Pirates of the Caribbean: Dead Men Tell No Tales (2017)

129 min|Action, Adventure, Fantasy|26 May 2017
6.5Rating: 6.5 / 10 from 348,319 usersMetascore: 39
Captain Jack Sparrow searches for the Trident of Poseidon to rule the sea while being pursued by old rival Captain Salazar and a crew of deadly ghosts who have escaped from the Devil's Triangle.

Pirates of the Carribean: Salazar’s Revenge adalah seri kelima dari franchise ini yang juga merupakan sekuel keempatnya. Franchise raksasa ini, total telah meraih lebih dari US$ 3,7 milyar secara global sehingga tak ada alasan untuk tidak memproduksi sekuel lanjutannya. Film ini masih dibintangi oleh Johnny Depp, Geoffrey Rush, Kevin McNally, serta bintang-bintang baru, yakni Javier Bardem, Brenton Thwaites, dan Kaya Scodelario. Seri kelimanya ini digarap oleh duo sineas, Joachim Rønning and Espen Sandberg.

Kisahnya kali ini, rasanya lebih tepat jika dikatakan sebagai sekuel dari seri ketiganya. Film ini menyisakan masalah dari kisah film tersebut, melalui tokoh William yang masih menjalani kutukan kapal The Flying Ducthman. Putra Will, Henry, berniat melepaskan kutukan sang ayah menggunakan Trisula Poseidon, dan ia berniat meminta bantuan kolega lama sang ayah, Kapten Jack Sparrow. Di lain pihak, Sparrow diburu oleh musuh lamanya, Kapten Armando Salazar, yang ingin membalaskan dendam karena telah memerangkapnya sekian lama dalam The Devil’s Tiangle.

Satu hal, plotnya jelas tampak sekali memaksa. Contohnya, mengapa Salazar baru mencarinya sekarang setelah sekian lama ia bersikeras mencari Jack. Dengan kemampuan dan kekuatannya, ia bisa membantai siapa saja yang merintangi jalannya. Namun, memaksa? Mengapa tidak? Tuntutan pasar jawabnya. Tidak ada untungnya membahas ini. Satu hal yang menarik adalah film pertamanya (The Curse of the Black Pearl) adalah film dari serinya yang paling diapresiasi tinggi oleh pengamat. Tiga film sekuelnya dianggap terlalu absurd untuk penonton awam, sekalipun sukses komersial gila-gilaan. Filmnya kali ini boleh dibilang adalah “remake” dari film pertamanya melalui penggunaan elemen plot yang serupa. Contohnya saja, tokoh Henry dan Carina, adalah versi muda Will dan Elizabeth. Nyaris seluruh plot, khususnya separuh akhir filmnya mirip dengan alur kisah Black Pearl. Hanya saja, sajian efek visualnya kini lebih “wah” dari sebelumnya.

Baca Juga  Amsterdam

Johhny Depp masih menjadi man of the macth dengan memainkan salah satu karakter ikonik dalam sejarah industri film modern. Setelah sekian tahun, baik akting maupun fisik, Depp masih saja konsisten menjalani perannya sebagai kapten gila yang slengekan. Walau aksi dan bicaranya konyol dan hanya mengandalkan keberuntungan semata, namun tokoh ini tidak jarang melepaskan guyonan lucu dengan gaya selera humor Jack yang khas. Brenton Thwaites dan Kaya Scodelario memiliki chemistry yang cukup layaknya tokoh Will dan Elizabeth. Sementara dua aktor senior, Rush dan Bardem, tak ada yang istimewa dari penampilan mereka selain nama besar mereka. Momen dramatis tokoh Barbossa di penghujung segmen klimaks memberi sedikit nuansa hangat yang sebelumnya tak ada di seri ini.

Pirates of the Carribean: Salazar’s Revenge kembali menggunakan roh seri pertamanya dengan segala atributnya melalui pencapaian CGI-nya yang sangat mengesankan. Tak ada kejutan, namun harus diakui film ini adalah sebuah tontonan yang menghibur. Pencapaian visual di segmen klimaks boleh jadi adalah salah satu pencapaian CGI terbaik yang pernah ada. Dengan aksi-aksinya yang memesona tak ada keraguan film ini bakal meraih sukses komersial seperti sebelumnya. Sekuel? Tak ada keraguan untuk tidak memproduksi kisah lanjutannya walau para pengamat film pasti sudah jenuh dengan seri ini.
WATCH TRAILER

PENILAIAN KAMI
Overall
70 %
Artikel SebelumnyaZiarah
Artikel BerikutnyaJames Bond – Roger Moore, Tutup Usia
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.