Morgan (2016)

92 min|Action, Horror, Sci-Fi|02 Sep 2016
5.8Rating: 5.8 / 10 from 45,995 usersMetascore: 48
A corporate risk-management consultant must decide whether or not to terminate an artificially created humanoid being.

Luke Scott adalah putra dari sineas kondang Ridley Scott yang melakukan debut sutradara melalui film thriller fiksi ilmiah, Morgan. Dengan berbekal bujet minim, Luke mencoba genre yang membesarkan nama ayahnya dan boleh dibilang film ini adalah kombinasi antara Blade Runner dan Alien. Hasilnya pun tidak terlalu buruk dan ia mampu menunjukkan potensinya sebagai calon sineas tangguh.

Alkisah Morgan adalah uji coba manusia hibrid yang terlibat sebuah insiden kecil yang mencederai mentornya. Akhirnya perusahaan mengirim Lee Weathers sebagai konsultan untuk melihat situasi terkini di laboratorium terpencil tersebut. Situasi yang terkontrol mendadak berubah ketika Morgan mengamuk dalam sesi evaluasinya.

Kisahnya sebenarnya sangat menarik serta punya potensi besar dan sineas pun telah berusaha keras mengemas filmnya sebaik mungkin. Namun yang menjadi masalah besar adalah sejak awal film ini terlalu mudah untuk diantisipasi. Penonton yang awas pasti sudah menyadari sejak awal kisahnya berjalan. Jika saja tokoh penting ini terlihat wajar sejak awal mungkin hasilnya bisa berbeda. Sisi humanis Morgan juga menarik jika dieksplorasi lebih jauh walau sudah banyak film yang menggunakan kisah sejenis namun pendekatan berbeda bisa dilakukan. Satu contoh adalah adegan wawancara Morgan dengan Dr. Shapiro adalah adegan terbaik dalam filmnya. Sisi psikologis dan thriller bisa lebih dipertajam dan pertarungan klimaks akan bisa lebih dramatis. Sayang sekali.

Baca Juga  Terminator Genisys

Film ini didukung sederetan kasting senior, sebut saja Paul Giamatti, Michelle Yeoh, Jennifer Jason leigh, serta Toby Jones. Munculnya mereka memang menambah atmosfir film menjadi berbeda dengan kematangan akting mereka namun tetap saja masih kurang mengangkat filmnya. Kate Mara yang kali ini berperan dingin dan tentu saja Anya Taylor-Joy sebagai manusia artifisial yang rapuh juga sudah baik membawakan perannya masing-masing. Sekali lagi naskah mengecewakan penampilan mereka yang telah bermain maksimal.

Morgan menandai sineas Luke Scott yang mewarisi bakat sang ayah namun kisahnya sebenarnya punya potensi untuk dieksplorasi lebih jauh dan terlalu mudah diantisipasi. Hasilnya adalah satu sajian thriller fiksi ilmiah yang kurang menggigit. Di luar kelemahannya, kita nantikan saja ke depan kiprah Luke, apakah ia mampu lepas dari sang ayah dan mampu menjadi sineas papan atas. Luke punya potensi untuk menjadi sutradara berkelas.

 

WATCH TRAILER

PENILAIAN KAMI
Overall
70 %
Artikel SebelumnyaWarkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! Part 1
Artikel BerikutnyaPete’s Dragon
His hobby has been watching films since childhood, and he studied film theory and history autodidactically after graduating from architectural studies. He started writing articles and reviewing films in 2006. Due to his experience, the author was drawn to become a teaching staff at the private Television and Film Academy in Yogyakarta, where he taught Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory from 2003 to 2019. His debut film book, "Understanding Film," was published in 2008, which divides film art into narrative and cinematic elements. The second edition of the book, "Understanding Film," was published in 2018. This book has become a favorite reference for film and communication academics throughout Indonesia. He was also involved in writing the Montase Film Bulletin Compilation Book Vol. 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Additionally, he authored the "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). Until now, he continues to write reviews of the latest films at montasefilm.com and is actively involved in all film productions at the Montase Film Community. His short films have received high appreciation at many festivals, both local and international. Recently, his writing was included in the shortlist (top 15) of Best Film Criticism at the 2022 Indonesian Film Festival. From 2022 until now, he has also been a practitioner-lecturer for the Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts in the Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.