Gunpowder Milkshake (2021)
114 min|Action, Crime, Thriller|14 Jul 2021
6.1Rating: 6.1 / 10 from 50,822 usersMetascore: 47
Three generations of women fight back against those who could take everything from them.

Gunpowder Milkshake adalah film aksi kriminal arahan sineas asal Israel, Navot Papushado yang sekaligus menulis naskahnya. Film rilisan Netflix ini dibintangi oleh nama-nama besar, yakni Karen Gillan, Lena Headley, Michele Yeoh, Angella Bisset, dan Paul Giamatti. Film aksi kriminal bergaya unik ini mencoba untuk menyajikan sesuatu yang berbeda melalui pendekatan estetiknya.

Seorang pembunuh bayaran profesional, Sam (Gillan), mendapat sebuah misi yang secara tak sengaja membunuh putra dari gembong mafia besar di kotanya. Dalam perkembangan, Sam juga terpaksa menolong perempuan cilik, Emily, karena misinya yang berjalan di luar kontrol yang merugikan pihak kantornya. Tidak hanya diburu oleh mafia yang ingin membalas dendam, Sam juga menjadi target buron dari tempatnya bekerja. Sam terpaksa meminta tolong sobat-sobat lawasnya untuk menyelesaikan masalah ini.

Satu keunikan film ini adalah elemen genrenya yang beragam, tidak hanya aksi kriminal, namun juga film noir, western, thriller, hingga komedi. Pendekatan estetiknya yang terlalu mencolok, enerjik, dan penuh warna ini bahkan mengalahkan kisahnya sendiri. Tak ada yang istimewa dari kisahnya, selain hanya sedikit mengingatkan pada film-film kriminal arahan Guy Ritchie atau Tarantino dengan belokan plot yang tak terduga dan serba kebetulan. Satu hal yang dominan dalam kisahnya adalah muatan feminisme serta superioritas kaum laki-laki. “Man vs woman” terasa sekali begitu personal. Apa salah kaum laki-laki hingga harus dihabisi begitu brutal? Mungkin sineas punya agenda yang tidak bisa saya pahami.

Baca Juga  Those Who Wish Me Dead

Sisi estetik jelas adalah kekuatan terbesar film ini. Filmnya terasa sekali bergaya layaknya komik dengan sisipan humor dalam aksi-aksi absurdnya. Ada dua sekuen aksi yang “nyeleneh”. Satu adalah adegan perkelahian di rumah sakit dan satu lagi adalah aksi kejar mobil di basement. Adegan yang disebut pertama, dijamin akan mengumbar tawa karena aksinya begitu segar dan konyol secara bersamaan. Aksi lainnya, bukan tidak bagus, hanya saja kita sudah sering melihatnya di film lain, contoh paling berkesan adalah aksi slow-mo ala Snyder di kafe pada segmen klimaks. Baik tata artistik, tata cahaya, serta musik memang saling mendukung kuat dalam banyak adegannya, walaupun koreografi perkelahiannya masih di bawah John Wick.

Di luar setting noir penuh warna dan gaya aksinya yang mengesankan, Gunpowder Milkshake hanyalah sebuah rivalitas gender dengan agenda personal. Bicara wanita jagoan, sudah banyak yang mengusung ini dari belasan genre, khususnya superhero yang paling mencolok dalam lima tahun terakhir, namun tak pernah disajikan sebrutal ini. Keberadaan satu sosok gadis berumur 8 tahun menjadi catatan kecil di antara sajian kekerasan yang begitu berlebihan. Namun, lucunya dalam satu adegan, mereka mengganti satu kata sumpahan kasar (f***) hanya karena satu orang mengingatkan ada gadis kecil di antara mereka.

 

1
2
PENILAIAN KAMI
Overall
60 %
Artikel SebelumnyaSettlers
Artikel BerikutnyaJangan Sendirian
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.