Tujuh Bidadari (2018)
90 min|N/A|01 Nov 2018
Rating: Metascore: N/A
N/A

Tujuh Bidadari adalah film bergenre horor thriller berdurasi 90 menit yang disutradarai oleh Muhammad Yusuf. Sebelumnya, Yusuf juga telah memproduksi film bergenre sama, seperti Tebus (2011), Kemasukan Setan (2013), Angker (2014), Misterius (2015), serta The Curse (2017). Film ini diproduksi oleh studio Triple A Films dan diproduseri oleh Resika Tikoalu, produser asal Australia. Seperti halnya The Curse, Tujuh Bidadari menjadi film kedua sang sineas yang menggunakan lokasi setting di Australia, di sebuah bangunan bekas rumah sakit jiwa Aradale Lunatic Asylum, yang konon untuk pertama kalinya digunakan sebagai lokasi shooting film.

Film ini mengambil lokasi di beberapa kota, tepatnya di negara bagian Victoria, seperti Melbourne, Ararat, dan Ballarat. Aradale Lunatic Asylum Centre sendiri berlokasi di Ararat. Bangunan ini telah berdiri lebih dari 100 tahun dan terakhir beroperasi pada tahun 1998. Konon katanya, di lokasi ini setidaknya 10.000 pasien meninggal dunia. Tempat ini menyimpan banyak misteri dan kesedihan dalam sejarahnya. Sempat juga menjadi kampus politeknik Melbourne tahun 2001 dengan nama NMIT. Hingga kini, tempat tersebut terkenal sebagai salah satu tempat terseram di Australia. Bahkan kini, bekas rumah sakit jiwa tersebut dirancang untuk tur horor bagi pengunjung yang ingin melihat kengerian lokasinya.

Film ini berkisah tentang grup Tujuh Bidadari (Seven Angels), grup musik perempuan ternama asal Indonesia yang beranggotakan Stella (Dara Warganegara), Carla (Gabriella Desta), Dian (Lia Waode), Anggun (Salini Rengganis), Amy (Adeayu Sudrajat), Tari (Camelia Putri), dan Mika (Brigitta Cynthia). Mereka kini tengah berlibur singkat ke Melbourne sekaligus mencari lokasi untuk pembuatan video clip mereka. Suatu ketika, mereka datang ke sebuah cafe dan menikmati lagu yang dibawakan oleh Mark Moore, seseorang penyanyi lokal tampan yang membuat hati para gadis-gadis itu terkesima. Mereka tertarik dengan Mark dan akhirnya mereka berkenalan dengan penyanyi tampan itu. Mark lalu menawarkan sebuah liburan yang menantang dengan mengajak mereka ke sebuah rumah sakit jiwa angker. Mereka kesana dan mengalami kejadian tak terduga. Di tengah keadaan genting penuh keanehan, mulai terkuak satu per satu rahasia di balik tembok tebal yang telah ada sejak tahun 1866 tersebut.

Baca Juga  Athirah

Kisah film ini sebenarnya menarik, namun sejak awal kisahnya, motif latar kisahnya sudah tampak lemah serta terdapat beberapa kejanggalan pada plotnya. Tentu satu hal yang aneh ketika mereka mudah sekali menerima tawaran dari seseorang yang belum lama mereka kenal. Sebuah grup musik, terlebih yang populer, tentu identik dengan manajer. Aneh sekali jika tidak ada manajer yang mengurus girlband tersebut. Secara keseluruhan, Tujuh Bidadari hanya berkutat pada permukaan tanpa mengolah kedalaman cerita sehingga plotnya kurang menggigit. Walaupun dibuka dengan cukup baik pada 15 menit awal hingga membuat kita berekspektasi lebih, namun pada perkembangan cerita, kejanggalan di atas serta pola yang monoton membuat penonton kecewa.

Unsur ketegangan yang dibangun melalui adegan teror pembunuhan menjadi sajian utama dalam kisahnya. Unsur pemilihan waktu cerita justru menjadi hal yang paling mengganjal. Tak ada yang salah memang menggunakan waktu cerita pada siang hari, toh ini adalah pilihan, tapi tetap saja terasa aneh. Bayangkan saja, hantu lazimnya (setidaknya di film) akan meneror pada malam hari, tapi ini sebaliknya sehingga kesan horor kurang memberikan efek menyeramkan kepada penonton. Adegan demi adegan yang dibangun pun terasa datar sehingga klimaks di penghujung terasa kurang dramatis.

Tujuh Bidadari patut kita acungi jempol karena berani menggunakan lokasi asli bangunan Aradale Lunatic Asylum. Lokasi bangunan yang sebenarnya begitu luas, sebenarnya dapat digambarkan lebih baik karena setting-nya memang sudah menyeramkan dan cerita horor sungguh-sungguh terjadi. Sebetulnya. Walau banyak menggunakan shot cenderung statis tapi sang sutradara telah mencoba mengeksplor ruang demi ruang. Shot memutar 360 derajat beberapa kali digunakan untuk menambah unsur ketegangan dan suspense. Para pemain yang masih pendatang baru masih terlihat sangat kaku, dan sering kali tampak “terlambat” dalam merespon teror-teror tersebut. Sosok hantu yang digambarkan pun juga kurang menyeramkan ditambah tata suara yang menjadi andalan genre horor juga kurang digarap secara baik.

Di luar banyak kelemahannya, keberanian sutradara dalam membuat cerita horor di luar negeri tentu menjadi warna baru dalam perfilman kita. Film dengan cerita dan setting rumah sakit juga baru-baru ini dirilis, yakni Hailstaiten Haunted Hospital (2018/Jerman) dan Gonjiam Haunted Asylum (2018/Korea Selatan). Semoga film horor kita ke depannya bisa lebih baik tanpa harus menggunakan formula film-film yang telah ada.

Tim Penulis: Purwoko Ajie – Wahyu Sri Palupi Ningsih – Eka Puspita Sari

 

WATCH TRAILER

PENILAIAN KAMI
Overall
40 %
Artikel SebelumnyaThe Nutcracker and the Four Realms
Artikel BerikutnyaThe Night Comes for Us
Redaksi Montase
memberikan ulasan serta artikel tentang film yang sifatnya ringan, informatif, mendidik, dan mencerahkan. Kupasan film yang kami tawarkan lebih menekankan pada aspek cerita serta pendekatan sinematik yang ditawarkan sebuah film.

2 TANGGAPAN

  1. Untuk sebuah film bergenre horror, film ini lebih berani dalam banyak hal, ketimbang film horror lainnya, dalam artian yang baik. Menurut saya, yang menjadi keunggulan tersendiri adalah judul film yang cukup menarik impresi. Nice one

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini