Spider-Man: Into the Spider-Verse (2018)
117 min|Animation, Action, Adventure, Comedy, Family, Sci-Fi|14 Dec 2018
8.7Rating: 8.7 / 10 from 43,599 usersMetascore: 87
Teen Miles Morales becomes Spider-Man of his reality, crossing his path with five counterparts from another dimensions to stop a threat for all realities.

Spider-Man: Into the Spider-Verse merupakan film animasi superhero yang menampilkan sosok “Spider-Man” dalam banyak versi. Film ini diarahkan oleh 3 sutradara sekaligus, yakni Peter Ramsey, Rodney Rothman, dan Bob Persichetti. Film ini diadaptasi dari komik Spider-Man yang kini dilakonkan oleh sosok Miles Morales. Spider-Verse juga diisi suara oleh Shameik Moore, Jake Johnson, Hailee Steinfield, Nicholas Cage, hingga Mahershala Ali. Film berdurasi 117 menit ini berbujet produksi sebesar US$ 90 juta. Film animasi ini rasanya bakal sukses, terbukti telah banyak dipuji kritikus, serta prestasi terbarunya meraih nominasi Golden Globe untuk kategori film animasi terbaik. Kurang apa lagi coba film animasi ini, lantas bagaimana dengan filmnya sendiri?

Alkisah Miles Morales adalah pemuda yang mengagumi sosok Spider-Man. Ayahnya yang seorang polisi justru sebaliknya menganggap pahlawan laba-laba tersebut selalu bertindak di luar aturan hukum. Suatu ketika, Miles yang menyukai seni mural (graffiti) diajak pamannya pergi ke stasiun bawah tanah yang telah terbengkalai agar ia bisa membuat gambar mural dengan leluasa di sana. Sebuah laba-laba aneh menggigit tangannya, dan sejak itu, Miles merasa inderanya menjadi lebih sensitif, tubuhnya bertambah kuat, bahkan ia mampu berjalan di dinding. Tanpa sengaja, ia bertemu dengan Spider-Man (Peter Parker) yang tengah beraksi menghalangi niat sang bos jahat, King Pin, untuk mengoperasikan sebuah mesin pembuka dimensi lain. Miles ternyata berada di waktu dan tempat yang salah. Sejak itulah peristiwa aneh mulai terjadi dengan kemunculan sosok Spiderman dari dimensi lain.

Membaca sinopsis ringkas di atas, tampak jika kisahnya sudah rumit untuk diikuti. Faktanya memang iya. Bagi fans film fiksi ilmiah, multi dimensi atau dimensi alternatif, atau apalah, jelas adalah hal yang sudah biasa, namun tentu bukan hal biasa untuk genre superhero. Film ini jelas terlalu kompleks untuk penonton anak-anak jika memang mereka targetnya. Kisahnya yang absurd memang sulit untuk dinalar. Multi dimensi bisa ribuan, mengapa hanya lima versi “Spider-Man” tersebut yang masuk ke dimensi ini? Jika multi dimensi dimaksudkan berdasarkan timeline saat ini, lantas darimana pula Spider-Man Noir, Spider-Ham (babi), atau “Spider- Anime” berasal? Jelas percuma kita bicara soal nalar bukan? Toh, ini juga adaptasi komik.

Baca Juga  The Accountant

Mudahnya, kita bicara soal inti kisah filmnya saja. Poin utama adalah hubungan ayah dan anak. Hubungan Miles dengan ayahnya yang seorang seorang polisi tidak harmonis karena sang ayah dianggap terlalu memaksanya untuk banyak hal. Kisah filmnya, kurang lebih hanya untuk mendewasakan sosok Miles. Serangkaian petualangan bersama rekan-rekan barunya dari dimensi lain, dengan segala kerumitan plotnya, semata hanya membantunya untuk mencari dan menemukan jati dirinya. Plot ini terasa familiar bukan? Latar sosok Miles lantas jadi pertanyaan besar. Miles bukanlah Peter Parker yang harus menderita hebat karena rasa bersalahnya terhadap kematian Paman Ben. Lalu, apa yang membuatnya pantas menerima kekuatan sedemikian besar? Saya tak bisa menjawabnya.

Melihat film ini (dari sisi cerita), tak ubahnya menonton film animasi superhero versi Home Video. Skenario film ini jelas terlalu sulit untuk dibuat versi live-action-nya. Ini mengapa film superhero versi animasi sering kali jauh lebih baik dari versi live action. Kalau pernah menonton film animasi home-video superhero, khususnya superhero DC universe produksi Warner Animation, konsep plot multi dimensi bukanlah satu hal yang baru. Beberapa film animasi DC memiliki kualitas cerita yang jauh lebih baik dari ini, sebut saja Justice League: Doom, Justice League: Flash Point Paradox, hingga Justice League Dark. (Baca artikel: https://montasefilm.com/superioritas-superhero-dc-animasi/). Eksplorasi cerita film-film animasi ini jauh lebih berani dari kisah Spider-Verse ini.

Bicara soal kemasan filmnya adalah satu nilai lebih film ini. Spider-Verse memiliki gaya animasi unik yang mengkombinasikan teknik animasi CGI dengan gambar tradisional yang dibuat dengan skets (tangan). Hasilnya adalah satu sajian animasi mengesankan yang belum pernah kita lihat sebelumnya. Bahkan film ini juga menampilkan tribute bagi anime (film animasi Jepang) melalui sosok karakter Peni Parker dan robotnya. Aspek visual di atas, efek suara, dan satu lagi yang mendominasi adalah musik dan lagu, adalah faktor-faktor yang memberi poin besar, mengapa film ini begitu enak untuk dinikmati.

Dengan kisah absurd, Spider-Man: Into the Spider-Verse menawakan sesuatu yang baru untuk genrenya, dengan tema diversitas yang dikemas dalam gaya animasi bernuansa komik yang penuh warna. Tema keberagaman memang tampak dominan dalam filmnya. Sesuatu yang kini tengah panas-panasnya dalam industri film Hollywood sejak sukses Black Panther awal tahun lalu. Film ini jelas sangat menghibur bagi para fans Spider-Man. Sementara bagi penikmat film bakal disukai karena terobosan tema dan sisi visualnya. Tapi, dijamin penonton anak-anak bakal kesulitan mencerna filmnya, bisa jadi orang tuanya pun bakal sama.

WATCH TRAILER

PENILAIAN KAMI
Overall
65 %
Artikel SebelumnyaSilam
Artikel BerikutnyaBumblebee
Himawan Pratista
Hobi menonton film sejak kecil dan mendalami teori dan sejarah film secara otodidak setelah lulus dari Jurusan Arsitektur. Ia mulai menulis artikel dan ulasan film sejak tahun 2006. Karena pengalamannya, penulis ditarik menjadi staf pengajar sebuah Akademi Televisi dan Film swasta di Yogyakarta untuk mengampu mata kuliah Sejarah Film, Pengantar Seni Film, dan Teori Film sejak tahun 2003 hingga kini. Buku karya debutnya adalah Memahami Film (2008) yang memilah seni film secara naratif dan sinematik. Buku keduanya, Memahami Film - Edisi Kedua (2017) kini sudah terbit.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini