Suzzanna: Bernapas dalam Kubur (2018)
N/A|N/A|15 Nov 2018
Rating: Metascore: N/A
N/A

Suzzanna: Bernapas dalam Kubur adalah film garapan dua sutradara, Rocky Soraya dan Anggy Umbara. Film ini dirilis pada 15 November 2018 serta berdurasi 125 menit. Film horor tribut untuk legenda horor Suzzanna ini dibintangi  Luna Maya, Herjunot Ali, Clift Sangra, Teuku Rifnu Wikana, Alex Abbad, Asri Welas, Opie Kumis, serta Ence Bagus. Film ini bukanlah remake dari film Sundel Bolong (1981) yang pernah dibintangi Suzzanna tapi merupakan gabungan dari beberapa judul lainnya, seperti Beranak dalam Kubur (1970) dan Bernafas dalam Lumpur (1971). Konon waktu yang dibutuhkan untuk produksi film ini memakan waktu 52 hari dan draft pertama film berdurasi hingga 4,5 jam dan 70% diantaranya adalah hasil reshoot yang dilakukan oleh Rocky Soraya.

Suzzanna: Bernapas dalam Kubur bercerita tentang Suzzanna (Luna Maya) dan Satria (Herjunot Ali) yang sudah lama menikah, namun belum dikarunia keturunan. Satria adalah sosok suami yang agamis dan selalu membimbing Suzzanna untuk taat beragama. Suatu hari, Jonal (Verdi Solaiman) dan Umar (Teuku Rifnu Wikana) meminta kenaikan gaji kepada manajer tempat mereka bekerja, yang tak lain adalah Satria. Namun, permintaan mereka ditolak. Dengan rasa kecewa, akhirnya Jonal dan Umar mengajak Dudun (Alex Abbad) serta Gino (Kiki Narendra) untuk merencanakan perampokan di rumah Satria. Misi perampokan awalnya hanya mengambil mobil saat Suzzanna dan para pembantunya keluar untuk melihat layar tancap. Di saat yang sama, Satria mendapat tugas dinas ke Jepang dari atasannya. Tanpa disadari, Suzzanna memergoki aksi Jonal dan kawan-kawan. Secara tak sengaja, istri muda tersebut tewas oleh mereka. Suzzanna yang bangkit kembali, berusaha membalas dendam kematian dirinya dan bayi yang dikandungnya.

Secara plot, film ini mampu membangun suasana horor yang baru dan berbeda dengan formula film horor di Indonesia pada umumnya. Alur yang dibangun dalam film ini benar-benar menegangkan dan menyeramkan. Kita tahu persis sang hantu bakal beraksi untuk membunuh para penjahat, namun bagaimana mereka dibunuh dikemas secara perlahan dengan cara yang tak diduga. Adegannya selalu selalu membuat penasaran dan mempermainkan penonton sedemikian rupa dengan cara yang berkelas. Tak banyak jump scare layaknya film horor modern kini. Hanya sedikit permainan shot dan efek suara mampu tapi mampu membuat penonton bergidik ketakutan. Namun, kisahnya sedikit menurun tensinya ketika sang suami pulang. Alur mulai melambat dan sedikit mengurangi kesan seram yang dibangun sejak awal. Hal ini cukup disayangkan karena sosok Suzanna yang magis dan misterius mendadak memudar.

Baca Juga  Indonesian "New Wave"?

Akting Luna Maya sebagai Suzzanna sangat berhasil. Bahkan penjiwaan, gestur, mimik wajah, gaya bicara, hingga desahan mendekati alm. Suzzanna. Akting bagus Luna Maya pun juga didukung tata rias dan make up karakter yang ciamik. Bahkan Sunil Soraya selaku produser, merekrut penata rias prostetik dari Rusia, yakni Tatiana Melkomova dan Peter Gorshenin. Konon butuh waktu 3 jam untuk meghidupkan kembali sosok Suzzanna dan make-up hanya bertahan selama 12 jam saja. Akting para pemeran pendukung lainnya, khususnya Alex Abbad sangat mencuri perhatian penonton. Ia bermain sangat memukau dan begitu menjiwai sebagai sosok Dudun yang penakut. Sementara tercatat para pemeran lain, seperti Asri Welas (Mia), Opie Kumis (Rojali), dan Ence Bagus (Tohir) mampu berperan sangat baik menjadi “bumbu komedi” melalui aksi serta banyolan mereka. Sayang disayangkan, mereka tak hadir sepanjang filmnya karena setelah mereka pergi, kisahnya terasa ada yang kurang.

Setting tahun akhir 1980-an yang dibangun dalam film juga disajikan tidak setengah-setengah. Uniknya, film ini juga menggambarkan segmen layar tancap yang populer di era ini, dan secara jelas memutarkan film orisinal yang dibintangi Suzzana. Sebagian film ini berlokasi di rumah tinggal dengan interior dan properti  yang meyakinkan, serta tampak pula busana serta juga make-up yang dipakai oleh para pemain. Seperti busana Suzzanna yang mengenakan dres warna tosca dengan dipadukan tas slempang coklat dan riasan yang khas tahun 1980-an. Seperti kebanyakan film di genrenya, ilustrasi musik yang digunakan disajikan baik untuk menambah unsur ketegangan walau terasa bernuansa barat dengan beberapa musik dialunkan oleh paduan suara.

Suzzana : Bernapas dalam Kubur tidak hanya merupakan tribute yang segar untuk film-film asli Suzzanna, namun juga menyajikan sebuah horor berkualitas melalui pemain, pengadeganan, semua aspek estetiknya, hingga bumbu komedi. Tidak seperti film-film asli yang dibintangi sang bintang, film ini tidak berusaha menggurui penonton melalui pesan dakwah yang kuat. Juga unsur sadistik yang lumayan brutal membuat film ini jelas mengurangi segmen penontonnya. Film ini bersama film-film horor berkualitas lainnya, lagi-lagi mampu memberikan standar tinggi untuk film horor produksi kita. Pembuat film lain, diharapkan tentunya akan semakin berhati-hati memproduksi film genre yang tengah naik daun ini. Tak ada keraguan, sepertinya film ini bakal laris manis di pasaran.

Tim Penulis: Purwoko Ajie – Wahyu Sri Palupi Ningsih – Eka Puspita Sari

WATCH TRAILER

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini