The Nutcracker and the Four Realms (2018)
99 min|Adventure, Family, Fantasy|02 Nov 2018
5.6Rating: 5.6 / 10 from 39,501 usersMetascore: 39
A young girl is transported into a magical world of gingerbread soldiers and an army of mice.

The Nutcracker and the Four Realms merupakan film drama fantasi yang diadaptasi lepas dari dua cerita pendek, yakni The Nutcracker and the Mouse King karya E.T.A Hoffman serta The Nutcracker Ballet karya Marius Petipa. Dengan berbekal megabujet sekitar US$ 130 juta, film ini diarahkan oleh kolaborasi dua sineas besar, yakni Joe Johnston dan Lasse Hallström. Johnston kita kenal dengan film-film populer garapannya, sebut saja Jumanji, Jurassic Park III, hingga Captain America: First Avenger.

Sementara Hallström kita kenal dengan film-film drama berkelas yang menyentuh, seperti The Cider House Rules, Chocolat, Hachi: A Dog’s Tale, hingga A Dog’s Purpose. Sementara bermain dalam filmnya adalah bintang-bintang kenamaan, seperti Kiera Knigthley, Helen Mirren, Morgan Freeman, serta sebagai bintang utama adalah aktris remaja berbakat, MacKenzie Foy. Tak salah jika penonton berekspektasi tinggi terhadap film ini.

Alkisah Clara tinggal bersama ayah, kakak, dan adiknya sejak sepeninggal sang ibu. Clara yang trauma ditinggal ibunya lebih memilih untuk menyendiri dan hubungan dengan sang ayah pun semakin berjarak. Pada momen malam Natal, almarhum ibu mereka menitipkan kado masing-masing untuk putra-putri mereka, termasuk Clara. Ia mendapat hadiah kecil berupa sebuah telur emas misterius yang hanya bisa dibuka menggunakan kunci khusus. Dalam satu pesta Natal, Clara mendapat petunjuk di mana kunci tersebut berada yang membawanya ke dunia lain yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Familiar dengan kisah fantasi macam ini? Tentu saja. Kisah fantasi sejenis sudah terlalu banyak dalam medium film, sebut saja yang populer, seperti The Wizard of Oz, Labirynth, Alice in Wonderland, hingga seri Narnia. Temanya pun kurang lebih sama, yakni masalah keluarga dan kedewasaan. Nutcracker pun sama, hanya latar cerita dan konflik yang berbeda, namun intinya masih sama. Ini tentu menjadikan alur kisahnya hingga ending terlalu mudah untuk diantisipasi. Tak banyak lagi kejutan yang ditawarkan.

Baca Juga  Dredd

Bicara soal latar cerita, sisi ini yang menjadi titik terlemah kisahnya. Latarnya terlalu minim dan singkat hingga logika sedikit mengendur ketika Clara menyeberang ke alam lain, dan dengan begitu mudahnya beradaptasi. Andai saja kilas balik cerita, seperti satu segmen Clara dan ibunya ditambah, alhasil tentu akan berbeda. Porsi sang ayah, kakak perempuan, dan adik laki-lakinya tentu juga akan lebih imbang jika mereka ada dalam segmen kilas balik. Pesan keluarga tentu akan lebih mengena dan menyentuh.

Berbeda dengan kisahnya, pencapaian estetiknya justru sebaliknya. Aspek mise_en_scene menjadi kekuatan terbesar filmnya, di antaranya setting, baik interior maupun eksterior alam nyata maupun alam fantasi yang begitu megah. Aspek visual (CGI) juga jelas sangat mengagumkan sepadan dengan bujet produksinya. Komposer kenamaan, James Newton Howard memberikan sentuhan musik tone fantasi yang khas untuk mendampingi semua adegannya. Namun, sedikit mengejutkan adalah sang bintang cilik, MacKenzie Foy bermain cantik, luar dan dalam sebagai Clara. Sang aktris yang sudah kita kenal bermain sangat bagus dalam Interstellar sebagai Murph, kini menunjukkan kelasnya sebagai calon bintang besar. Hanya dengan ekspresi wajah terutama ekspresi mata, ia mampu menuangkan segalanya tanpa perlu banyak bicara.

Dengan bermodal bujet besar, The Nutcracker and the Four Realms memiliki pencapaian mise_en_scene yang mengagumkan didukung penampilan sang bintang cilik yang memukau, serta pesan keluarga yang menyentuh walau sayangnya kisahnya terlalu klise untuk genrenya. Sentuhan Johnston dan Hallström memang terasa di beberapa adegannya, namun masih terasa kurang menggigit karena lemahnya latar cerita. Walau begitu, untuk produksi Disney, The Nutcracker setidaknya kali ini mudah dicerna untuk target penontonnya, yakni keluarga, remaja, dan anak-anak dengan berisikan kisah gamblang tanpa memuat sisi filosofis bernuansa abstrak macam A Wrinkle in Time yang gagal komersial, yang juga dirilis tahun ini.

WATCH TRAILER

PENILAIAN KAMI
Overall
70 %
Artikel SebelumnyaBohemian Rhapsody
Artikel BerikutnyaTujuh Bidadari
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). A lifelong cinephile, he developed a profound passion for film from an early age. After completing his studies in architecture, he embarked on an independent journey exploring film theory and history. His enthusiasm for cinema took tangible form in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience eventually led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched students’ understanding through courses such as Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended well beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, Understanding Film, an in-depth examination of the essential elements of cinema, both narrative and visual. The book’s enduring significance is reflected in its second edition, released in 2018, which has since become a cornerstone reference for film and communication scholars across Indonesia. His contributions to the field also encompass collaborative and editorial efforts. He participated in the compilation of Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1–3 and 30 Best-Selling Indonesian Films 2012–2018. Further establishing his authority, he authored Horror Film Book: From Caligari to Hereditary (2023) and Indonesian Horror Film: Rising from the Grave (2023). His passion for cinema remains as vibrant as ever. He continues to offer insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com while actively engaging in film production with the Montase Film Community. His short films have received critical acclaim at numerous festivals, both nationally and internationally. In recognition of his outstanding contribution to film criticism, his writing was shortlisted for years in a row for Best Film Criticism at the 2021-2024 Indonesian Film Festival. His dedication to the discipline endures, as he currently serves as a practitioner-lecturer in Film Criticism and Film Theory at the Indonesian Institute of the Arts Yogyakarta, under the Independent Practitioner Program from 2022-2024.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses