Five Nights at Freddy's (2023)
109 min|Horror, Mystery, Thriller|27 Oct 2023
5.5Rating: 5.5 / 10 from 92,878 usersMetascore: N/A
A troubled security guard begins working at Freddy Fazbear's Pizza. During his first night on the job, he realizes that the night shift won't be so easy to get through. Pretty soon he will unveil what actually happened at Freddy's.

Lagi satu film horor dirilis, yakni Five Nights at Freddy’s yang kembali diproduseri Jason Blum. Film arahan Emma Tammi ini diadaptasi dari gim populer bertitel sama karya Scott Cawton yang juga membantu menulis naskahnya. Film ini dibintangi Josh Hutcherson, Elisabeth Lail, Piper Runio, serta Matthew Lillard. Akankah film ini bakal memuaskan dan selaris video gimnya?

Mike (Hutcherson) adalah seorang pemuda yang tiap kali dipecat dari pekerjaannya karena melanggar aturan. Ia amat membutuhkan pekerjaan sebagai syarat utama untuk mendapat pengakuan hak asuh atas adiknya, Abby (Runio), setelah ayah mereka pergi. Ia pun akhirnya terpaksa menerima pekerjaan aneh untuk menjaga bekas restoran Freddy Fazbear’s Pizza yang sudah terbengkalai. Tugasnya sederhana yakni untuk menjaga kebersihan di tempat tersebut serta mencegah orang untuk masuk ke lokasi tersebut. Satu hal yang Mike tidak ketahui, para robot di sana rupanya hidup dan memangsa manusia.

Entah seperti apa gimnya, namun kemiripan plotnya dengan film Willy’s Wonderland memang tidak terelakkan. Lokasi keduanya adalah tempat hiburan anak-anak yang terbengkalai dengan para robot animatronik yang brutal. Sementara Willy’s adalah film menghibur melalui penampilan memikat sang bintang (Nick Cage), Freddy’s justru sebaliknya. Apa yang dijanjikan premisnya, tak mampu disajikan menggigit dan membekas dalam plotnya, baik sisi horor, ketegangan, hingga tentu aksi brutal para robotnya. Kisahnya pun terasa absurd dengan selipan sisi trauma yang membingungkan dan entah bagaimana, roh bisa merasuki para robot (tentu ini adalah premis gimnya). Nyaris tak ada aspek yang menghibur, kecuali visualisasi para robotnya.

Baca Juga  Infinite

Banyak kemiripan dengan Willy’s Wonderland, Five Nights at Freddy’s tak mampu mengolah potensi premisnya yang absurd, dan satu hal krusial, kurang menghibur. Willy’s unggul dari semua aspeknya serta penampilan langka dari sang bintang. Saya belum pernah memainkan gimnya, namun jelas film ini bukanlah sesuatu yang fun dan menghibur seperti diharapkan gimnya. Jika ingin tontonan horor senada yang memuaskan dan menghibur, Willy’s Wonderland adalah jawabannya.

1
2
PENILAIAN KAMI
Overall
50 %
Artikel SebelumnyaNight of the Hunted
Artikel BerikutnyaThe Concierge
His hobby has been watching films since childhood, and he studied film theory and history autodidactically after graduating from architectural studies. He started writing articles and reviewing films in 2006. Due to his experience, the author was drawn to become a teaching staff at the private Television and Film Academy in Yogyakarta, where he taught Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory from 2003 to 2019. His debut film book, "Understanding Film," was published in 2008, which divides film art into narrative and cinematic elements. The second edition of the book, "Understanding Film," was published in 2018. This book has become a favorite reference for film and communication academics throughout Indonesia. He was also involved in writing the Montase Film Bulletin Compilation Book Vol. 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Additionally, he authored the "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). Until now, he continues to write reviews of the latest films at montasefilm.com and is actively involved in all film productions at the Montase Film Community. His short films have received high appreciation at many festivals, both local and international. Recently, his writing was included in the shortlist (top 15) of Best Film Criticism at the 2022 Indonesian Film Festival. From 2022 until now, he has also been a practitioner-lecturer for the Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts in the Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.