Artikel diterbitkan pertama kali: 2 Juli 2015

    Marvel Cinematic Universe (MCU) bisa dianggap sebagai pencapaian fantastis dalam sejarah sinema. Satu hal yang tidak mudah merangkai film demi film menjadi satu kontinuitas besar dengan pengembangan masalah dan konflik yang lebih luas. Tidak hanya layar lebar namun juga hingga serial televisi. Marvel Studios sejauh ini telah melakukan tugasnya dengan gemilang namun dengan semakin banyak munculnya karakter baru dan sekuel demi sekuel tidakkah ini akan membunuh MCU sendiri? Kisah yang demikian kompleks mengikat belasan bahkan kelak puluhan karakter superhero dalam satu rantai naratif, pertanyaan besarnya, sampai kapan Marvel Studios mampu menjaga keseimbangan cerita?

fase-1-&-2-a
MARVELS Cinematic Universe Viewing Order

     Marvel Studios menggunakan fase atau tahapan dalam membangun MCU dan ada tiga fase yang direncanakan. Fase pertama adalah Iron Man (2008), The Incredible Hulk (2008), Iron Man 2 (2010), Thor (2011), Captain America: First Avenger (2011), dan Marvel’s The Avengers (2012). Empat kisah perdana superhero ditampilkan disini, Iron Man mendapat satu sekuel karena Tony Stark adalah satu karakter terpenting pada fase ini dalam membangun MCU selain SHIELD. Semua superhero tersebut memiliki latar belakang yang unik dan memiliki masalahnya masing-masing. Black Widow telah muncul di Iron Man 2 dan Hawkeye muncul di Thor, namun kita belum melihat sebuah kontinuitas yang cukup kompleks hingga Marvel’s Avengers merubah segalanya.

     Baru kali ini publik dapat melihat beragam karakter superhero besar berkumpul dalam satu film. Publik menggila dan Marvel’s The Avengers meraih pendapatan kotor hingga lebih dari US$1.5 milyar! Naskahnya dengan brilyan mampu merangkai enam karakter superhero unik tersebut secara seimbang plus bumbu selera humor yang tinggi. Sekuen aksi tak perlu dibahas disini karena apalagi yang mau ditawarkan genre superhero selain aksi dan efek visual. Marvel’s The Avengers melakukan segalanya dengan sempurna dan publik meresponnya dengan sangat baik.

Baca Juga  Teluh Darah, Sebuah Remake Tulen Ratu Ilmu Hitam dengan Segala Keabsurdan Kisahnya

     Situasi semakin kompleks dalam fase kedua MCU. Fase Kedua diawali oleh Iron Man 3 (2013), Thor: The Dark World (2013), Captain America: The Winter Soldier (2014), Guardians of The Galaxy (2014), Avengers: Age of Ultron (2015), dan Ant-Man (2015). Ant-Man baru akan rilis bulan Juli ini. Kita kesampingkan dulu Guardians dan Ant-Man. Pola yang sama digunakan Marvel seperti fase pertama, Iron Man, Thor, dan Captain America masing-masing mendapat satu sekuel sebelum semuanya berkumpul dalam Ultron. Marvel berhasil menetapkan standar baru genre superhero dan meletakkan batasan yang sangat tinggi. Kecuali Thor 2, Iron Man 3 dan Captain America 2 membuat warna baru dalam MCU. Iron Man 3 adalah cikal bakal plot Ultron dan Captain America 2 bicara tentang keruntuhan SHIELD. Semuanya ini yang membuat Ultron menjadi berbeda dengan Avengers dan kembali genre superhero memasuki wilayah baru yang belum pernah dicapai sebelumnya. Beberapa superhero baru muncul, Quick Silver, Scarlett Witch, dan Vision. Seperti halnya Avengers, naskahnya masih mampu menjaga keseimbangan tiap tokohnya namun problem muncul dalam kompleksitas cerita.

Halaman Berikutnya: Next Fase 2 MCU

1
2
3
Artikel SebelumnyaTrailer “Summer Movies” Terbaru
Artikel BerikutnyaGringo
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). A lifelong cinephile, he developed a profound passion for film from an early age. After completing his studies in architecture, he embarked on an independent journey exploring film theory and history. His enthusiasm for cinema took tangible form in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience eventually led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched students’ understanding through courses such as Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended well beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, Understanding Film, an in-depth examination of the essential elements of cinema, both narrative and visual. The book’s enduring significance is reflected in its second edition, released in 2018, which has since become a cornerstone reference for film and communication scholars across Indonesia. His contributions to the field also encompass collaborative and editorial efforts. He participated in the compilation of Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1–3 and 30 Best-Selling Indonesian Films 2012–2018. Further establishing his authority, he authored Horror Film Book: From Caligari to Hereditary (2023) and Indonesian Horror Film: Rising from the Grave (2023). His passion for cinema remains as vibrant as ever. He continues to offer insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com while actively engaging in film production with the Montase Film Community. His short films have received critical acclaim at numerous festivals, both nationally and internationally. In recognition of his outstanding contribution to film criticism, his writing was shortlisted for years in a row for Best Film Criticism at the 2021-2024 Indonesian Film Festival. His dedication to the discipline endures, as he currently serves as a practitioner-lecturer in Film Criticism and Film Theory at the Indonesian Institute of the Arts Yogyakarta, under the Independent Practitioner Program from 2022-2024.

2 TANGGAPAN

  1. Melihat tipe film yang menggabungkan berbagai film dalam satu universe ini, saya jadi ingat tentang pixar theory. Waktu pertama kali membaca teori itu, meskipun ada kemungkinan-kemungkinan salahnya, tetap saja saya merasa takjub dengan ide cerita yang luar biasa dari Pixar. Dan sekarang, Marvel memberikan pertunjukan yang lebih luar biasa, karena yang disatukan adalah universe-nya para superhero. Ada banyak pro kontra tentang filmnya, tapi saya rasa kita sepakat satu hal: kita beruntung sempat menyaksikan (dan dibuat penasaran) oleh Marvel Saga di sini. 🙂

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses