PSP: Gaya Mahasiswa (2019)
96 min|N/A|31 Jan 2019
Rating: Metascore: N/A
Monos, Rojali, Ade, Andra, Adit, Dindin, James, and Omen are students who are crazy, ignorant, but cool in music and are members of the OM Pancaran Sinar Petromaks (PSP). They are always ...

PSP: Gaya Mahasiswa merupakan adaptasi dari film lawas berjudul Manis Manis Sombong (1980) yang diperankan oleh personil PSP dan Lydia Kandou. Dalam film “reborn”-nya kali ini, PSP : Gaya Mahasiswa ditulis dan disutradarai oleh Hilman Mutasi dan digarap dengan versi milenial yang cukup menghibur. Film ini diproduksi oleh Max Picture untuk mengenang sekaligus mengenalkan pada generasi milenial, grup musik keroncong humor, Orkes Moral Pancaran Sinar Petromaks (OM PSP) yang dulu pernah berjaya pada era 1970-1980-an. Film ini diperankan oleh pemain-pemain muda, seperti Uus sebagai Dindin, David Schaap sebagai Andara, Dimas Danang sebagai James, Boris Bokir sebagai Rojali, Imam Darto sebagai Monos, Abdur sebagai Ade, Wira Negara sebagai Adit, dan Adjis sebagai Omen.

Bercerita tentang delapan personil PSP yang super jahil dan gemar membuat onar di kampus. Film ini membagi kisah mereka menjadi tiga grup pertemanan, yaitu Dindin, Adit, dan Andra yang jahil dan pembuat onar, kemudian Ade, Rojali dan Monos yang mata keranjang dan ingin segera mendapatkan pacar, dan terakhir, Omen dan James yang merupakan cerminan anak baik-baik yang sibuk mencarikan personil PSP job untuk manggung. Di sela-sela kesibukan, mendadak Euis, putri dari satpam kampus, dijambret dan terbaring kritis di rumah sakit. Tak bisa membiarkan hal tersebut, kedelapan personil PSP bekerja sama untuk mencari tahu siapa sebenarnya pelaku penjambretan tersebut.

Baca Juga  Di Timur Matahari, Impian Dari Timur Yang Belum Tercapai

Penceritaan film ini cukup unik, dibagi menjadi tiga kisah (kelompok) dengan masalahnya masing-masing yang kemudian terfokus menjadi satu masalah besar. Sayangnya, film ini memiliki kelemahan dalam penceritaannya karena banyak adegan yang dirasa janggal dan logika cerita yang dibangun pun kurang masuk akal. Seperti adegan mahasiswa panitia dies natalis yang mudah dikelabui lalu juga anggota PSP yang tinggal di kontrakan begitu mewah, namun seolah mereka tampak seperti mahasiswa kesusahan yang dipertegas melalui dialog antar tokohnya. Konflik yang dibangun pun seakan dipaksakan dan tidak dieksplor lebih dalam. Semua ini membuat filmnya berjalan datar. Sisi komedi yang menjadi sajian utama juga tak banyak membantu mengangkat filmnya. Sisi humornya sebagian besar membosankan, memaksa, dan tak mampu memicu gelak tawa penonton di dalam bioskop.

Sekalipun begitu, para pemain sebenarnya telah berusaha maksimal memerankan peran mereka sesuai dengan ekspektasi dan porsinya melalui tingkah polah yang jenaka. Secara teknis, film juga telah menyuguhkan sisi visual yang mapan, meskipun beberapa kali terlihat gambar yang kabur (blur) pada adegan tertentu. Satu yang menjadi andalah adalah lagu dan musik lawasnya yang khas. Beberapa nomor lawas PSP dilantunkan begitu mengasyikkan dan mampu mendukung adegannya dengan pas sehingga mampu membuat penonton terhanyut. Lagu dan musiknya tentu mampu membawa nostalgia bagi penonton dewasa yang menikmati lagu-lagu mereka jaman dahulu.

Agustin Primastuti

WATCH TRAILER

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini