Ketika Berhenti di Sini

Mental illness atau kondisi kejiwaan tak baik-baik saja makin jadi kekhawatiran dan perhatian dari hari ke hari. Pasca-Kukira Kau Rumah, baik Umay Shahab maupun Prilly Latuconsina juga memiliki perhatian terhadap itu melalui film kedua mereka, yakni Ketika Berhenti di Sini. Umay pun tak sekadar mengarahkan, tetapi turut menulis pula skenario film secara keroyokan bersama Alim Sudio dan Monty Tiwa. Produksi film drama roman psikologis ini dilakukan Sinemaku Pictures yang berasosiasi dengan Legacy Pictures. Para pemerannya yaitu Prilly, Bryan Domani, Refal Hady, Lutesha, Sal Priadi, Widyawati, dan Cut Mini Theo. Akankah muatan mental illness dalam film ini semasif Kukira Kau Rumah?

Sepeninggalan sang ayah, Dita (Prilly) memendam trauma kehilangan karena ditinggal pergi orang tersayang. Di tengah persahabatan eratnya dengan Ifan (Refal) dan dua lainnya (Lutesha dan Sal), ia bertemu Ed (Bryan) melalui sebuah tempat perbaikan gawai. Pertemuan yang melahirkan hubungan percintaan amat lekat dan saling membutuhkan, hingga berujung saling menuntut dan mempertanyakan. Dita pun lagi-lagi merasakan traumanya muncul kembali saat hubungannya dengan Ed sedang berjalan tak sehat. Sampai akhirnya sebuah insiden fatal terjadi.

Mental illness ada banyak sekali ragamnya. Bahkan masing-masing masih terbagi lagi menjadi mayor dan minor. Namun, rasanya, baik dalam Kukira Kau Rumah maupun Ketika Berhenti di Sini, keduanya secara masif dan meluap-luap menampilkan versi mayor dalam beragam adegan ledakan emosional. Tak lupa pula untuk menyampaikan beberapa kata kunci berupa masalah kejiwaan yang coba untuk diangkat. Bila tak keliru mengambil intisari, Ketika Berhenti di Sini menyoal gangguan kecemasan, insecure, dan trauma kehilangan atas meninggalnya orang tersayang. Tak lupa pula memasukkan depresi.

Sebetulnya, satu kesamaan antara Ketika Berhenti di Sini dan Kukira Kau Rumah adalah pemicu (kembali) kekacauan psikologis sang tokoh utama. Keduanya sama-sama mengalami ledakan emosi lagi setelah mengalami percintaan. Akibatnya, alur berikutnya menjadi agak bisa ditebak. Bahwa serangkaian adegan berpacaran yang menunjukkan interaksi terlalu meluap-luap, akhirnya bakal meluber ke luar wadah dan meretakkan hubungan itu sendiri. Salah satunya ialah melalui “kematian instan”. Tanda-tandanya jelas, sehingga penonton akan melakukan antisipasi dan mengurangi keterkejutan. Haruskah pula ada “pengorbanan” hanya untuk “menyembuhkan” psikologis sang tokoh utama agar berdamai dengan masalah atau traumanya?

Baca Juga  Wish

Kendati demikian, visual Ketika Berhenti di Sini kelewat nyaman untuk dinikmati. Anggi Frisca memang tak pernah gagal dalam menyajikan gambar-gambar ciamik melalui pertimbangan sinematografinya selama ini. Sekalipun bukanlah dokumenter maupun film berlatarkan lanskap atau pemandangan luas. Walau kerap kali pada saat yang sama mesti bekerja sama dengan editor, penata busana, penata rias, dan bagian pewarnaan gambar untuk bisa memaksimalkan tiap-tiap gambar. Bagaimanapun, ciri khas Frisca telah kadung berupa shotshot luas. Jadi untuk merespons ruang-ruang sempit, butuh bantuan dari bagian lainnya.

Olah peran Prilly sebagai Dita pun sudah memenuhi kebutuhan cerita. Meski perilaku meledak-ledaknya jadi sukar dibedakan dengan karakternya dalam Kukira Kau Rumah, baik saat marah, sedih, kalut, senang, maupun takut. Saking dominan karakter Dita, sinar dari tokoh-tokoh lain jadi agak redup. Terlihat, tetapi tak mengimbangi. Walau setidaknya Bryan Domani menunjukkan perbaikan melalui aktingnya kali ini. Tak signifikan, tetapi ada. Lain hal Refal Hady yang “lagi-lagi” memerankan tokoh penyabar yang marahnya kadang-kadang. Ada semacam easter egg atau pesan tersembunyi pula rupanya, melalui salah satu adegan dan berhubungan dengan geng Mencuri Raden Saleh.

Ketika Berhenti di Sini menjadi film kedua bagi Umay dan Prilly yang masih mengangkat topik-topik ihwal mental illness. Menarik untuk mengikuti perhatian mereka terhadap masalah yang hingga hari ini masih belum dianggap penting oleh semua orang. Walau implementasi ke dalam film yang mereka lakukan kali ini memiliki kemiripan cukup banyak dengan film sebelumnya. Begitu pula tokoh utamanya. Terlepas dari adanya ide untuk memasukkan kecanggihan teknologi seputar kecerdasan buatan (AI) lewat sebuah kacamata. Secara keseluruhan, kesan yang tercipta justru memanfaatkan kesuksesan film sebelumnya dengan pola, format, atau gaya dan pemeran yang sama.

Perihal waktu itu, beberapa penonton Kukira Kau Rumah yang juga mengenal bipolar menyampaikan klaim tidak sepakat, ihwal cara film tersebut menghadirkan bipolar. Lantas, bagaimana tanggapan terhadap sejumlah kondisi mental illness dan respons orang-orang terdekat dalam Ketika Berhenti di Sini? Apakah bakal ada lagi anggapan tentang kekurangan riset atau ketidaktepatan?

PENILAIAN KAMI
Overall
70 %
Artikel SebelumnyaSecret Invasion
Artikel BerikutnyaTwisted Metal
Miftachul Arifin lahir di Kediri pada 9 November 1996. Pernah aktif mengikuti organisasi tingkat institut, yaitu Lembaga Pers Mahasiswa Pressisi (2015-2021) di Institut Seni Indonesia Yogyakarta, juga turut andil menjadi salah satu penulis dan editor dalam media cetak Majalah Art Effect, Buletin Kontemporer, dan Zine K-Louder, serta media daring lpmpressisi.com. Pernah pula menjadi kontributor terpilih kategori cerpen lomba Sayembara Goresan Pena oleh Jendela Sastra Indonesia (2017), Juara Harapan 1 lomba Kepenulisan Cerita Pendek oleh Ikatan Penulis Mahasiswa Al Khoziny (2018), Penulis Terpilih lomba Cipta Puisi 2018 Tingkat Nasional oleh Sualla Media (2018), dan menjadi Juara Utama lomba Short Story And Photography Contest oleh Kamadhis UGM (2018). Memiliki buku novel bergenre fantasi dengan judul Mansheviora: Semesta Alterna􀆟f yang diterbitkan secara selfpublishing. Selain itu, juga menjadi salah seorang penulis top tier dalam situs web populer bertema umum serta teknologi, yakni selasar.com dan lockhartlondon.com, yang telah berjalan selama lebih-kurang satu tahun (2020-2021). Latar belakangnya dari bidang film dan minatnya dalam bidang kepenulisan, menjadi motivasi dan alasannya untuk bergabung dengan Komunitas Film Montase sejak tahun 2019. Semenjak menjadi bagian Komunitas Film Montase, telah aktif menulis hingga puluhan ulasan Film Indonesia dalam situs web montasefilm.com. Prestasi besar terakhirnya adalah menjadi nominator Festival Film Indonesia 2021 untuk kategori Kritikus Film Terbaik melalui artikel "Asih, Cermin Horor Indonesia Kontemporer" bersama rekan penulisnya, Agustinus Dwi Nugroho.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.