The Night Comes for Us (2018)
121 min|Action, Thriller|19 Oct 2018
7.0Rating: 7.0 / 10 from 18,112 usersMetascore: 69
Ito, a gangland enforcer, caught amidst a treacherous and violent insurrection within his Triad crime family upon his return home from a stint abroad.

The Night Comes for Us adalah film aksi garapan Timo Tjahjanto yang didistribusi terbatas secara internasional melalui Netflix. Bermain dalam film ini adalah sederetan bintang ternama kita, sebut saja Joe Taslim, Iko Uwais, Julia Estelle, Abimana Aryasatya, Dian Sastrowardoyo, Hannah Al Rashid, Shareefa Daanish, hingga Sunny Pang. Siapa sangka, The Raid yang aksi-aksinya begitu brutal, terlihat seperti film anak-anak jika dibandingkan dengan film ini.

Ito (Taslim) adalah salah satu dari seorang member elit sebuah triad yang sangat ditakuti di Asia yang bernama sixth seas. Ito diutus untuk menghabisi seluruh warga kampung karena telah mencuri uang triad. Ketika hanya bersisa seorang gadis cilik, tiba-tiba nurani Ito muncul dan ia pun menolongnya dengan menghabisi rekan-rekannya sendiri. Sejak momen inilah, Ito dan sang gadis menjadi target buruan utama triad yang mengerahkan semua aset mereka serta member elit lainnya, termasuk sahabat lamanya, Arian (Uwais).

Kisahnya sederhana dan gamblang. Cari dan bunuh! Persis seperti The Raid, plot bukanlah yang utama tapi adalah aksi-aksi brutalnya. Persis seperti The Raid pula, banyak hal yang mengabaikan logika diumbar begitu saja semata hanya untuk memaksa aksi. Iya benar Ito bertobat dan lalu membelot, namun apa semua usaha dari triad tersebut sepadan? Ito jelas target utamanya, namun seolah gadis cilik tersebut tampak begitu penting dan harus dilindungi seolah ia putri presiden. Semuanya berjalan serba cepat dan kadang kita tak tahu, mana lawan mana kawan. Pada penghujung cerita, akhirnya kita tahu, semua ini hanya untuk mengarah ke satu pertarungan klimaks paling sadis dan brutal dalam sejarah sinema.

Baca Juga  Bisikan Iblis

Satu pertanyaan kecil saja. Setelah seseorang ditembak di perut, dipukul dan dibenturkan begitu rupa seluruh tubuhnya, disayat, dan ditusuk benda tajam di badan dan wajah melawan puluhan orang yang terlatih membunuh nyaris seharian, seberapa besar sih daya tahan tubuh manusia untuk bisa hidup begitu lama?

Salah satu film paling sadis dan brutal yang pernah diproduksi, The Night Comes for Us adalah film aksi hanya khusus untuk penikmat genrenya. Tak bisa dipungkiri, sang sutradara jelas mampu menunjukkan kepiawaiannya dalam menyajikan aksi seperti ini. Tak kalah dengan The Raid dan sekuelnya, garapan Gareth Evans. Saya tak ingin memuji atau mengkritik. Siapa pun pasti bangga, film kita bisa bersaing dan diapresiasi baik oleh penonton dan kritikus luar. Saya pecinta film genre aksi tapi bukan film ultra-brutal tak masuk akal seperti ini. Sedih rasanya jika film kita seperti ini yang bakal dikenang dan masuk dalam catatan sejarah perfilman dunia.

WATCH TRAILER

PENILAIAN KAMI
Overall
30 %
Artikel SebelumnyaTujuh Bidadari
Artikel BerikutnyaOverlord
Himawan Pratista
Hobi menonton film sejak kecil dan mendalami teori dan sejarah film secara otodidak setelah lulus dari Jurusan Arsitektur. Ia mulai menulis artikel dan ulasan film sejak tahun 2006. Karena pengalamannya, penulis ditarik menjadi staf pengajar sebuah Akademi Televisi dan Film swasta di Yogyakarta untuk mengampu mata kuliah Sejarah Film, Pengantar Seni Film, dan Teori Film sejak tahun 2003 hingga 2019. Buku karya debutnya adalah Memahami Film (2008) yang memilah seni film secara naratif dan sinematik. Buku keduanya, Memahami Film - Edisi Kedua (2017) kini sudah terbit. Kedua buku ini menjadi referensi favorit para akademisi film dan komunikasi di seluruh Indonesia. Ia juga terlibat penuh dalam penulisan Buku Kompilasi Buletin Film Montase Vol. 1-3 serta 30 Film Indonesia Terlaris 2012-2018. Hingga kini, ia masih menulis ulasan film serta terlibat aktif dalam semua produksi film di Komunitas Film Montase. Biodata lengkap bisa dilihat dalam situs montase.org. ------- His hobbies are watching films since he was a child and exploring the theory and history of film self-taught after graduating from an architectural study. He began writing articles and film reviews from 2006. Because of his experience, the writer was drawn into the teaching staff of a private Television and Film Academy in Yogyakarta to teach Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory from 2003 to 2019. His debut book is Memahami Film (Understanding Films/2008) which separates film art as narrative and cinematic. His second book, Memahami Film (Understanding Films - Second Edition/2017), has now been published. These two books are favourite references for film and communication academics throughout Indonesia. He was also fully involved in writing the Compilation Book of the Montage Film Bulletin Vol. 1-3 as well as 30 best-selling Indonesian films 2012-2018. Until now, he still writes film reviews and is actively involved in all film productions in the Montase Film Community. Full bio can be viewed on the montase.org site.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.