Era Roger Moore

Saltzman dan Broccoli masih saja berusaha merayu Connery untuk bisa bermain di film Bond berikutnya namun sang aktor menolak. Beberapa aktor menjadi incaran, diantaranya bahkan aktor kondang Amerika, Clint Eastwood namun ia menolak lantaran Bond menurutnya harus diperankan aktor asal Inggris. Akhirnya aktor Roger Moore yang terpilih. Moore sebelumnya sudah dikenal publik Inggris melalui seri televisi The Saint sebagai Simon Templar. Moore sendiri membawa perubahan besar bagi karakter Bond dengan pembawaan yang lebih santai dan penuh humor. Formula ini rupanya berhasil karena film-film Bond yang dibintangi Moore nyaris seluruhnya sukses luar biasa dan tercatat pula Moore adalah bintang yang paling banyak bermain dalam film James Bond. Moore juga tercatat sebagai aktor tertua ketika bermain pertama kali sebagai Bond, yakni 45 tahun.

Live and Let Die (1975) adalah film Bond pertama Moore dan lagi-lagi Saltzman dan Broccoli memilih Guy Hamilton di bangku sutradara. Film ini sangat terpengaruh isu rasialisme serta blaxploitation film pada era ini dan secara berani menawarkan tema plot yang berbeda dengan film-film Bond sebelumnya, yakni tentang perdagangan narkoba. Ini adalah untuk kali pertama peran antagonis utama dan Bond girl adalah aktor dan aktris berkulit hitam. Pengamat banyak menyorot karakter antagonis yang dinilai kurang “jahat” namun banyak memuji sekuen aksinya yang sangat menawan. Musik dan lagu adalah yang paling dikenal bahkan diantara film-film Bond lainnya, menampilkan lagu ”Live and Let Die” yang dinyanyikan Paul Mc Cartney mantan personel The Beatles. Film berbujet $7 juta ini diluar dugaan mampu meraih penghasilan kotor $161 juta jauh melebihi film-film yang dibintangi Connery.

Film kesembilan Bond, The Man with Golden Gun (1974) sebenarnya sudah dalam rencana Saltzman dan Broccoli setelah produksi You Only Live Twice, namun gagal terealisasi. Film ini adalah film Bond terakhir kolaborasi Saltzman dan Broccoli. Untuk keempat kalinya, Guy Hamilton duduk di bangku sutradara dengan suntikan bujet $7. Filmnya banyak dipengaruhi oleh film-film Kung Fu yang populer kala itu serta isu krisis energi. Pengamat sendiri menganggap film ini adalah yang terburuk diantara film-film Bond sebelumnya, terutama karena pendekatan komedinya yang berlebihan. Namun penampilan Christopher Lee sebagai antagonis banyak dipuji serta “pistol emas rakitan” yang digunakan Lee menjadi salah satu properti Bond yang paling dikenang. Film ini sendiri tercatat film yang paling rendah raihan pendapatannya diantara film-film Bond yang dibintangi Moore, yakni $97,6 juta.

Probem finansial dan pribadinya membuat Saltzman memilih menjual separuh saham Danjaq pada UA. Hal ini berakibat pada jeda panjang produksi film Bond selanjutnya selama 3 tahun. Untuk pertama kalinya nama Saltzman tidak hadir dalam kredit pembuka. The Spy Who Loved Me (1977) adalah untuk pertama kalinya film Bond hanya menggunakan judul novelnya sementara plotnya sendiri berbeda dari novelnya. Blofeld dan SPECTRE yang menjadi musuh di novel diganti dengan Stomberg. Sekali pun begitu The Spy Who Loved sukses luar biasa secara komersil dan kritik dan dianggap sebagai film Bond milik Moore yang terbaik. Sineas Lewis Gilbert yang menggarap You Only Live Twice kembali membuat film Bond berskala epik dengan setting yang megah dengan bujet $14 juta. Nilai lebih filmnya diantaranya, Gadget berupa mobil Lotus Esprit yang mampu menyelam dalam air, musuh Bond legendaris, Jaws, chemistry Moore dengan aktris Barbara Bach yang dianggap sebagai salah satu Bond girl terbaik, lalu musik dan lagu tema Bond dengan sentuhan berbeda. Film ini juga tercatat film Bond terlaris, $185 juta plus tiga nominasi Oscar.

Dalam end credit, The Spy Who Loved Me, tertulis, “James Bond will return in For Your Eyes Only”, namun nyatanya film Bond berikutnya adalah Moonraker (1979). Tema luar angkasa dipilih karena sukses luar biasa Star Wars (1977) yang mewabah dimana-mana. Lewis Gilbert kembali dipercaya menangani film berskala kolosal ini dengan bujet fenomenal, $34 juta. Film ambisius ini terbukti sukses besar dan menjadi film Bond terlaris yang mampu melewati angka $200 juta, yakni 210 juta. Film ini dipuji karena tata artistik, efek visual, serta adegan-adegan aksinya yang mengagumkan. Opening sequence-nya bahkan hingga kini dianggap sebagai yang terbaik dan paling menegangkan diantara semua film Bond. Musik dan lagu garapan John Barry juga memiliki sentuhan berbeda dengan banyak memasukkan musik klasik. Shirley Bassy tercatat kali ketiga menjadi penyanyi lagu tema Bond, yakni Goldfinger, Diamonds Are Forever, dan Moonraker. Jaws, musuh eksentrik Bond sebelumnya tampil kembali dan kali ini beralih menjadi sekutu di akhir film. Film ini juga film terakhir yang menampilkan Bernard Lee sebagai M yang selalu tampil sejak Dr. No.

Setelah sukses besar Moonraker yang benuansa fiksi-ilmiah, Broccoli menginginkan film Bond dengan pendekatan yang lebih realistik. Film keduabelas Bond, For Your Eyes Only (1981) mengutamakan tema balas dendam dengan plot sederhana tanpa setting yang megah dan gagdet canggih. Hal yang unik adalah editor tiga film Bond sebelumnya, John Glenn, kini dipercaya menjadi sutradara. Kelak Glenn pula yang mengarahkan empat film Bond selanjutnya dan tercatat menjadi sineas Bond terbanyak. Dalam aksi opening sequence-nya untuk kali terakhir menampilkan karakter Blofeld. Sekalipun banyak pengamat beropini berbeda namun film ini terhitung sukses besar dengan meraih hampir, $200 juta. Sementara Moore yang saat itu berumur 54 tahun dinilai terlalu tua untuk berperan sebagai Bond dibandingkan dengan dua Bond girl yang masih berusia belia. Ini adalah film terakhir Bond yang didistribusi UA, setelah rilis film ini, UA merger dengan MGM.

Baca Juga  The Spy Who Loved Me, Formula Sukses Tradisi Bond

Moore sebenarnya keberatan bermain untuk film Bond berikutnya, karena kontrak kerja juga telah selesai, namun persaingan dengan film James Bond lainnya di tahun yang sama, dibintangi Sean Connery, memaksa Broccoli untuk kembali menggunakan aktor yang telah mapan. Octopussy (1983) kisahnya diambil dari cerita pendek karya Fleming dan memilih pendekatan realistik seperti sebelumnya tanpa gadget dan setting yang megah. Sekalipun banyak pengamat menganggap sebagai film Bond terburuk namun film ini sukses komersil bahkan masih lebih sukses daripada film Bond non EON, Never Say Never Again (1983). Never Say Never Again sendiri adalah produksi studio independen, dimana Connery mengontrol naskah, kasting, serta tentu fee yang tinggi. Film ini sendiri dipuji banyak pengamat sekalipun banyak elemen Bond produksi EON tidak boleh digunakan karena hak cipta, seperti musik tema. Film ini adalah film terakhir Bond yang diproduksi oleh studio non EON Productions.

Film keempatbelas Bond, A View to a Kill (1985) merupakan akhir dari penampilan Roger Moore. Albert Broccoli juga kini memiliki partner baru, Michael G. Wilson, yang pada film-film sebelumnya telah menjadi eksekutif produser. John Glenn kembali menggarap film Bond ketiganya, dengan bujet $30 juta. Sama seperti Octopussy sekalipun sukses komersil ($152 juta) namun film ini dianggap sebagai salah satu film Bond yang terburuk, salah satu faktornya adalah Moore yang telah dinilai terlalu tua (58 tahun). Moore sendiri juga menyesali perannya sebagai Bond di film ini. Tercatat pula adalah peran terakhir bagi Lois Maxwell yang telah bermain sebagai Miss Money Penny sejak Dr. No. Namun, berbanding terbalik dengan filmnya, lagu tema filmnya, “A View to Kill”, yang dibawakan Duran Duran justru populer dimana-mana.

NEXT: Era Timothy Dalton

1
2
3
4
5
Artikel SebelumnyaFrom Russia With Love
Artikel BerikutnyaDari Redaksi
His hobby has been watching films since childhood, and he studied film theory and history autodidactically after graduating from architectural studies. He started writing articles and reviewing films in 2006. Due to his experience, the author was drawn to become a teaching staff at the private Television and Film Academy in Yogyakarta, where he taught Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory from 2003 to 2019. His debut film book, "Understanding Film," was published in 2008, which divides film art into narrative and cinematic elements. The second edition of the book, "Understanding Film," was published in 2018. This book has become a favorite reference for film and communication academics throughout Indonesia. He was also involved in writing the Montase Film Bulletin Compilation Book Vol. 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Additionally, he authored the "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). Until now, he continues to write reviews of the latest films at montasefilm.com and is actively involved in all film productions at the Montase Film Community. His short films have received high appreciation at many festivals, both local and international. Recently, his writing was included in the shortlist (top 15) of Best Film Criticism at the 2022 Indonesian Film Festival. From 2022 until now, he has also been a practitioner-lecturer for the Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts in the Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.