Hellboy II: The Golden Army (2008)
120 min|Action, Adventure, Fantasy|11 Jul 2008
7.0Rating: 7.0 / 10 from 285,003 usersMetascore: 78
A prince of the mythical world starts a rebellion against humanity in order to rule the Earth. Hellboy and his team must fight to stop him from locating the all-powerful Golden Army.

Sineas berbakat, Guillermo Del Toro rupanya masih dipercaya menangani sekuel Hellboy (2004), yakni Hellboy II The Golden Army (2008), setelah belum lama ini ia juga sukses dengan Pan’s Labyrinth (2006). Seperti film pertamanya Del Toro tidak hanya mengarahkan filmnya namun juga kembali menulis naskahnya. Sebagian besar para pemain kunci juga kembali bermain dalam film sekuelnya ini, antara lain, Ron Perlman, Doug Jones, Selma Blair, serta Jeffry Tambor.

Hellboy aka “Red” (Perlman) bersama rekan-rekannya, Abe (Jones), Liz (Blair), dan Krauss (Seth Mac Farlene), kali ini harus mencegah Pengeran Nuada untuk memimpin sebuah pasukan mekanik tak terkalahkan yang dinamakan “Golden Army”. Saudari Kembar Nuada, Putri Nuala menjadi kunci karena ia membawa peta lokasi serta kepingan terakhir mahkota suci untuk menghidupkan Golden Army. Red dan kawan-kawan membawa sang putri ke markas namun Nuada tanpa kesulitan mampu menyelinap masuk dan menculik sang putri. Red kawan-kawan harus bergegas menuju sebuah pulau lokasi The Golden Army sebelum sang pangeran menghidupkan pasukan tersebut.

Plotnya secara keseluruhan tidak berbeda banyak dari seri pertamanya, masih memakai formula yang sama, intinya Hellboy dkk menghadapi kekuatan jahat (dari dunia supernatural) yang ingin menguasai dunia. Tidak seperti film pertamanya, nuansa roman kali ini terasa lebih kental, tidak hanya hubungan Red dan Liz namun juga antara Abe dan Nuala. Hubungan asmara ini pula yang banyak mempengaruhi titik perubahan plotnya. Demi cinta apapun dilakukan sekalipun dunia hancur. Satu contohnya, Abe akhirnya menyerahkan kepingan mahkota pada Nuada untuk bisa menyelamatkan sang putri. Lucu sekali, apa yang harus diselamatkan? Jika Nuada membunuh Nuala sekalipun, mereka berdua tewas (ikatan saudara kembar). Nuada jelas tak mau mati, lantas apa ruginya tidak menyerahkan kepingan tersebut? Kenapa pula kepingan tersebut tidak dihancurkan (Liz) sejak awal? Masalah pasti selesai. Satu lagi, kenapa Nuala tidak membunuh dirinya saja lebih awal? Motif bunuh diri Nuala rasanya masih lemah, beda misalnya jika nyawa Abe dalam bahaya. Ah whatever… the show must go on anyway

Ron Perlman kembali bermain begitu mengesankan memerankan sosok Hellboy. “Oh Crap…” masih menjadi kata-kata favorit Red walau kini ia ucapkan tidak sebanyak di film pertama. Perlman dengan memukau dan penuh pesona memerankan sosok Red yang kasar, bertemperamental tinggi, tidak suka bertele-tele, namun juga berhati lembut. Gaya khasnya adalah ucapan serta joke-joke-nya yang spontan kadang tanpa mempedulikan orang lain. “I’m not gonna kill him, Abe, but i’m gonna kick his a** ”. Aneh rasanya jika kita lebih menunggu joke-joke Red ketimbang aksi fisiknya. Satu lagi karakter “nyentrik” yang menarik perhatian, adalah Johann Krauss si “manusia gas” (gas bag istilah Red) dengan aksen Jerman yang khas. Tak disangka karakter yang tampak begitu lemah ternyata begitu kuat secara fisik. Konflik-konflik kecil antara Krauss dan Red juga banyak memicu banyolan berkualitas. “I think i can’t take u….” ucap Krauss pada Red di ruang ganti yang memicu konflik fisik antara mereka berdua. Sementara dua karakter kunci lainnya, Abe dan Liz tidak banyak berperan seperti di film pertamanya, kesannya cuma sekedar pelengkap. Pada adegan klimaks misalnya, Liz dan Abe tidak banyak membantu Red dan Krauss untuk melawan Golden Army. Mana apinya Liz?

Baca Juga  WandaVision

Seperti film-film Del Toro sebelumnya, Blade II, Hellboy, hingga Pan’s LabyrinthHellboy 2juga memiliki karakter-karakter yang unik serta setting suasana gelap bergaya ekspresionis, seperti tampak dominan pada sekuen klimaks. Selain Hellboy serta Abe, Del Toro juga kembali menampilkan karakter-karakter non manusia dengan bentuk ekspresif yang ditampilkan begitu meyakinkan seperti, Johann Krauss, Wink, Goblin, serta Angel of Death. Sementara adegan-adegan aksinya rasanya masih lebih baik film pertamanya ketimbang sekuelnya ini. Adegan aksinya tampak kurang dinamis (mobil) karena hanya berlangsung di seputar lokasi yang sama. Gaya bertarung Hellboy sepertinya lebih cocok jika selalu berpindah-pindah dari tempat satu ke tempat lain. Adegan aksi yang lumayan tampak pada sekuen klimaks, patut dicatat aksi pertarungan antara Krauss (merasuk ke dalam salah satu “robot”) dengan Golden Army. Bicara soal ilustrasi musik, agak mengagetkan ketika pada end tittle tercantum nama komposer Danny Elfman. Elfman yang telah mengaransemen ilustrasi musik film-film besar seperti Batman dan Spiderman seperti kehilangan sentuhannya. Sama sekali tidak ada karakter yang kuat dalam ilustrasi musiknya.

Hellboy II The Golden Army secara umum tidak lebih baik daripada film pertamanya. Plot rasanya masih bisa dieksplor lebih baik lagi sehingga karakter-karakter utama bisa mendapatkan porsi cerita yang proporsional. Kisah asmara juga bisa digali lebih dalam sehingga tidak tampak seperti tempelan semata. Satu momen yang cukup berkesan (“humanis”) terdapat pada adegan ketika Red dan Abe yang tengah dilanda asmara menyanyikan lagu Can’t Smile without You (Barry Manillow). Sebagai kata penutup, Hellboy 2 merupakan film yang cukup menghibur penonton, namun rasanya sulit dinikmati jika tidak menonton film pertamanya dan sekali lagi, tanpa Ron Perlman film ini tidak bertaji sama sekali.

PENILAIAN KAMI
Overall
70 %
Artikel SebelumnyaDari Redaksi mOntase
Artikel BerikutnyaDeath Race
His hobby has been watching films since childhood, and he studied film theory and history autodidactically after graduating from architectural studies. He started writing articles and reviewing films in 2006. Due to his experience, the author was drawn to become a teaching staff at the private Television and Film Academy in Yogyakarta, where he taught Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory from 2003 to 2019. His debut film book, "Understanding Film," was published in 2008, which divides film art into narrative and cinematic elements. The second edition of the book, "Understanding Film," was published in 2018. This book has become a favorite reference for film and communication academics throughout Indonesia. He was also involved in writing the Montase Film Bulletin Compilation Book Vol. 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Additionally, he authored the "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). Until now, he continues to write reviews of the latest films at montasefilm.com and is actively involved in all film productions at the Montase Film Community. His short films have received high appreciation at many festivals, both local and international. Recently, his writing was included in the shortlist (top 15) of Best Film Criticism at the 2022 Indonesian Film Festival. From 2022 until now, he has also been a practitioner-lecturer for the Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts in the Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.