Five Feet Apart (2019)
N/A|Drama, Romance|15 Mar 2019
Rating: Metascore: N/A
A pair of teenagers with life-threatening illnesses meet in a hospital and fall in love.

Five Feet Apart adalah film roman remaja yang diarahkan oleh Justin Baldoni yang lebih dikenal menggarap serial televisi. Film produksi CBS Films berbujet US$ 7 juta ini dibintangi oleh dua bintang muda, Haley Lu Richardson dan Cole Sprouse. Film-film roman sejenis sebelumnya telah diproduksi sebut saja, The Fault in Our Star hingga Me and Earl and the Dying Girl. Dibandingkan keduanya, rasanya Five Feet Apart masih berada jauh di bawahnya, baik secara kisah maupun estetik.

Alkisah Stella adalah seorang remaja pengidap kelainan genetik pada paru-paru (cystic fibrosis) yang telah dirawat sejak cilik. Kini, Stella menjalani kesehariannya di rumah sakit dengan segala rutinitas mediknya. Suatu ketika, Stella bertemu dengan Will, seorang remaja pengidap penyakit yang sama, dan sosok sang pemuda menarik perhatiannya. Keduanya berujung dengan saling menyukai satu sama lain, walau mereka hanya diperbolehkan berjarak 6 feet karena bakteri mematikan yang bisa menulari mereka satu sama lain.

Premisnya menarik, dan sejujurnya lebih dari separuh kisah filmnya diawali dengan sangat baik. Kisah filmnya hanya terbatas dalam rumah sakit, dan hanya ruangan itu-itu saja. Namun, pengembangan kisahnya amat mengasyikkan untuk diikuti dan terbatasnya ruang tidak lantas membatasi kedinamisan plotnya. Teknik crosscutting dan montage amat dominan digunakan dan secara efektif saling bergantian menampilkan sosok Stella dan Will. Dalam montage-nya, lantunan nomor-nomor manis yang lembut pun amat pas mengiring tiap momennya. Belum lagi ditambah penampilan dua bintangnya yang sangat memukau, dengan chemistry yang terjalin amat baik di awal kisah. Satu hal yang membuat kisahnya menarik sebenarnya adalah semua aturan dan SOP rumah sakit yang membatasi mereka. Ketika itu semua dilanggar, semua mendadak berubah mood.

Baca Juga  Escape Room

Berjalannya cerita, tensi plot justru semakin menurun dan tak lagi menarik, bahkan beberapa hal terasa sama sekali tak masuk akal yang rasanya banyak melanggar aturan rumah sakit atau rawat inap, terlebih penderita penyakit khusus seperti mereka. Di awal, telah ditetapkan jarak minimal antara pasien adalah enam kaki (six feet), mendadak dalam satu momen semua berubah (5 kaki seperti judul filmnya). Oke, bisa jadi ini adalah satu bentuk simbolik dari rasa percaya diri dan keyakinan Stella untuk sembuh, tapi sebagai tontonan, apakah secara medik ini mendidik? Coba satu hal lagi, apa memungkinkan di rumah sakit kita mengadakan pesta secara diam-diam? Setelah momen ini, seolah semua aturan menjadi tak berarti, dan kisahnya tak ubahnya roman remaja tak berkelas dengan adegan klimaks yang konyol dengan ending memaksa.

Mengawali dengan setting minimalis dan permainan menawan dua bintangnya, Five Feet Apart ternyata hanya berakhir sebagai roman remaja medioker. Film ini sebenarnya memiliki potensi lebih untuk bisa menginspirasi bagi para penderita penyakit yang sama untuk terus berjuang dan tidak pernah menyerah, namun dengan semua aturan yang dilanggarnya, saya tak bisa banyak komentar. Dengan segala pencapaian dan kemasan estetiknya yang disajikan amat baik, maaf, saya melihatnya, film ini semata hanya menggunakan “penyakit” sebagai tempelan untuk menjual filmnya. Apa kalian bisa lihat poster dibelakang pintu kamar Stella yang bergambar orang bermeditasi lengkap dengan chakra (dominan dalam filmnya), mengapa sineas tak menggunakan ini untuk menyampaikan pesannya (peace of mind)?

WATCH TRAILER

PENILAIAN KAMI
Overall
40 %
Artikel SebelumnyaYowis Ben 2
Artikel BerikutnyaUpdate: New Trailer
Himawan Pratista
Hobi menonton film sejak kecil dan mendalami teori dan sejarah film secara otodidak setelah lulus dari Jurusan Arsitektur. Ia mulai menulis artikel dan ulasan film sejak tahun 2006. Karena pengalamannya, penulis ditarik menjadi staf pengajar sebuah Akademi Televisi dan Film swasta di Yogyakarta untuk mengampu mata kuliah Sejarah Film, Pengantar Seni Film, dan Teori Film sejak tahun 2003 hingga kini. Buku karya debutnya adalah Memahami Film (2008) yang memilah seni film secara naratif dan sinematik. Buku keduanya, Memahami Film - Edisi Kedua (2017) kini sudah terbit.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini