Film tentang Perang di Afghanistan sudah diproduksi untuk kesekian kalinya, namun kali ini diinspirasi dari sebuah kisah nyata yang belum lama ini terjadi (2018). Guy Ritchie’s The Covenant adalah film thriller perang yang ditulis, diproduseri, dan diarahkan oleh sineas kawakan Guy Ritchie. Film berdurasi 123 menit ini dibintangi oleh Jake Gyllenhaal, Dar Salim, dan Alexander Ludwig. Ritchie yang baru lalu merilis film aksi spionase komedi Operation Fortune: Ruse de Guerre, siapa sangka, dalam film terbarunya ini, ia mengambil pendekatan yang sama sekali berbeda.

Sersan John Kinley (Gyllenhaal) memimpin pasukan militer yang bermisikan untuk mencari persenjataan serta bom yang disembunyikan oleh pihak Taliban dari lokasi ke lokasi. Misi terakhir John menewaskan seorang anak buahnya, sehingga ia direkomendasikan atasannya seorang tentara relawan lokal bernama Ahmed (Salim) sebagai penerjemah. Ahmed rupanya tidak hanya mahir soal bahasa, namun membaca situasi sehingga beberapa kali timnya lolos dari maut. Suatu ketika dalam sebuah misi yang berjarak 120 km dari markas, tanpa diduga, tempat tersebut rupanya adalah gudang senjata taliban. Dalam serangan yang tak berimbang, pasukan Kinley terpukul mundur, hanya bersisa Kinley dan Ahmed. Kinley pun cedera dan Ahmed berniat membawa sang sersan kembali ke markas dengan berjalan kaki serta ratusan pasukan musuh yang mengintai mereka.

Dari judul titelnya sudah menggambarkan sesuatu yang tak biasa untuk film garapan sang sineas. Guy Ritchie’s The Covenant adalah sebuah kejutan besar. Ini adalah kali pertama sang sineas membuat film bertema drama dengan terfokus hanya dua orang karakter saja. Lazimnya, sang sineas menggunakan cara bertutur multi subplot dengan belasan tokoh yang kisahnya penuh intrik dan kejutan. Tak ada selipan komedi sama sekali serta bintang regulernya, Jason Statham. The Covenant adalah murni film aksi drama serius yang diadaptasi dari kisah sungguhan. Ini mungkin mengapa, ia menuliskan namanya pada judul titelnya sekadar untuk mengingatkan fansnya bahwa film ini dibuat olehnya.

Baca Juga  Beauty and the Beast

Lepas dari gaya bercerita dan estetiknya, siapa sangka Ritchie rupanya mampu memproduksi film bertema mirip Lone Survivor arahan Peter Berg dengan sama bagusnya. Antisipasi plotnya rasanya tidak sulit, namun proses kisahnya teramat intens, terutama pada paruh kedua cerita. Tidak hanya soal aksi semata, sang sineas juga tumben-tumbenan bersikap kritis dengan menyinggung bobroknya sistem inteligen militer AS dengan segala birokrasinya yang rumit. Entah plotnya loyal dengan kisah aslinya atau tidak, memang bukan urusan kita. Naskahnya terbilang solid dan rapi dalam menyajikan proses dan ketegangan kisahnya, khususnya segmen klimaks yang begitu intens.

Dengan pendekatan yang segar, Guy Ritchie’s The Covenant menjadi pembuktian bagi sang sineas untuk mampu memproduksi film drama thriller yang intens dan menggugah. Untuk urusan aksi, tentu sang sineas sudah tidak lagi kita ragukan dengan setting lokasi yang meyakinkan pula. Terlepas dari segala bentuk politik AS di Afghanistan, kisah film ini setidaknya mencoba memperlihatkan satu sisi dari kebijakan yang diambil pemerintah AS rupanya mengorbankan banyak pihak, khususnya warga Afghanistan. Tentara dan para relawannya yang memiliki komitmen penuh dan berkorban banyak untuk negeri mereka adalah korban sesungguhnya. Sang sineas dengan pendekatan barunya, telah mampu mengirimkan pesannya dengan sangat baik.

1
2
PENILAIAN KAMI
Overall
75 %
Artikel SebelumnyaBuya Hamka
Artikel BerikutnyaTilik the Series: Menilik Situasi Lebih Besar sebagai Kepedulian terhadap Lingkungan
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). A lifelong cinephile, he developed a profound passion for film from an early age. After completing his studies in architecture, he embarked on an independent journey exploring film theory and history. His enthusiasm for cinema took tangible form in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience eventually led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched students’ understanding through courses such as Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended well beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, Understanding Film, an in-depth examination of the essential elements of cinema, both narrative and visual. The book’s enduring significance is reflected in its second edition, released in 2018, which has since become a cornerstone reference for film and communication scholars across Indonesia. His contributions to the field also encompass collaborative and editorial efforts. He participated in the compilation of Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1–3 and 30 Best-Selling Indonesian Films 2012–2018. Further establishing his authority, he authored Horror Film Book: From Caligari to Hereditary (2023) and Indonesian Horror Film: Rising from the Grave (2023). His passion for cinema remains as vibrant as ever. He continues to offer insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com while actively engaging in film production with the Montase Film Community. His short films have received critical acclaim at numerous festivals, both nationally and internationally. In recognition of his outstanding contribution to film criticism, his writing was shortlisted for years in a row for Best Film Criticism at the 2021-2024 Indonesian Film Festival. His dedication to the discipline endures, as he currently serves as a practitioner-lecturer in Film Criticism and Film Theory at the Indonesian Institute of the Arts Yogyakarta, under the Independent Practitioner Program from 2022-2024.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses