Olympus Has Fallen (2013)
119 min|Action, Thriller|22 Mar 2013
6.5Rating: 6.5 / 10 from 293,359 usersMetascore: 41
Secret Service agent Mike Banning finds himself trapped inside the White House in the wake of a terrorist attack and works with national security to rescue the President from his kidnappers.

Olympus Has Fallen tercatat film paling gres yang menggunakan plot konvensional “Die Hard”. Setelah sekian banyak plot jenis ini apa lagi yang bisa ditawarkan film ini? Jelas tidak banyak. Seperti halnya Air Force One, film ini juga melibatkan Presiden AS dan para pengawal khususnya hanya kali ini kejadiannya di kediaman presiden sendiri, White House. Alkisah Mike Banning (Butler) adalah mantan pengawal presiden yang trauma akibat beberapa waktu sebelumnya menganggap dirinya gagal menjalankan tugas hingga menewaskan seorang keluarga presiden. Suatu ketika di siang hari bolong ketika kunjungan Presiden Korea Selatan, sekelompok teroris pimpinan Kang Yeonsak (Yune) mengambil-alih White House. Banning yang semula hanya ingin membantu rekan-rekannya justru terjebak di White House dan ia ternyata adalah satu-satunya harapan untuk bisa menyelamatkan Presiden.

Plotnya jelas sudah jauh dari orisinil dan sulit untuk bisa mengejutkan penonton, terlebih yang familiar dengan plot jenis ini. Faktor lokasi White House menjadi satu aspek pembeda dari film-film lainnya. Sepertiga awal filmnya adalah sebuah tontonan menarik bagaimana situasi “Die Hard” bisa terbentuk di salah satu bangunan yang konon paling aman di dunia ini? Lalu bagaimana underdog seperti Mike Banning bisa terjebak dalam sebuah situasi luar biasa? Ya memang hanya ini. Dua pertiga kisah selanjutnya, bagaimana Mike bisa keluar dari situasi ini sudah bisa ditebak seperti apa. Sisanya hanya menampilkan standar aksi masa kini, baku-tembak yang bising, ledakan disana-sini, aksi kekerasan, dan sedikit drama. Tak ada kejutan berarti. Fuqua yang kita kenal dengan film-filmnya seperti Training Day, kini kehilangan sentuhan dramatiknya.

Baca Juga  Mika, Cinta Remaja dalam Ketidaksempurnaan

Satu hal yang justru mengejutkan adalah jajaran kastingnya. Siapa sangka aktris bintang sekelas Ashley Judd yang berperan sebagai first lady hanya bermain sekilas saja. Aktor sekelas Butler, Freeman, Eckhart, dan McDermott jelas menjanjikan sebuah drama aksi yang berkelas namun sayangnya bintang-bintang senior tersebut tak mampu mengangkat banyak filmnya. Bicara soal adegan aksi, tercatat beberapa sekuen aksi memang lumayan walau tak masuk nalar, seperti ketika pesawat teroris secara mengejutkan menyerang White House dan kota Washington. Setting White House yang tidak mungkin menggunakan aslinya mampu disajikan cukup meyakinkan.

Olympus Has Fallen hanyalah film plot “Die Hard” biasa namun pencapaiannya jelas jauh lebih baik dari Die Hard 5 baru lalu. Andai karakter Mike Banning adalah John McClane. Alangkah menyenangkannya bisa melihat karakter McClane berlarian sambil baku tembak di White House. Maybe next time?

Artikel Sebelumnya5 cm, Antara Persahahatan, Percintaan, dan Cinta Tanah Air
Artikel BerikutnyaThe Rock, Adaptasi “Die Hard” Terbaik
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.