Bergoyang daun-daun persik dan tampak pohon ara dari kejauhan. Tebing tinggi, tanah cokelat yang dirawat puluhan tahun akan sangat asing ketika 5 menit kemudian, benda kuning raksasa menggaruk mobil bekas di lahan seberang perkebunan persik yang jadi tempat bermain anak-anak. Tapi ini bukan tentang anak-anak itu, lebih jauh lagi.

Sebagaimana yang kerap terlihat dalam karya-karya Martin McDonagh. Carla Simon juga menempatkan permasalahan dari babak introduksi—lebih memilih mengenalkan para karakternya yang ramai seiring konflik berjalan. Adalah Alcarràs, film yang sepanjang durasi, kelak kita rasakan dekat dalam kehidupan. Alcarràs disutradarai oleh Carla Simon. Diperankan Jordi Pujol, Anna Otin, Xenia Roset, Albert Bosch, dan masih banyak lagi. Alcarràs membawa pulang Beruang Emas pada Berlinale ke-72 tahun kemarin, dan menjadi film berbahasa Katalan pertama yang memenanginya.

Alcarràs berkisah tentang sektor perkebunan persik di wilayah Alcarràs, Catalonia, Spanyol—dengan sebuah keluarga sebagai sentral ceritanya. Satu keluarga tersebut mesti melepas perkebunan luasnya karena kekeliruan kepemilikan tanah. Hal ini bermula dari kisah lampau di mana Keluarga Quimet memberi perlindungan saat perang untuk Keluarga Pinyol, dan perizinan memanfaatkan tanah Keluarga Pinyol diberikan sebagai balasannya. Ternyata itu menjadi masalah di kemudian dasawarsa—sebab tidak adanya persetujuan di atas kertas oleh pendahulu-pendahulu mereka. Artinya, klaim tanah atau balasan kebaikan hanya berdasarkan tuturan, dan itu diwariskan ke bawah, dan berdampak pada empat generasi dalam keluarga tersebut.

Keluarga Pinyol hanya dituturkan lewat dialog, tidak tampil gamblang dalam gambar. Fokus seakan-akan mengarah pada korban, yakni Keluarga Quimet. Namun bukankah Keluarga Quimet juga pelaku? Dan, bukankah Keluarga Pinyol pada generasi ketiga juga merupakan korban? Di kerumitan inilah kita menemukan Alcarràs mendudukkan premis seperti dua sisi pada uang logam. Dilematis pun memuncak tatkala di antara Keluarga Quimet, hanya Quimet yang berat hati melepas tanah yang telah ia rawat puluhan tahun.

Nyawa cerita dalam film ini sangat riuh, apalagi ditambah dengan karakternya yang ramai. Tetapi Simon Carla, sang sineas, memilih mengabarkannya dengan pace yang melantai. Resikonya, ia mesti memilih karakter mana yang dijadikan POV. Dan sisanya, otomatis cuma pelengkap sajian saja. Berhasilkah? Iya, Simon Carla berhasil. Saya melihat vitalitas perspektif dalam Alcarràs hanya berlaku pada 3 karakter; yakni Quimet, ayahnya, dan anak perempuannya. Quimet adalah yang berat hati, ayahnya adalah jembatan utama antara generasi pertama dan ketiga, sementara anaknya, adalah sebentang layar yang memberikan kita informasi mengenai dampak psikologis, kontra anggota keluarga, dan semacamnya dan semacamnya.

Baca Juga  The Blackout

Maka sebab itu, bila Alcarràs cenderung memposisikan semua karakter sama tinggi dan sama rendah, ia akan berantakan—tak ada pegangan yang jelas. Naskah yang kuat menjadi pondasi mantap film ini. Teknis tak banyak bekerja, sebab Alcarràs memilih bertutur dengan skema doku-drama. Kita seakan-akan melihat semuanya sangatlah realistis, mulai dari pergerakan, dialog, sampai dengan tingkah laku anak-anak dalam film tersebut.

Karena narasi dan pendekatan yang meyakinkan dan bernuansa di luar arus utama, tentu saya mengharapkan kesimpulan yang sempurna dari Alcarràs. Namun anehnya, ketika sampai pada penghujung cerita, Alcarràs menjadi film yang biasa-biasa saja, tak meninggalkan bekas yang lama. Dengan bahasa yang lain; Alcarràs menjadi film yang tanggung. Tak ada resolusi konflik yang ajib dalam film ini. Pandangan yang berbeda di wilayah internal ternyata diolah hanya pada batas permukaannya saja, dan itu malah tidak melahirkan keprihatinan yang mendalam dari benak penonton.

Bagi saya sendiri, Alcarràs justru akan menjadi sangat sempurna ketika memiliki satu penawaran yang teraba—entah itu dari efek psikologis atau perpecahan yang timbul dari Keluarga Quimet sendiri. Sampai pada epilog, Alcarràs tak memberikan itu. Yang menang memang ketahuan. Namun yang terdampak terasa enggan dinampakkan. Walhasil, apa yang terjadi di awal dan pertengahan terasa tak pernah menemukan sintesisnya. Puncaknya, keluarga Quimet toh masih hidup dengan nyaman dan harmonis, sambil melihat garpu raksasa melahap perkebunan mereka.

PENILAIAN KAMI
Overall
90 %
Artikel SebelumnyaMissing
Artikel BerikutnyaEo
Azman H. Bahbereh, lahir dan besar di Singaraja, Bali. Saat ini menempuh pendidikan di Kota Malang. Kegemarannya menonton film telah tumbuh semenjak kecil ketika melihat tarian dengan iringan musik dari jagat sinema Bollywood, terkhusus Soni Soni Akhiyon Wali di film Mohabbatein. Selain menulis film-film yang ditontonnya, ia juga aktif menulis puisi dan bergiat di komunitas sastra yang ada di Kota Malang.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.