Shy Shy Cat merupakan sebuah film bergenre drama komedi besutan sutradara Monty Tiwa yang popular dengan karya-karyanya seperi Keramat (2009), Laskar Pemimpi (2011), dan Raksasa Dari Jogja (2016). Film ini bercerita tentang tiga orang sahabat, yaitu Mira (Nirina Zubir), Jessy (Acha Septriasa), dan Umi (Tika Bravani) yang memiliki background dan kesibukannya masing-masing. Cerita berawal dari ulang tahun Mira yang ke-30 tahun. Umur tersebut membawa Mira teringat akan masa lalunya sewaktu ia kecil, bahwa Mira akan dijodohkann dengan Otoy (Fedi Nuril) temannya sewaktu kecil. Sewaktu Mira dan Otoy masih kecil, Ayah mereka telah membuat perjanjian untuk menjodohkan mereka walaupun Mira membenci Otoy. Momen ini membawa Mira pulang ke desanya dengan kedua sahabatnya. Namun, setelah bertemu Otoy semuanya menjadi berubah.

     Plot filmnya terfokus pada bagaimana kedekatan ketiga tokohnya, Mira, Jessy, dan Umi. Desa Sidang Barang yang asri dan bernuansa lokal membatasi ruang gerak serta interaksi mereka dengan warga semakin mendukung kedekatan tersebut. Konflik mulai muncul ketika mereka bertemu Otoy. Sosok sang pemuda sangat berbeda dengan bayangan mereka. Wajahnya yang rupawan  membuat Jessy dan Umi pun terpesona dengan sosok Otoy bahkan berusaha untuk mencuri hatinya. Setelahnya sepanjang film memperlihatkan bagaimana ketiganya berinteraksi dengan sang pemuda. Tempo filmnya yang cepat membuat cerita bergerak dinamis namun kurang mampu mengolah kedalaman cerita. Hanya persoalan utama menjadi teralihkan ketika muncul masalah di padepokan milik ayah Mira.

     Kekuatan film ini terletak pada ketiga aktris utamanya. Akting mereka natural, konyol, mampu menggerakkan cerita dan mendukung unsur komedinya. Aksi-aksi Jessy dan Umi ketika berhadapan dengan Otoy, seringkali membuat seisi bioskop meledak tawanya. Dialek sunda dalam dialog-dialognya juga mendukung nuansa lokal film ini. Salah satu teknik unik, menembus tembok keempat digunakan ketika di awal Mira berbicara dengan penonton sebagai bentuk penyampaian informasi. Setting berupa desa yang asri dengan pemandangan yang masih alami sangat mendukung suasana dalam membangun plot filmnya. Editing Jump Cut juga sering dipakai terkesan ingin menunjukkan tempo film yang berjalan cepat namun teknik ini kadang malah terasa agak mengganggu. Film ini memiliki pesan yang sederhana tentang persahabatan. Momen di Sindang Barang menjadi ujian bagi persahabatan mereka namun mereka mampu menyelesaikannya dengan cara mereka sendiri.

Baca Juga  The Perfect House

WATCH TRAILER

PENILAIAN KAMI
Overall
60 %
Artikel SebelumnyaHacksaw Ridge
Artikel BerikutnyaTerpana
Agustinus Dwi Nugroho lahir di Temanggung pada 27 Agustus 1990. Ia menempuh pendidikan Program Studi Film sejak tahun 2008 di sebuah akademi komunikasi di Yogyakarta. Di sinilah, ia mulai mengenal lebih dalam soal film, baik dari sisi kajian maupun produksi. Semasa kuliah aktif dalam produksi film pendek baik dokumenter maupun fiksi. Ia juga lulus dengan predikat cum laude serta menjadi lulusan terbaik. Ia mulai masuk Komunitas Film Montase pada tahun 2008, yang kala itu masih fokus pada bidang apresiasi film melalui Buletin Montase, yang saat ini telah berganti menjadi website montasefilm.com. Sejak saat itu, ia mulai aktif menulis ulasan dan artikel film hingga kini. Setelah lulus, ia melanjutkan program sarjana di Jurusan Ilmu Komunikasi di salah satu perguruan tinggi swasta di Jogja. Penelitian tugas akhirnya mengambil tema tentang Sinema Neorealisme dan membandingkan film produksi lokal yang bertema sejenis. Tahun 2017, Ia menyelesaikan studi magisternya di Program Pascasarjana Jurusan Pengkajian Seni di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta dengan minat utama film. Penelitian tesisnya terkait dengan kajian narasi dan plot sebuah film. Saat ini, ia tercatat sebagai salah satu staf pengajar di Program Studi Film dan Televisi, ISI Yogyakarta mengampu mata kuliah teori, sejarah, serta kajian film. Ia juga aktif memberikan pelatihan, kuliah umum, seminar di beberapa kampus, serta menjadi pemakalah dalam konferensi Internasional. Biodata lengkap bisa dilihat dalam situs montase.org. Prestasi besar terakhirnya adalah menjadi nominator Festival Film Indonesia 2021 untuk kategori Kritikus Film Terbaik melalui artikel "Asih, Cermin Horor Indonesia Kontemporer" bersama rekan penulisnya, Miftachul Arifin.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.