Isu lingkungan adalah satu dari beberapa bahasan paling santer kita dengar selama ini. Topik-topik ihwal perubahan iklim, kepunahan spesies langka, polusi, maupun sampah. Animal garapan Cyril Dion berupaya menyampaikan (kembali) isu ini melalui perjalanan reportasi dua remaja asal Inggris dan Prancis, Bella dan Vipulan. Film dokumenter asal Prancis ini dibantu oleh banyak pihak dalam pengerjaannya, yaitu CAPA, Bright Bright Bright, Union Générale Cinématographique (UGC), Orange Studio, France 2 Cinéma, OCS, France Télévisions, serta Agence Française de Développement. Kita tahu ada bayang-bayang bahaya kerusakan lingkungan yang dapat mengancam nyawa generasi penerus di masa depan. Namun, apakah Animal punya tawaran solusi, ataukah hanya memprotes dan mempertanyakan?

Bella adalah gadis remaja asal Inggris yang tumbuh sebagaimana anak-anak di sana pada umumnya, tetapi jengah dengan kondisi lingkungan terkini. Begitu pula Vipulan, remaja laki-laki asal Prancis yang rajin mengikuti aktivisme menentang pengrusakan lingkungan di dekat area tempat tinggalnya. Keduanya lantas bertemu dan melakukan perjalanan bersama ke berbagai negara, untuk mencari jalan keluar terbaik bagi kelangsungan kesejahteraan alam. Bertemu beragam orang dengan latar belakang dan sudut pandangnya masing-masing dalam melihat posisi alam dengan keberadaan manusia.

Animal menambah panjang daftar film-film dokumenter dengan tema-tema lingkungan. Setelah 13 tahun lalu, kita disuguhkan Home (2009) dengan kecenderungannya dalam menampilkan lanskap permukaan Bumi. Salah satu dokumenter bertema lingkungan terbaik sejauh ini. Home membicarakan perjalanan Bumi dari miliaran tahun lampau hingga hari ini. Perubahan-perubahan “wajah”-nya, serta bagaimana manusia memengaruhi kerusakan lingkungan. Dalam hal menampilkan kegiatan eksploitasi oleh tangan-tangan manusia, Animal tidaklah jauh berbeda dari Home. Pertambangan, kebakaran, pabrik-pabrik, polusi dari pestisida, penangkapan sejumlah besar ikan, hingga salah satu persoalan paling serius selama ini, plastik. Namun, Animal punya tawaran spesifikasinya sendiri. Dokumenter ini tak sekadar mempertanyakan semata, melainkan pula berupaya mencari solusi terbaik.

Melalui dua “reporter”-nya sebagai perantara penonton, pembuat film, dan pihak ketiga serta para objek, Animal mempertemukan kesadaran diri khalayak dengan orang-orang yang terlibat langsung dengan kerja-kerja lingkungan. Lagipula, baik Bella maupun Vipulan sama-sama berangkat dari latar belakang aktivisme kesejahteraan lingkungan dari daerah masing-masing. Cara sang sineas dalam menuturkan Animal juga lebih-kurang serupa dengan Planet of the Humans (2019) garapan Jeff Gibbs. Keduanya mendatangi para politikus dan pebisnis untuk mendengar respons mereka terhadap alam atau lingkungan. Namun, Planet of the Humans memilih pendekatan isu energi pada waktu itu. Nuansanya pun lebih serius, memprihatinkan, ironis, menggiriskan, serta kelam, sementara Animal tampil dengan lebih ringan sesuai usia Bella dan Vipulan yang masih remaja. Walau tidak ada bahasan santai untuk masalah lingkungan dalam film dokumenter manapun.

Baca Juga  Tokyo Shaking (Festival Sinema Prancis)

Meski sayangnya, ada eksekusi editing untuk beberapa bagian dalam Animal yang kelewat lama, sementara mestinya mereka lebih baik ditunjukkan dengan durasi lebih pendek. Walhasil, sempat beberapa kali dokumenter ini memberi kesan membosankan. Walau tak banyak, tetapi terbilang cukup terasa. Momen-momen penantian para reporter dan rekan-rekan mereka terhadap kondisi tertentu diisi banyak sekali penjelasan, namun visualnya tak mengalami perubahan.

Kendati demikian, Animal betul-betul tampil dengan amat progresif, konkret, terang-terangan, dan jujur. Dokumenter ini sekaligus pula memahami kemunafikan mereka saat harus bepergian menggunakan kendaraan berbahan bakar minyak bumi, sementara mereka tengah mengampanyekan krisis lingkungan. Kemunafikan yang disinggung pula (secara tidak langsung) dalam Planet of the Humans. Amat jujur. Kedua reporter Animal pun tak tanggung-tanggung dalam memanfaatkan setiap kesempatan untuk menuntut penjelasan dari para pejabat, pemangku kepentingan, serta pengatur kebijakan mengenai concern, pendapat, pandangan, dan tindakan mereka terhadap lingkungan.

Kita melihat betapa Home menangkap kemelut antara lingkungan alam Bumi dengan pelbagai tindakan manusia yang begitu gila gara-gara ekonomi. Animal berdiri di posisi yang lebih spesifik, dengan mempertanyakan nasib para hewan. Termasuk serangga, organisme kecil dengan dampak besar dan signifikan. Animal membawa tawaran agar manusia dapat hidup berdampingan “secara seimbang” dengan alam (hewan, serangga, tumbuhan, dlsb). Sebagaimana Planet of the Humans dengan perkara spesifik mereka yakni energi.

Animal, untuk sekali lagi, memberi peringatan kepada khalayak luas mengenai persoalan keberlangsungan kesejahteraan lingkungan yang baik dan benar. Dokumenter yang tayang kembali dalam gelaran Festival Sinema Prancis 2022 ini pun membawakan “peringatan”-nya dengan menggiriskan pada satu kesempatan, dan cercah-cercah harapan di bagian lainnya. Seperti yang disinggung pula melalui poster dokumenter ini, bahwa kesejahteraan lingkungan dan alam liar berikut keragaman hewannya seakan berada dalam sebuah tabung. Apa yang kemudian berada di luar tabung tersebut hanyalah kekeringan dan kehampaan tanpa tumbuh-tumbuhan sama sekali, dan kitalah, para manusia, yang berdiri di luar tabung tersebut.

PENILAIAN KAMI
Overall
95 %
Artikel SebelumnyaAmsterdam
Artikel BerikutnyaWerewolf by Night
Miftachul Arifin lahir di Kediri pada 9 November 1996. Pernah aktif mengikuti organisasi tingkat institut, yaitu Lembaga Pers Mahasiswa Pressisi (2015-2021) di Institut Seni Indonesia Yogyakarta, juga turut andil menjadi salah satu penulis dan editor dalam media cetak Majalah Art Effect, Buletin Kontemporer, dan Zine K-Louder, serta media daring lpmpressisi.com. Pernah pula menjadi kontributor terpilih kategori cerpen lomba Sayembara Goresan Pena oleh Jendela Sastra Indonesia (2017), Juara Harapan 1 lomba Kepenulisan Cerita Pendek oleh Ikatan Penulis Mahasiswa Al Khoziny (2018), Penulis Terpilih lomba Cipta Puisi 2018 Tingkat Nasional oleh Sualla Media (2018), dan menjadi Juara Utama lomba Short Story And Photography Contest oleh Kamadhis UGM (2018). Memiliki buku novel bergenre fantasi dengan judul Mansheviora: Semesta Alterna􀆟f yang diterbitkan secara selfpublishing. Selain itu, juga menjadi salah seorang penulis top tier dalam situs web populer bertema umum serta teknologi, yakni selasar.com dan lockhartlondon.com, yang telah berjalan selama lebih-kurang satu tahun (2020-2021). Latar belakangnya dari bidang film dan minatnya dalam bidang kepenulisan, menjadi motivasi dan alasannya untuk bergabung dengan Komunitas Film Montase sejak tahun 2019. Semenjak menjadi bagian Komunitas Film Montase, telah aktif menulis hingga puluhan ulasan Film Indonesia dalam situs web montasefilm.com. Prestasi besar terakhirnya adalah menjadi nominator Festival Film Indonesia 2021 untuk kategori Kritikus Film Terbaik melalui artikel "Asih, Cermin Horor Indonesia Kontemporer" bersama rekan penulisnya, Agustinus Dwi Nugroho.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.