Jarang sekali dapat menjumpai film drama musikal biografi dari dalam negeri. Di sinilah sutradara debutan, Ron Widodo, mengisi kekosongan tersebut dengan film arahannya yang berjudul Bumi Itu Bulat. Senada dengannya, Andre Supangat pun barulah kali ini muncul sebagai penulis naskah film panjang. Meski sumber ceritanya berasal dari sang produser sendiri, Robert Ronny. Bumi Itu Bulat merupakan film tentang Rujak Acapella, sebuah grup musik akapela yang pernah ikut memeriahkan pembukaan Asian Games 2018. Diproduksi oleh dua perusahaan baru, Inspiration Pictures bahkan GP Ansor, serta perusahaan Malaysia, Astro Shaw dan yang sempat terlibat dalam produksi The East, Ideosource Entertainment. Para pemerannya, antara lain Rayn Wijaya, Rania Putri Sari, Kenny Austin, Qausar Harta Yudana, Aldy Rialdy, Febby Rastanty, Arie Kriting, dan Mathias Muchus.

Sebuah grup musik Rujak Acapella tengah berupaya memulai debut mereka dalam album musik. Personelnya antara lain Rahabi (Rayn Wijaya), Tiara (Rania Putri Sari), Markus (Kenny Austin), Sayid (Qausar Harta Yudana), dan Hitu (Aldy Rialdy). Namun, produser (Arie Kriting) memberi satu syarat untuk mereka. Mereka harus menambahkan Aisha (Febby Rastanty) ke dalam grup. Sementara orang yang dimaksud telah cukup lama turun dari panggung sejak berhijrah. Di sisi lain karena suatu alasan, Abi (Rahabi) sendiri rupanya sedang berkonflik dengan ayahnya (Mathias Muchus). Abi pun terombang-ambing dengan kepercayaan diri dan keyakinannya, terhadap masalah yang silih berganti menghampirinya.

Tercatat sejak Buku Harianku, Koboy Kampus, dan Benyamin Biang Kerok, belum ada lagi film drama musikal yang mengisi panggung perfilman Tanah Air. Terutama sebagaimana dua judul terakhir yang membawa nama-nama populer atau legenda seniman. Jarang pula yang tampil bukan sebagai film anak-anak, serta mengangkat biografi seseorang atau suatu grup musik. Dalam hal ini, film-film drama musikal yang kerap kali mudah diingat masih yang bertokoh anak. Meski tetap saja, ada beberapa gelintir yang bisa dianggap fenomenal. Adanya Bumi Itu Bulat boleh jadi dapat sedikit ‘membasahi’ kekeringan perfilman Indonesia terhadap keberadaan genre musikal.

Bumi Itu Bulat merancang skema sinematik dengan baik sejak babak pertamanya. Terutama dalam hal sinematografi. Sayangnya, bagian-bagian yang menyoroti penampilan Rujak Acapella dalam Asian Games kurang memperoleh perhatian yang memadai. Gambar-gambar yang dihasilkan tak terlalu mendukung suasana “kemegahan” dari momennya. Sedangkan puncak cerita yang menutup film berada di sini. Besar kemungkinannya ini disebabkan oleh faktor bujet. Paling tidak, masih ada satu aspek yang dimaksimalkan dalam momen penutup ini, yakni musik.

Baca Juga  Nikah Yuk!

Masih perihal sinematik, tak sedikit setting yang dapat dipuji. Mata sineas Bumi Itu Bulat rupanya begitu jeli dalam menemukan spot-spot yang menarik. Didukung pula oleh sudut pengambilan gambar dan pergerakan kamera yang memadai. Meski dengan satu hal yang paling membekas, panning yang hampir selalu ada di sejumlah adegan emosional.

Terasa sekali sineas Bumi Itu Bulat sangat berhati-hati dalam memadu-padankan antara segmen musikal dan dramanya. Dengan muatan cerita yang sarat akan konflik antarkelompok, Bumi Itu Bulat sangat rawan berubah menjadi kampanye agama atau aksi bela negara. Untung saja tak berbuntut pada debat ideologi. Sang sineas menghindarkan ini dengan beberapa kali mengalihkannya ke dinamika persoalan keluarga dan pertemanan. Meskipun tetap saja, unsur religinya begitu kentara di sepanjang perjalanan Rujak Acapella hingga panggung besar mereka.

Kalau soal akting, rasanya Bumi Itu Bulat cukup bisa mengajak penonton turut bersimpati kepada setiap tokoh dengan permasalahan yang ada. Kendati para pemeran utamanya masih baru beberapa kali tampil dalam film panjang, namun mereka dapat bermain dengan baik. Terutama Rayn yang beradu akting dengan Ria Irawan dan Mathias Muchus, serta menunjukkan dominasinya sebagai penggerak poros cerita. Andil besar darinya seirama dengan bakat aktingnya.

Terlepas dari muatan religiusitas dan nasionalisme yang kental, Bumi Itu Bulat merupakan film drama musikal biografi yang patut dipertimbangkan. Langkah yang bagus pula bagi kemunculan perdana sang sutradara dan penulis pendatang baru. Walau tak terlalu berhasil menyajikan kemegahan penampilan sang grup akapela, dan cukup banyak “mengakali” stok gambar dengan memasukkan potongan-potongan rekaman asli. Setidaknya, Bumi Itu Bulat membawakan dengan detail sisi biografinya.

PENILAIAN KAMI
Overall
75 %
Artikel SebelumnyaThe Suicide Squad
Artikel BerikutnyaVivo
Miftachul Arifin lahir di Kediri pada 9 November 1996. Pernah aktif mengikuti organisasi tingkat institut, yaitu Lembaga Pers Mahasiswa Pressisi (2015-2021) di Institut Seni Indonesia Yogyakarta, juga turut andil menjadi salah satu penulis dan editor dalam media cetak Majalah Art Effect, Buletin Kontemporer, dan Zine K-Louder, serta media daring lpmpressisi.com. Pernah pula menjadi kontributor terpilih kategori cerpen lomba Sayembara Goresan Pena oleh Jendela Sastra Indonesia (2017), Juara Harapan 1 lomba Kepenulisan Cerita Pendek oleh Ikatan Penulis Mahasiswa Al Khoziny (2018), Penulis Terpilih lomba Cipta Puisi 2018 Tingkat Nasional oleh Sualla Media (2018), dan menjadi Juara Utama lomba Short Story And Photography Contest oleh Kamadhis UGM (2018). Memiliki buku novel bergenre fantasi dengan judul Mansheviora: Semesta Alterna􀆟f yang diterbitkan secara selfpublishing. Selain itu, juga menjadi salah seorang penulis top tier dalam situs web populer bertema umum serta teknologi, yakni selasar.com dan lockhartlondon.com, yang telah berjalan selama lebih-kurang satu tahun (2020-2021). Latar belakangnya dari bidang film dan minatnya dalam bidang kepenulisan, menjadi motivasi dan alasannya untuk bergabung dengan Komunitas Film Montase sejak tahun 2019. Semenjak menjadi bagian Komunitas Film Montase, telah aktif menulis hingga puluhan ulasan Film Indonesia dalam situs web montasefilm.com. Prestasi besar terakhirnya adalah menjadi nominator Festival Film Indonesia 2021 untuk kategori Kritikus Film Terbaik melalui artikel "Asih, Cermin Horor Indonesia Kontemporer" bersama rekan penulisnya, Agustinus Dwi Nugroho.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.