Tangled (2010)
100 min|Animation, Adventure, Comedy, Family, Fantasy, Musical, Romance|24 Nov 2010
7.7Rating: 7.7 / 10 from 381,931 usersMetascore: 71
The magically long-haired Rapunzel has spent her entire life in a tower, but now that a runaway thief has stumbled upon her, she is about to discover the world for the first time, and who she really is.

Alkisah dalam sebuah kastil terpencil hidup seorang gadis bernama Rapunzel (Moore) yang memiliki rambut sangat panjang berwarna emas yang memiliki kekuatan magis bisa menyembuhkan segala macam penyakit. Rapunzel sebenarnya adalah putri seorang raja yang sejak bayi diculik oleh seorang wanita tua licik, bernama Gothel yang memanfaatkan rambutnya untuk hidup awet muda. Suatu hari seorang lelaki muda, Flynn Rider (Levy), yang juga buron karena mencuri mahkota kerajaan secara tak sengaja masuk ke kastil Rapunzel. Rapunzel menyembunyikan mahkota tersebut dan memaksa Flynn untuk mengantarnya untuk melihat lentera terbang yang muncul setiap kali ia berulang tahun.

Rapunzel kali ini dengan format tiga dimensi ingin mengulangi sukses animasi tradisionalnya, seperti The Little Mermaid, The Beauty and the Beast, Aladdin dan lainnya. Film-film ini memadukan kisah roman dan fantasi, musikal, aksi hingga komedi dengan sangat sempurna. Sekalipun Rapunzel memang memiliki kualitas gambar yang sangat memesona (standar film 3D masa kini) namun dari sisi cerita kurang bisa menampilkan “magis” yang biasanya muncul dalam film-film animasi tradisional Disney. Sekalipun biasanya mudah ditebak kisahnya namun kisah-kisah Disney mampu menyihir kita dan membuat kita larut masuk dalam kisah dan tokoh-tokohnya. Entah mengapa Rapunzel tidak memiliki ini semua. Karakter Flynn dan Maximus, sang kuda, yang berperan penting dalam kisahnya tidak memiliki ikatan batin dengan penonton. Satu-satunya karakter yang memiliki ikatan batin dengan kita hanyalah tokoh Rapunzel. Chemistry roman antara Rapunzel dan Flynn pun tampak kurang kuat.

Baca Juga  The X File: I Want to Believe

Ruh animasi tradisional Disney yang terletak pada sekuen musikalnya kali ini coba dimunculkan kembali melalui komposer Alan Menken yang sukses dengan The Little Mermaid, The Beauty and the Beast, serta Alladin. Nomor-nomor manis yang melegenda di film-film tersebut kini tak tampak lagi, dalam Rapunzel terlepas dari koreografinya yang menarik, nyaris tak ada satupun yang berkesan sekalipun dilantunkan dengan manis oleh Mandy Moore.

Dari sisi cerita dan sekuen musikalnya, Rapunzel jelas jauh jika dibandingkan dengan film-film tradisional Disney lainnya. Rapunzel semata-mata hanya menawarkan pencapaian visual yang sangat indah yang sudah sepantasnya untuk film berbujet termahal kedua yang pernah diproduksi sepanjang sejarah sejauh ini. Bagi penonton “anak-anak dan remaja” masa kini rasanya film ini bakal menghibur mereka karena pencapaian grafisnya namun bagi penonton masa silam yang ingin melihat “magis” Disney seperti era jayanya dulu rasanya film ini tidak akan berkesan.

PENILAIAN KAMI
Overall
80 %
Artikel SebelumnyaSafe JIFFest
Artikel BerikutnyaNarnia, Voyage of the Dawn Treader, Berakhir Sesaat Bermula
Himawan Pratista
Hobi menonton film sejak kecil dan mendalami teori dan sejarah film secara otodidak setelah lulus dari Jurusan Arsitektur. Ia mulai menulis artikel dan ulasan film sejak tahun 2006. Karena pengalamannya, penulis ditarik menjadi staf pengajar sebuah Akademi Televisi dan Film swasta di Yogyakarta untuk mengampu mata kuliah Sejarah Film, Pengantar Seni Film, dan Teori Film sejak tahun 2003 hingga kini. Buku karya debutnya adalah Memahami Film (2008) yang memilah seni film secara naratif dan sinematik. Buku keduanya, Memahami Film - Edisi Kedua (2017) kini sudah terbit.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.