Negeri 5 Menara yang mengadaptasi novel karya Ahmad Fuadi telah lama rilis. Kini, sekuelnya meneruskan kisah salah satu anggota dari kelompok Sahibul Menara melalui adaptasi buku kedua, Ranah 3 Warna. Guntur Soeharjanto dan Alim Sudio-lah yang didapuk untuk mengarahkan dan menulis film kedua ini. Film drama religi remaja produksi MNC Pictures ini diperankan oleh Arbani Yasiz, David Chalik, Tanta Ginting, Sadana Agung, Raim Laode, Miqdad Addausy, dan Amanda Rawles. Setelah bertahun-tahun lalu kita menikmati tema bermimpi besar dari latar belakang bukan siapa-siapa melalui film sebelumnya, bagaimana dengan sekuelnya ini?

Alif Fikri (Yasiz) ialah remaja Maninjau yang bercita-cita ke Amerika dengan menulis. Namun, ia kerap mendapat ejekan karena statusnya sebagai lulusan pesantren. Alif lantas bertekad untuk membuktikan bahwa ia sanggup meraih mimpinya. Saat ia berhasil menjadi salah seorang mahasiswa di Bandung, berbagai jalan terjal menghadangnya. Berbekal satu kalimat motivasi yang ia pegang teguh sejak masih di pesantren dan pesan dari mendiang ayahnya (Chalik), Alif menghadapi rintangan-rintangan tersebut. Ia tak sendiri. Ada teman-teman satu gengnya di kampus dan dukungan dari Raisa (Rawles) yang selalu membantunya.

Ranah 3 Warna tampak jelas berupaya merekonstruksi wajah-wajah beberapa tempat pada era 1990-an. Termasuk pula aspek pendukung lain yang menguatkan kesan untuk dekade akhir abad 20 tersebut. Sayangnya, eksplorasi setting Bandung pada tahun 1997, khususnya dalam lingkungan mahasiswa di kampus Universitas Padjajaran (Unpad) terabaikan. Mengingat pada tahun tersebut tengah terjadi gejolak terkait ekonomi dan penguasa negara di Indonesia. Malahan yang tampak adalah situasi aman, nyaman, damai, dan tenteram. Baik di lingkungan Bandung maupun dalam Unpad itu sendiri. Sementara rutinitas sang tokoh cerita kita dalam film ini berkutat di keredaksian sebuah media kampus. Seakan momentum yang berlangsung hampir di sepenjuru negeri pada waktu itu tak ada korelasinya dengan keseharian sang tokoh.

Tangga dramatik dalam Ranah 3 Warna pun kurang memiliki perbedaan yang signifikan antarlevelnya. Ketinggian momen dramatik pada segmen-segmen akhir, termasuk klimaks, tak jauh berbeda dengan babak awal. Ini membuat Ranah 3 Warna menjadi tak banyak punya perbedaan dengan medium sumber adaptasinya. Kondisi ini diperburuk oleh beberapa momen dramatik yang tak terlalu kuat untuk mencapai puncaknya. Walhasil, tak semua penonton berhasil tersentuh emosinya. Terutama untuk peristiwa yang mengguncang mental sang tokoh atau adegan perpisahan yang melibatkan lebih dari empat orang dalam satu layar. Sukar rasanya untuk turut serta masuk ke dalam momen-momen tersebut dan ikut merasakan suasana dalam peristiwanya.

Baca Juga  Till Death Do Us Part

Kendati mengabaikan beberapa aspek penting tersebut, Ranah 3 Warna masih mendulang antusias dengan caranya sendiri. Tiga hal terbesar yang paling kentara ialah kelucuan dari sejumlah tokoh pendukung, asmara, serta ihwal kesabaran dengan dukungan moral dari orang-orang terdekat tokoh utama. Sosok-sosok seperti Agam (Agung), Rusdi (Laode), dan Memet (Addausy) mendatangkan gelak tawa ringan dan meriah di sepanjang cerita. Menjadikan Ranah 3 Warna tak terasa amat berat dengan konten yang diusung. Sosok mereka sebagai pendukung jalan tokoh utama pun lebih ikonik ketimbang sang kepala redaksi, Togar (Ginting). Justru sosoknya yang amat berjasa menaikkan nama Alif lewat tulisan hanya muncul dalam sedikit kesempatan.

Amat disayangkan memang. Bahkan perjuangan Alif dalam mengembangkan kemampuan penulisannya pun tak banyak ditampilkan. Padahal proses Alif sebagai penulis majalah pesantren menjadi kontributor di banyak media cetak, hingga mampu punya buku sendiri itu penting. Termasuk hingga dapat menerbangkannya ke luar negeri. Mengingat cita-cita yang digarisbawahi olehnya saat masih di tanah Maninjau adalah perkara ini.

Berbicara ihwal pengemasan sinematik, hanya ada beberapa gairah yang muncul lewat sejumlah unsur untuk menggambarkan era paruh pertama 1990-an. Mulai dari bentuk set, warna, busana, properti, lagu dan pilihan hiburan lainnya, serta cara berkomunikasi jarak jauh pada masa tersebut. Meski kesemua ini tak ada yang ditunjukkan dalam visual yang cukup luas. Lagipula gambar-gambar yang diambil secara establish pun nyaris nihil. Jikapun ada, kemunculannya tak membekas dengan baik. Jangan tanyakan pula soal tingkatan halus dari efek visual atau CGI-nya. Ada banyak bagian yang akan amat mudah diidentifikasi sebagai rekaan oleh mata awam. Dua di antaranya ialah dalam salah satu peristiwa saat sang tokoh di tanah Arab, dan pada penghujung film.

Meski dengan pesan yang mendalam, Ranah 3 Warna terbilang renyah dan ringan untuk dinikmati berbagai kalangan. Dapat terasa pula karakteristik dari karya sumber adaptasinya maupun dari sang penulis novel sendiri dalam pengemasan film ini. Kendati Guntur dan Alim kurang mencermati beberapa bagian agar menjadikan Ranah 3 Warna lebih filmis, sehingga tidak terkungkung dengan format penceritaan buku. Aspek-aspek apa saja yang sebaiknya dihilangkan, bagian-bagian mana saja yang penting untuk dieksplorasi lebih banyak. Apalagi bila sampai lari dari premisnya. Meski format penulisan skenarionya sangat jelas terbaca.

PENILAIAN KAMI
Overall
60 %
Artikel SebelumnyaMinions: The Rise of Gru
Artikel BerikutnyaStranger Things 4 Vol.1 & 2
Miftachul Arifin lahir di Kediri pada 9 November 1996. Pernah aktif mengikuti organisasi tingkat institut, yaitu Lembaga Pers Mahasiswa Pressisi (2015-2021) di Institut Seni Indonesia Yogyakarta, juga turut andil menjadi salah satu penulis dan editor dalam media cetak Majalah Art Effect, Buletin Kontemporer, dan Zine K-Louder, serta media daring lpmpressisi.com. Pernah pula menjadi kontributor terpilih kategori cerpen lomba Sayembara Goresan Pena oleh Jendela Sastra Indonesia (2017), Juara Harapan 1 lomba Kepenulisan Cerita Pendek oleh Ikatan Penulis Mahasiswa Al Khoziny (2018), Penulis Terpilih lomba Cipta Puisi 2018 Tingkat Nasional oleh Sualla Media (2018), dan menjadi Juara Utama lomba Short Story And Photography Contest oleh Kamadhis UGM (2018). Memiliki buku novel bergenre fantasi dengan judul Mansheviora: Semesta Alterna􀆟f yang diterbitkan secara selfpublishing. Selain itu, juga menjadi salah seorang penulis top tier dalam situs web populer bertema umum serta teknologi, yakni selasar.com dan lockhartlondon.com, yang telah berjalan selama lebih-kurang satu tahun (2020-2021). Latar belakangnya dari bidang film dan minatnya dalam bidang kepenulisan, menjadi motivasi dan alasannya untuk bergabung dengan Komunitas Film Montase sejak tahun 2019. Semenjak menjadi bagian Komunitas Film Montase, telah aktif menulis hingga puluhan ulasan Film Indonesia dalam situs web montasefilm.com. Prestasi besar terakhirnya adalah menjadi nominator Festival Film Indonesia 2021 untuk kategori Kritikus Film Terbaik melalui artikel "Asih, Cermin Horor Indonesia Kontemporer" bersama rekan penulisnya, Agustinus Dwi Nugroho.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.