sesuatu yang berbeda. Ternyata ekspektasi saya keliru. Film ini tak jauh beda dengan film horor kita pada umumnya. Kelemahan film ini, lagi-lagi aspek cerita yang tak digarap matang, terlebih temanya terbilang tak lagi baru. Semenjak Pengabdi Setan (2017) memang banyak bermunculan tema horor serupa di perfilman kita, tak terkecuali film ini.

Plotnya sederhana dan menyimpan sisi misteri. Dengan setting lokasi terbatas di sebuah pulau dan berlatar waktu era 1990-an, memang membuat tone-nya agak berbeda. Sayang, hampir sepanjang film tak ada konflik yang tajam dan terasa kurang gereget. Di awal film, konflik hanya berkutat pada hubungan Lara dan Nissa yang terlihat tak akur, baru setelah sang ayah pergi dan meninggalkan mereka berdua, konflik cerita mulai bergerak. Temponya yang lambat mengikuti kedua tokoh ini sehingga alur cerita terasa begitu datar. Hampir sepanjang film, plotnya hanya mengeksplor teror hantu yang terbilang monoton walau pada akhirnya, ini pula yang membuat hubungan mereka menjadi lebih dekat.

Secara teknis filmnya memang terbilang mapan, namun kisahnya tak sebanding dengan filmnya. Satu hal yang mencuri perhatian adalah penampilan debut akting aktris cilik Lara (Basmalah Gralind). Perannya dominan tetapi ia mampu membawakanb sosok Lara dengan sangat natural dengan dialog-dialog yang tak sedikit pula. Kabarnya, setting film ini menggunakan Pantai Tanjung Lesung yang beberapa waktu yang lalu terdampak tsunami, namun untung proses syutingnya telah selesai. Ditilik dari dana produksi yang begitu besar, rasanya sangat disayangkan pula jika filmnya hanya tergambar begitu sederhana.

WATCH TRAILER

PENILAIAN KAMI
Overall
50 %
Artikel SebelumnyaDreadOut
Artikel BerikutnyaAfter Met You
Agustinus Dwi Nugroho
Agustinus Dwi Nugroho lahir di Temanggung pada 27 Agustus 1990. Ia menempuh pendidikan Program Studi Film sejak tahun 2008 di sebuah akademi komunikasi di Yogyakarta. Di sini ia mulai mengenal lebih dalam soal film, baik dari sisi kajian maupun produksi. Semasa kuliah aktif dalam produksi film pendek baik dokumenter maupun fiksi. Ia juga lulus dengan predikat cum laude serta menjadi lulusan terbaik. Ia mulai masuk Komunitas Film Montase pada tahun 2008, yang kala itu masih fokus pada bidang apresiasi film melalui Buletin Montase, yang saat ini telah berganti menjadi website montasefilm.com. Sejak saat itu, ia mulai aktif menulis ulasan dan artikel film hingga kini. Setelah lulus, ia melanjutkan program sarjana di Jurusan Ilmu Komunikasi di salah satu perguruan tinggi swasta di Jogja. Penelitian tugas akhirnya mengambil tema tentang sinema neorealisme, membandingkan film produksi lokal yang bertema sejenis. Tahun 2017, Ia menyelesaikan studi magisternya di Program Pascasarjana Jurusan Pengkajian Seni di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta dengan minat utama film. Penelitian tesisnya terkait dengan kajian narasi dan plot sebuah film. Saat ini ia berprofesi sebagai dosen lepas di beberapa perguruan tinggi mengampu mata kuliah terkait film, baik kajian maupun produksi. Ia juga aktif memberikan pelatihan, kuliah umum, seminar di beberapa kampus, serta menjadi pemakalah dalam konferensi Internasional.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini