Ong-Bak

Sang Naga dari Thailand

0

Ong-Bak: The Thai Warrior (2003)
105 min|Action, Crime, Thriller|11 Feb 2005
7.1Rating: 7.1 / 10 from 77,896 usersMetascore: 69
When the head of a statue sacred to a village is stolen, a young martial artist goes to the big city and finds himself taking on the underworld to retrieve it.

Film ini bercerita tentang sosok Ting (Tony Jaa), pemuda dari Desa Ban Nong Pradu. Desa ini diyakini akan terancam kekeringan dan dilanda bencana karena sebuah kepala patung buddha Ong-Bak telah hilang dicuri oleh orang kota. Dengan berbekal ilmu bela diri Thai Boxing yang telah lama ia latih bersama biksu, dan sedikit uang yang dikumpulkan oleh warga desa, Ting pergi mencari patung tersebut. Ting dibantu sepupunya, Hamle (Petchtai) untuk membantu melacak dimana patung Ong-Bak berada. Selama pencarian, Ting berulang-kali terlibat masalah akibat ulah sepupunya. Mereka harus berhadapan dengan gangster dan Ting terlibat pertarungan sengit dengan para petarung-petarung underground.

Lupakan cerita! Seperti kebanyakan film aksi beladiri cerita bukan tujuan utama namun kelebihan Ong-Bak ada pada adegan-adegan aksinya yang khas. Thai Boxing dengan gaya bertarung unik dan luwes yang mengandalkan lutut dan sikut mampu dikoreografi dengan sangat menawan sehingga begitu indah dinikmati. Setiap scene aksi tarung memiliki warna yang berbeda dari outdoor hingga indoor, dari jalanan kota, bar, hingga kuil. Aspek sinematografi dan editing sangat mendukung kuat aksi-aksi pertarungan ini melalui kombinasi sudut dan jarak kamera, permainan slow-motion, serta cut yang efektif. Sebagai teknik andalan, terutama untuk gerakan-gerakan aksi sulit atau berbahaya, meminjam film-film aksi Hong Kong menggunakan teknik overlapping editing, yakni mengulangi sebuah shot dari beberapa sudut yang berbeda. Seperti segmen aksi ketika Ting dan Hamle dikejar-kejar para preman di gang-gang beberapa kali menggunakan teknik ini.

Baca Juga  Hostage: Missing Celebrity

Tony Jaa adalah bintang dalam film ini. Keahliannya dalam beladiri khas Thailand benar-benar dimanfaatkan secara maksimal, push the limit. Tony memang terbilang aktor baru namun hanya berbekal kemampuannya ini ia menjadi bintang besar. Musik latar benuansa tradisional juga menjadi pendukung kuat filmnya sebagai pengiring adegan-adegan aksinya. Secara keseluruhan saya memberikan acungan jempol untuk Prachya Pinkaew karena karena mampu menyuguhkan kemasan cerita yang pas untuk mendukung aksi-aksi spektakuler Tony Jaa. Kalau bisa dibandingkan dengan bintang-bintang laga di Asia, Tony Jaa terlihat mempunyai tiga karakter tokoh yang sebagai petarung terkenal di dunia film aksi Asia yaitu si legenda Bruce Lee, Jackie Chan dan Jet Li (kebetulan mereka bertiga juga merupakan idola Tony). Kecepatan, kelincahan serta ketangkasan dalam bertarung menjadi satu. Awesome!

WATCH TRAILER

Artikel SebelumnyaNang Nak
Artikel BerikutnyaFirst Love
His hobby has been watching films since childhood, and he studied film theory and history autodidactically after graduating from architectural studies. He started writing articles and reviewing films in 2006. Due to his experience, the author was drawn to become a teaching staff at the private Television and Film Academy in Yogyakarta, where he taught Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory from 2003 to 2019. His debut film book, "Understanding Film," was published in 2008, which divides film art into narrative and cinematic elements. The second edition of the book, "Understanding Film," was published in 2018. This book has become a favorite reference for film and communication academics throughout Indonesia. He was also involved in writing the Montase Film Bulletin Compilation Book Vol. 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Additionally, he authored the "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). Until now, he continues to write reviews of the latest films at montasefilm.com and is actively involved in all film productions at the Montase Film Community. His short films have received high appreciation at many festivals, both local and international. Recently, his writing was included in the shortlist (top 15) of Best Film Criticism at the 2022 Indonesian Film Festival. From 2022 until now, he has also been a practitioner-lecturer for the Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts in the Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.