http://www.imdb.com/title/tt1374989

Penggabungan dua genre yang amat kontras memang kini seringkali diminati para pembuat film. Entah ini kreatifitas atau kehabisan ide, sulit untuk menjawabnya karena beberapa memang berasal dari adaptasi novel populer. Novel “mash up” ini memang sepertinya tengah tren sehinggga tak heran jika diadaptasi ke layar lebar seperti Abraham Lincoln: Vampire Hunter. Pride and Prejudice and Zombies juga diadaptasi dari novel berjudul sama yang diadaptasi lepas dari novel klasik karya Jane Austen, Pride and Prejudice.

Alkisah wilayah Inggris selama bertahun-tahun terjangkit wabah zombie dan untuk melindungi dari serangan mereka dibuat kanal dan benteng yang mengelilingi wilayah Inggris yang amat luas ini dan tiap rumah pun dipagari ketat sedemikian rupa. Selama beberapa tahun, strategi ini berbuah hasil dan kehidupan di dalam wilayah benteng mulai berjalan normal. Suatu ketika Kolonel Darcy menyelidiki isu adanya infeksi zombie jenis baru di suatu wilayah yang ternyata benar. Sementara di lain tempat, Keluarga Bennet dengan lima putrinya termasuk Elizabeth membekali mereka untuk melindungi diri dengan belajar ilmu bela diri di Tiongkok. Keluarga Bennet diundang ke sebuah pesta, dan Darcy dan Elizabeth bertemu disana sebelum zombie merusak acara.

Karena inti kisahnya sama dengan novel aslinya mau tak mau memang paling mudah membandingkan dengan film adaptasi yang pernah dibuat. Pride and Prejudice (2005) yang dibintangi Keira Knigthley dalam banyak aspek memiliki kemiripan dengan film ini seperti pengadeganan, kasting, dan setting. Inti kisahnya kurang lebih sama hanya unsur zombie dimasukkan dalam kisahnya. Sisi “martial art” menjadi aspek yang menarik karena dalam satu adegan dialog “serius” seringkali disisipkan dalam aksi perkelahian. Satu yang menarik adalah perbincangan antara Darcy dan Elizabeth di kediaman Lady Chatherine, kita tahu dialog ini adalah salah satu momen paling emosional dalam kisahnya, namun dikemas dalam aksi perkelahian ringan, efek komedi jelas lebih terasa, menarik dan menghibur memang namun pencampuran ini terasa janggal dan menghilangkan esensi dialognya. Hal ini terasa dalam hampir semua adegan sehingga terasa sekali memaksa.

Baca Juga  Toy Story 3

Zombie dan adegan aksi jelas lebih dominan ketimbang kita bersusah-payah untuk fokus apakah kisahnya loyal dengan novelnya. Zombie di dalam kisahnya digambarkan tidak lazim untuk genrenya. Mereka digambarkan telah bermutasi dan dapat berpikir, berdialog, memiliki strategi untuk memangsa lawannya, serta mampu berlari cepat. Agak aneh memang, bagaimana mereka bisa berpikir demikian cerdas padahal mereka sudah mati. Yah, mau bagaimana lagi, itu aturan main yang mereka buat. Adegan perkelahian juga dikemas tidak jelek dan koreografi-nya pun terlihat matang walau dalam beberapa adegan aksi tampak kaku. Film ini memang lebih nyaman dilihat ketika gadis-gadis cantik dengan kostum unik masanya menghabisi para zombie dengan sadis. Bukankah ini tujuan kita menonton film ini?

Pride and Prejudice and Zombies merupakan kombinasi dua genre yang kisahnya amat memaksa dan tanpa harus mengadaptasi karya Jane Austen pun film ini rasanya bisa berjalan jauh lebih menarik. Bagi penggemar novel klasik karya Jane Austen jelas ini bukan film yang tepat buat Anda dan bagi penggemar horor zombie-pun film ini terasa tanggung. Penggabungan dua genre kontras ini jelas untuk menghibur penonton masa kini dan sebagai fans genre Zombie dan film-film adaptasi Jane Austen, saya tidak terhibur sama sekali.

Watch Movie Trailer

PENILAIAN KAMI
Overall
40 %
Artikel SebelumnyaStar Wars Tembus US $2 Milyar dalam 50 Hari
Artikel BerikutnyaLondon Love Story
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.