Musim ketiga Only Murders in the Building baru berakhir minggu lalu. Meski ada beberapa aktor dan aktris terkenal yang tergabung dalam jajaran pemain, namun rasanya sulit untuk menandingi pesona musim pertama serial ini, meski tetap lebih baik jika dibandingkan film keduanya.

Series karya Steve Martin dan John Hoffman ini masih dibintangi oleh tiga tokoh utamanya, Steve Martin, Martin Short, dan Selena Gomez masing-masing sebagai Charles-Haden Savage, Oliver Putnam, dan Mabel Mora. Sedangkan para pemeran pendukung yang muncul kembali di musim ini di antaranya Howard Morris (Michael Cyril Creighton), Dinda Canning (Tina Fey), Theo Dimas (James Caverly), dan Detective Donna Williams (Da’vine Joy Randolph).

Pada musim ketiga ini ada dua bintang besar yang masuk menjadi karakter penting, yaitu Paul Rudd sebagai Ben Glenroy dan Meryl Streep sebagai Loretta Durkin. Juga ada Matthew Broderick dan Mel Brooks yang berperan sebagai diri mereka sendiri.

Berbeda dengan musim pertama dan keduanya, tempat kejadian pertama dalam film ini bukan terjadi di Apartemen Arconia, melainkan di sebuah panggung teater ketika pertunjukan masih berlangsung. Oliver akhirnya mendapat kesempatan untuk kembali menyutradarai pertunjukan teater. Sayangnya di malam pembukaan pertunjukan drama misteri berjudul Death Rattle, si aktor utama, Ben Glenroy terkapar di atas panggung Broadway. Ia diduga tewas keracunan.

Kabar tersebut membuat Oliver, produser Donna DeMeo (Linda Emond) dan putranya, Cliff DeMeo (Wesley Taylor), serta para pemain lainnya kelimpungan. Ketika mereka masih larut dalam kesedihan, Ben dengan wajah pucat berlari ke tempat mereka berkumpul, membuat semua terkejut. Tapi kegembiraan itu tak lama, Ben kemudian ditemukan tewas di  Arconia. Oliver, Charles, dan Marbel pun kembali bersatu untuk mengungkap pelaku pembunuhan tersebut.

Ada begitu banyak orang yang mereka curigai. Kecurigaan mengarah ke setiap pemain dan kru dengan beragam motifnya. Jonathan Bridgecroft (Jason Veasey) , Kimber  Min (Ashley Park) , dan manajer Ben, Dickie Glenroy (Jeremy Shamos), termasuk yang dicurigai. Siapa pelaku pembunuhan kali ini?

Series Only Murders in the Building memiliki pesona tersendiri yang membuat para penonton yang jatuh cinta dengan musim pertamanya, akan setia untuk mengikuti serial ini. Series ini memiliki banyak penggemar yang ikut asyik berteori tentang pelaku pembunuhan. Seri rilisan Hulu ini juga meraih banyak penghargaan, termasuk nominasi Golden Globe pada tahun 2022 dan 2023.

Meskipun serial dengan tema pembongkaran pelaku kejahatan jamak dijumpai, tapi movie series yang dirilis di Hulu dan Disney ini menarik karena pembongkaran misteri pembunuhan ini dilakukan oleh orang awam dan setiap proses yang dilakukan trio ini dilaporkan melalui podcast dengan judul Only Murders in the Building. Personel dari trio ini juga terbilang tak umum, dua kakek dan seorang gadis muda. Ketiganya awalnya saling tak mengenal, hanya sama-sama  penghuni Apartemen Arconia.

Baca Juga  Peacemaker

Hal lainnya yang memikat dari serial ini dialog dan interaksi ketiganya itu witty, jenaka dan cerdas. Candaan antara Oliver dan Charles itu juga satir namun juga kocak, seperti sahabat lama. Intro serial berupa visual animasi yang menggambarkan letak kamar dan penghuni di Arconia serta musik pengiringnya juga mengesankan.

Oliver Putnam di awal musim digambarkan sebagai sutradara Broadway yang beberapa kali bernasib sial dan hampir bangkrut. Charles-Haden Savage mengalami post power syndrome setelah lama tak membintangi serial terkenal. Sedangkan Mabel adalah perempuan muda pengangguran yang dimintai menjaga apartemen milik tantenya. Satu peristiwa pembunuhan yang dialami salah satu penghuni apartemen Arconia merekatkan ketiganya.

Nah di musim ketiga ini setelah dua musim awal pembunuhan menimpa penghuni Arconia, kali ini ada dua TKP pembunuhan, di gedung teater dan di Arconia. Alhasil cakupan lokasi penyelidikan trio tersebut lebih luas daripada dua musim sebelumnya.

Selain cakupan lokasi yang lebih luas, ketiga karakter utama digambarkan mengalami perkembangan karakter dan perubahan situasi. Hubungan ketiganya di awal digambarkan mulai renggang karena kesibukan masing-masing. Oliver sibuk dengan pekerjaannya memimpin pertunjukan. Charles selain terlibat di pertunjukan teater, juga memiliki masalah dengan hubungan percintaannya dengan Joy Payne (Andrea Martin). Sementara Mabel kesulitan dalam menentukan kariernya. Ia juga harus segera pindah karena apartemen tantenya telah terjual.

Dengan problema yang dihadapi masing-masing tokoh utama, maka penonton juga harap-harap cemas apakah trio ini bakal eksis atau malah bubar. Namun adanya dinamika kehidupan dan hubungan ketiganya ini membuatnya ceritanya jadi lebih membumi.

Bagian yang menarik dari film ini relatif sama dengan kedua musim sebelumnya, yaitu bagaimana trio ini melakukan investigasi. Oleh karena masing-masing sibuk, maka Oliver, Charles, dan Mabel melakukan investigasi dengan cara mereka masing-masing. Bagian inilah yang menjadi sumber tertawa penonton.

Paul Rudd dan Meryl Streep dalam musim ketiga ini mendapat peranan yang besar apabila dibandingkan guest star sebelumnya, seperti Sting dan Cara Delevingne. Keduanya berhasil memberikan kesan ke penonton lewat karakter keduanya yang kuat.

Oleh karena dalam musim ketiga ini Oliver akhirnya mengubah genre dramanya menjadi musikal, maka ada beberapa lagu yang menggelitik dalam film ini. Lagu yang paling menarik adalah patter song, lagu dengan tempo cepat yang dibawakan Charles tentang bayi-bayi yang dicurigai melakukan kejahatan.

Bagian pembuka dan penutup serial ini juga memiliki perubahan. Di bagian awal ditambahkan bagian yang seperti menunjukkan rekaman podcast. Sedangkan di bagian credit title ditampilkan adegan-adegan seperti dalam film lawas.

Musim ketiga Only Murders in the Building yang terdiri dari 10 episode ini masih memiliki pesona tersendiri, dari jalan cerita, jajaran pemain, visual, dan musiknya. Melihat penutup series ini dipastikan bakal ada musim keempat. Kita tunggu saja.

PENILAIAN KAMI
Overall
80 %
Artikel SebelumnyaThe Exorcist: Believer
Artikel BerikutnyaSaling Silang Argumentasi dengan Tetap Terkondisi dalam Penjurian Awal FFWI XIII 2023
Dewi Puspasari akrab disapa Puspa atau Dewi. Minat menulis dengan topik film dimulai sejak tahun 2008. Ia pernah meraih dua kali nominasi Kompasiana Awards untuk best spesific interest karena sering menulis di rubrik film. Ia juga pernah menjadi salah satu pemenang di lomba ulas film Kemdikbud 2020, reviewer of the Month untuk penulis film di aplikasi Recome, dan pernah menjadi kontributor eksklusif untuk rubrik hiburan di UCNews. Ia juga punya beberapa buku tentang film yang dibuat keroyokan. Buku-buku tersebut adalah Sinema Indonesia Apa Kabar, Sejarah dan Perjuangan Bangsa dalam Bingkai Sinema, Antologi Skenario Film Pendek, juga Perempuan dan Sinema.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.