The Night Comes for Us (2018)
121 min|Action, Crime, Thriller|19 Oct 2018
6.9Rating: 6.9 / 10 from 29,144 usersMetascore: 69
Ito, a gangland enforcer, is caught amidst a treacherous and violent insurrection within his Triad crime family upon his return home from a stint abroad.

The Night Comes for Us adalah film aksi garapan Timo Tjahjanto yang didistribusi terbatas secara internasional melalui Netflix. Bermain dalam film ini adalah sederetan bintang ternama kita, sebut saja Joe Taslim, Iko Uwais, Julia Estelle, Abimana Aryasatya, Dian Sastrowardoyo, Hannah Al Rashid, Shareefa Daanish, hingga Sunny Pang. Siapa sangka, The Raid yang aksi-aksinya begitu brutal, terlihat seperti film anak-anak jika dibandingkan dengan film ini.

Ito (Taslim) adalah salah satu dari seorang member elit sebuah triad yang sangat ditakuti di Asia yang bernama sixth seas. Ito diutus untuk menghabisi seluruh warga kampung karena telah mencuri uang triad. Ketika hanya bersisa seorang gadis cilik, tiba-tiba nurani Ito muncul dan ia pun menolongnya dengan menghabisi rekan-rekannya sendiri. Sejak momen inilah, Ito dan sang gadis menjadi target buruan utama triad yang mengerahkan semua aset mereka serta member elit lainnya, termasuk sahabat lamanya, Arian (Uwais).

Kisahnya sederhana dan gamblang. Cari dan bunuh! Persis seperti The Raid, plot bukanlah yang utama tapi adalah aksi-aksi brutalnya. Persis seperti The Raid pula, banyak hal yang mengabaikan logika diumbar begitu saja semata hanya untuk memaksa aksi. Iya benar Ito bertobat dan lalu membelot, namun apa semua usaha dari triad tersebut sepadan? Ito jelas target utamanya, namun seolah gadis cilik tersebut tampak begitu penting dan harus dilindungi seolah ia putri presiden. Semuanya berjalan serba cepat dan kadang kita tak tahu, mana lawan mana kawan. Pada penghujung cerita, akhirnya kita tahu, semua ini hanya untuk mengarah ke satu pertarungan klimaks paling sadis dan brutal dalam sejarah sinema.

Baca Juga  The Conductors, Musik sebagai Pemersatu Bangsa

Satu pertanyaan kecil saja. Setelah seseorang ditembak di perut, dipukul dan dibenturkan begitu rupa seluruh tubuhnya, disayat, dan ditusuk benda tajam di badan dan wajah melawan puluhan orang yang terlatih membunuh nyaris seharian, seberapa besar sih daya tahan tubuh manusia untuk bisa hidup begitu lama?

Salah satu film paling sadis dan brutal yang pernah diproduksi, The Night Comes for Us adalah film aksi hanya khusus untuk penikmat genrenya. Tak bisa dipungkiri, sang sutradara jelas mampu menunjukkan kepiawaiannya dalam menyajikan aksi seperti ini. Tak kalah dengan The Raid dan sekuelnya, garapan Gareth Evans. Saya tak ingin memuji atau mengkritik. Siapa pun pasti bangga, film kita bisa bersaing dan diapresiasi baik oleh penonton dan kritikus luar. Saya pecinta film genre aksi tapi bukan film ultra-brutal tak masuk akal seperti ini. Sedih rasanya jika film kita seperti ini yang bakal dikenang dan masuk dalam catatan sejarah perfilman dunia.

WATCH TRAILER

PENILAIAN KAMI
Overall
30 %
Artikel SebelumnyaTujuh Bidadari
Artikel BerikutnyaOverlord
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.