Wes Anderson ada dan berlipat ganda di handphone-mu

Kuping saya beberapa waktu terakhir dipenuhi oleh musik Obituary ciptaan Alexandre Desplat. Terasa pernah mendengarkannya entah di mana. Musik ini selalu muncul dalam setiap konten TikTok dengan judul “You better not be acting like you’re in a Wes Anderson film“. Ternyata berasal dari film teranyarnya Wes Anderson dua tahun kemarin, The French Dispatch.

Seminggu terakhir di bulan April 2023, terdapat 46.000 unggahan di TikTok menyertakan hastag Wes Anderson. Angka ini hanya untuk menunjukan keadaan yang terjadi di negara-negara Britania Raya (UK). Tak terbayang berapa jumlahnya kalau digabung dengan negara-negara lain di seantero dunia. Entah itu so-called influencer atau mas-mas dan mbak-mbak yang acak juga tak ketinggalan dalam tren ini.

Saya sempat mengira ini adalah gimmick marketing mengingat sebentar  lagi Wes Anderson akan merilis film baru yaitu Asteroid City. Tapi kalau dipikir-pikir, apalah Wes Anderson untuk perlu melakukan mengingat statusnya di industri film.

Sebagai penikmat film, cie, entah mengapa perasaan senang meliputi diri ini. Ketimbang suara jedag-jedug atau koreografi tari, tren Wes Anderson jauh lebih menyenangkan. Saya senang menyimak ketika seseorang ingin menyampaikan ceritanya. Lalu distilisasi dengan pendekatan yang mirip digunakan Wes Anderson.

Mirip seperti fenomena di media sosial, “sebutin 5 lagu yang lo tau dari band yang kaosnya lagi lo pakek”, nampaknya ikut terjadi juga di tren Wes Anderson-esque. Ya, memang ada beberapa konten yang sepertinya, dari filmnya yang pernah saya tonton, mungkin tidak tepat. Tapi saya bersebrangan dengan pandangan yang seolah nyinyir.

Terlepas dari pembuat konten memang tidak tahu dan sok tahu, but let people enjoy their things. Setidaknya itu untuk kebahagiaan mereka sendiri. Selama tidak merugikan orang lain saya kira ini hal yang sah. Seolah dosa besar jika keliru melakukan tren Wes Anderson yang tidak pas dengan kaidah-kaidah tertentu.

Namun bagi mereka, kamu, atau siapa saja yang ternyata malah terpancing minatnya untuk mengenal lebih lanjut, kita berbagi kecenderungan yang sama. Ketika menonton tren Wes Anderson ini, saya  mengenang kembali pengalaman menonton filmografinya. Kemudian ketika saya pikir ulang, beberapa pertanyaan muncul di benak saya. Kenapa semua filmnya selalu memiliki kecenderungan yang sama?

Mise en scene adalah kunci: Heuristik Komentatif dan Mannerist Aesthetic

Selaras dengan pengertiannya, Wes Anderson sebagai seorang sutradara adalah auteur. Ia konsisten dengan berbagai elemen sinematik sebagai gaya bercerita. Sebut saja seperti shot yang simetris, tracking, long, statis overhead, dan masih banyak lain. Saya buta warna parsial. Tapi sangat jelas kalau palet warna yang selalu digunakan Wes Anderson adalah warna pastel. Lagu yang sering digunakan biasanya muncul dari tahun 70-an dan 80-an. Topik atau narasi cerita yang sering dipilihnya sangat unik dan spesifik: hubungan manusia, dan beberapa kali ada dalam institusi keluarga, yang disfungsional.

Untuk yang terakhir itu, sebagai duta keluarga disfungsional, hehe, saya sebagai penonton sangat terhubung. Meski tentu Wes Anderson mengangkat gaya kultur Barat sebagai perspektif yang mana berbeda dengan kultur yang saya miliki. Namun selain topik dan teknis sinematik yang dia pilih, Wes Anderson menghasilkan mise en scene yang membuat penonton memiliki perasaan emosi yang khas tur asing. Belum lagi ditambah pengadeganan atau tingkah laku karakter yang nyeleneh.

Heuristik Komentatif adalah sebuah kondisi ketika penonton sedang menerjemahkan apa yang ia tonton berdasarkan informasi yang telah dimilikinya. Kemudian Mannerist Aesthetic merupakan gaya seni yang muncul pada abad ke-16 di Eropa. Mannerist Aesthetic menggunakan teknik yang ekspresif dan eksentrik, serta permainan yang rumit dengan proporsi dan komposisi visual. Estetika ini cenderung mengabaikan keteraturan dan keindahan yang ideal, dan lebih fokus pada permainan visual dan kontras yang dramatis.

Ketika menonton film Wes Anderson akan terjadi dua hal yang dialami sekaligus. Pertama berkat teknis dan pencapaian visual, penonton akan terasa asing. Hadir sebuah jarak yang memisahkan. Kedua, petunjuk atau gambaran emosi cerita, terutama yang ditempatkan di awal cerita, berfungsi untuk menetapkan suasana hati apa yang mendominasi. Dengan demikian, penonton tidak hanya diajak masuk ke dunia fiksi yang tidak realistis, tetapi juga ke dalam suasana hati yang melankolis. Beberapa teknik ini adalah penyebabnya.

Panduan untuk berlaku seolah-olah kamu ada di film Wes Anderson

Long Shot

Contoh long shot bisa diambil di film kedua Wes Anderson yaitu Rushmore. Ketika Max (Jason Schwartzman) sedang melakukan pertunjukan teaternya, Wes Anderson menggunakan long shot tracking lateral (46 detik) memperlihatkan letak penonton yang duduk di auditorium. Shot ini bergerak dari kiri ke kanan, memperlihatkan siapa saja teman dan kerabat Max. Mereka terdiri dari Blume (Bill Murray), saingan dan teman Max, ayah Max, guru sekolah, dan Kumar dari Rushmore Academy. Selama pengambilan gambar, sebuah kursi kosong di sebelah Blume ditampilkan. Pada adegan berikutnya, Miss Cross (Olivia Williams), love interest Max, duduk di sana seperti yang direncanakan Max. Dengan demikian, shot ini yang dirancang secara sengaja tidak hanya menggambarkan penonton drama Max, tetapi juga menghasilkan makna penting tentang protagonis dan dunianya.

Baca Juga  3 Rekomendasi Drama Korea Adaptasi Serial Barat

Lewat long shot, Wes Anderson ingin menyampaikan bagaimana hubungan karakter dengan dunianya. Ada banyak hal yang kita dapatkan oleh penonton. Seperti apa yang dimiliki karakter soal keterikatan emosional, pengalaman masa kecil, hal yang ditakutkan, dan lain-lain.  Kesan dramatis adalah unsur yang akan terasa ketika menonton adegan dalam sebuah long shot tanpa potong. Dan yang sudah tentu penonton dapat melihat semua elemen mise en scene, seperti blocking dan gerakan aktor, kostum, artistik, pencahayaan, dan audio.

Tableau Shot

Contoh tableau shot yang bisa diambil ada dalam film The Grand Budapest Hotel digunakan ketika M. Gustave (Ralph Fiennes) membacakan sebuah surat kepada rekan-rekannya di penjara. Dalam cutaway ini, M. Gustave berada di titik tengah frame, dengan para tahanan dan penjaga tersusun rapi di kedua sisinya, semuanya menghadap kamera. Shot ini memancing tawa karena absurditas antara keseriusan dan komposisi yang canggung dalam konteksnya yang puitis dan berlebihan.

Tableau shot milik Wes Anderson sangat bertumpu pada nilai geometri. Yang mana itu akhirnya seolah jadi signature sang sutradara.  Efek alienasi pun terjadi karena karena posisi tidak alami dari karakter dan posisi mereka di dalam frame. Dalam tableau shot, karakter-karakter terisolasi, bahkan ketika mereka dalam kelompok. Pada saat yang sama, tableau shot mendorong penonton untuk memperhatikan adegan tersebut dan terlibat dengan situasi karakter. Tercipta ketegangan atau ambivalensi halus dalam adegan-adegan pada shot ini.

Overhead Close Shot

Pada film The Life Aquatic with Steve Zissou, overhead close shot ada ketika terdapat dua surat: satu dari Ned muda untuk Zissou dan satu dari Zissou untuk Ned muda. Kedua surat tersebut ditunjukkan dengan memotretnya dari atas dengan jarak dekat, dibacakan oleh orang yang menulisnya, tanpa efek suara. Pada awalnya, Ned (Owen Wilson) menunjukkan surat darinya yang telah ia simpan selama 17 tahun kepada Zissou (Bill Murray). Pada saat itu, Zissou tidak terlihat mengingatnya. Namun, kemudian Zissou menunjukkan surat dari Ned muda yang telah ia simpan selama 17 tahun juga. Setelah momen ini, Ned kehilangan nyawanya akibat kecelakaan helikopter.

Overhead close shot ini memberikan penonton sudut pandang yang optimal untuk mendapatkan informasi sebanyak-banyaknya pada gambar. Komposisi yang dirancang secara detail dalam shot ini membuat penonton fokus pada objek itu sendiri. Ketika objek tersebut terkait dengan keadaan emosional karakter, shot dekat dari atas ini tampaknya berfungsi secara efektif untuk menyalurkan emosi. Dalam beberapa film Wes Anderson, objek yang ditemukan dalam shot ini seperti novel, surat, puisi, dan biasanya tanpa ada musik latarnya.

Tentu semua yang dijabarkan tidak merangkum apa yang telah dilakukan Wes Anderson sepanjang karirnya. Namun beberapa teknis di atas bisa dan mudah dilakukan saat membuat konten tren Wes Anderson. Setidaknya jika ingin menggarap se-Wes Anderson mungkin, kamu jadi punya motif jelas dalam menggarapnya. Kamu bisa lebih detail dalam hal atau narasi yang ingin disampaikan.

Tren Wes Anderson saya kira merupakan sebuah perayaan kecil terhadap berbagai hal yang indah. Ini membuktikan sebagaimana umumnya kalau film merupakan budaya pop dan milik semua orang. Toh hidup sudah seabsurd itu dengan jalan nasibnya. Beri sedikit keindahan ala Wes Anderson.

Saya berharap tren ini di TikTok bertahan lama meskipun alasannya hanya sentimentalitas pribadi. Atau mungkin ada tren dengan gaya penceritaan dari sutradara lain. Semisal tren Stanley Kubrick, tren Wong Kar Wai, tren Ari Aster, tren Lars Von Trier, dan tren yang paling saya ingin lakukan di TikTok sebetulnya adalah tren Stephen Chow.

Referensi tulisan:

Wes Anderson’s ambivalent film style: the relation between mise-en-scène and emotion oleh Sunhee Lee. New Review of Film and Television Studies. 2016.

Wes Anderson, tone and the quirky sensibility oleh James MacDowell. New Review of Film and Television Studies. 2012.

Memahami Film oleh Himawan Pratista. Montase Press. Cetakan 2. 2018

Artikel SebelumnyaScream 6
Artikel BerikutnyaTeluh Darah, Sebuah Remake Tulen Ratu Ilmu Hitam dengan Segala Keabsurdan Kisahnya

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.