End of Watch (2012)
109 min|Action, Crime, Drama|21 Sep 2012
7.6Rating: 7.6 / 10 from 266,228 usersMetascore: 68
Shot documentary-style, this film follows the daily grind of two young police officers in LA who are partners and friends and what happens when they meet criminal forces greater than themselves.

Kisah tentang polisi entah sudah berapa banyak diangkat ke layar bioskop. End of Watch adalah salah satunya yang mencoba tampil berbeda dengan mengangkat keseharian serta sentuhan humanis dengan kemasan a la dokumenter. Brian Taylor (Gylenhaal) dan Mike Zavala (Pena) adalah dua polisi muda yang juga partner dan bersahabat kental. Mereka berdua adalah polisi yang jujur dan berdedikasi tinggi. Kisah film berjalan menampilkan keseharian mereka dalam menjalankan tugas yang tak jarang membahayakan jiwa mereka hingga bahkan suatu ketika mereka meraih medali tanda jasa. Suatu kali secara tidak sengaja penyergapan mereka mengusik bisnis seorang kartel asal Meksiko. Sang bos lalu memerintahkan anak buahnya untuk melenyapkan Brian dan Mike.

Tak ada konflik cerita yang kuat sepanjang filmnya. Kisahnya hanya benar-benar menyuguhkan keseharian Brian dan Mike dalam menjalankan rutinitas mereka. Kisahnya justru malah menekankan hubungan erat diantara mereka berdua yang bersahabat layaknya saudara kandung. Sisi manusiawi begitu kental dalam filmnya, terutama bagaimana mereka menghadapi masalah pribadi mereka. Walau tidak ada konflik yang kuat namun penampilan memukau dari Gylenhaal dan Pena yang menjadi daya tarik film ini. Mereka berdua tampil ekspresif dan enerjik namun juga mampu tampil natural apa adanya tanpa ada sesuatu yang dilebih-lebihkan. Chemistry kuat diantara kedua tokoh ini serta sentuhan humor adalah satu faktor yang mampu mengalahkan kisahnya yang datar nyaris sepanjang film.

Baca Juga  Reminiscence

Film ini dikemas dengan gaya dokumenter menggunakan kamera yang dibawa Brian, serta dua mini kamera yang ditambatkan di dada Brian dan Mike. Namun film ini juga menggunakan sumber kamera lain seperti kamera milik para gangster, kamera CCTV, dan entah apa lagi. Seolah sejak awal memang terlihat film ini adalah hasil editan footage dari kamera-kamera tersebut (seperti film-film found footage kini lazimnya) namun nyatanya tidak. Sumber kamera tidak konsisten dengan seringkali menampilkan sudut-sudut kamera yang bukan berasal dari kamera dalam dunia cerita. Lalu juga gerak kamera seringkali amat kasar sehingga sangat-sangat tidak nyaman untuk ditonton. Sebenarnya bukan masalah sumber kamera tidak konsisten atau gerak kamera yang kasar namun teknik-teknik ini justru menjauhkan penonton untuk bisa larut dalam filmnya. Ini problem terbesar filmnya.

End of Watch sebenarnya adalah film yang menarik terutama karena penampilan menawan dua aktornya, namun kemasan “dokumenter” dengan teknik video footoge dan handheld yang kelewat kasar membuat film ini menjadi kurang nyaman untuk ditonton. Kisah yang datar terbalas dengan ending-nya yang sangat dramatik. Sebagai penutup, melihat film ini serasa melihat tayangan acara tv tentang polisi “live in action” yang sering kita lihat di layar kaca. Jika Anda memang tahan dengan penyajiannya yang “kasar” rasanya Anda bisa menikmati film ini lebih baik dari saya.

PENILAIAN KAMI
Overall
70 %
Artikel SebelumnyaDari Redaksi mOntase
Artikel BerikutnyaAntara Bioskop dan Rating Film
Hobinya menonton film sejak kecil dan mendalami teori dan sejarah film secara otodidak setelah lulus dari studi arsitektur. Ia mulai menulis artikel dan mengulas film sejak tahun 2006. Karena pengalamannya, penulis ditarik menjadi staf pengajar di Akademi Televisi dan Film swasta di Yogyakarta untuk mengajar Sejarah Film, Pengantar Seni Film, dan Teori Film sejak tahun 2003 hingga tahun 2019. Buku film debutnya adalah Memahami Film (2008) yang memilah seni film sebagai naratif dan sinematik. Buku edisi kedua Memahami Film terbit pada tahun 2018. Buku ini menjadi referensi favorit bagi para akademisi film dan komunikasi di seluruh Indonesia. Ia juga terlibat dalam penulisan Buku Kompilasi Buletin Film Montase Vol. 1-3 serta 30 Film Indonesia Terlaris 2012-2018. Ia juga menulis Buku Film Horor: Dari Caligari ke Hereditary (2023) serta Film Horor Indonesia: Bangkit Dari Kubur (2023). Hingga kini, ia masih menulis ulasan film-film terbaru di montasefilm.com dan terlibat dalam semua produksi film di Komunitas Film Montase. Film- film pendek arahannya banyak mendapat apresiasi tinggi di banyak festival, baik lokal maupun internasional. Baru lalu, tulisannya masuk dalam shortlist (15 besar) Kritik Film Terbaik dalam Festival Film Indonesia 2022. Sejak tahun 2022 hingga kini, ia juga menjadi pengajar praktisi untuk Mata Kuliah Kritik Film dan Teori Film di Institut Seni Indonesia Yogyakarta dalam Program Praktisi Mandiri.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.