Stranger Things (2016–2025)
51 min|Drama, Fantasy, Horror|15 Jul 2016
8.7Rating: 8.7 / 10 from 1,338,514 usersMetascore: N/A
When a young boy vanishes, a small town uncovers a mystery involving secret experiments, terrifying supernatural forces and one strange little girl.

Seri fiksi ilmiah-fantasi produksi Netflix yang fenomenal, Stranger Things kini merilis musim ke-4 nya yang dibagi dalam dua volume. Volume 1 dirilis minggu ini (total 7 episode) dan Volume 2 (total 2 episode) akan dirilis pada awal Juli mendatang. Tidak hanya episodenya yang lebih banyak, namun durasinya pun juga lebih panjang dari seri sebelumnya. Seri ini, masih ditulis The Duffer Brothers yang mengarahkan pula total lima episodenya. Bermain dalam seri ke-4 ini, masih didukung penuh para kasting regulernya, diantaranya Winona Ryder, David Harbour, Millie Bobby Brown, Finn Wolfhard, Gaten Matarazzo, Noah Schnapp, Natalie Dryer, Sadie Sink, serta dua aktor senior, Matthew Modine dan Paul Reiser. Pandemi yang melanda, menyebabkan seri ke-4 ini ditunda beberapa kali proses produksi hingga rilisnya. Konon seri ke-4 ini diproduksi dengan total bujet USD 270 juta atau sekitar USD 30 juta per episodenya. Bukan jumlah angka yang kecil untuk film serial.

Melanjutkan kisah seri ketiga, Eleven (Brown) yang kini tinggal di California bersama Joyce (Ryder), Jonathan dan Will (Schnapp), masih mencoba beradaptasi dengan lingkungan barunya. Sementara di Hawkins, beberapa pembunuhan misterius terhadap para remaja terjadi lagi. Dimotori Nancy (Dryer) dan Dustin (Matarazzon), mereka menyelidiki kasus ini tanpa menyadari bahwa Max (Sink) adalah incaran sang iblis berikutnya. Di tempat lain, Joyce mendapat satu paket misterius yang mengindikasikan bahwa Hopper (Harbour) masih hidup dan ia pun mengontak Murray untuk membantu menindaklanjuti ini. Pembunuhan di Hawkins menarik perhatian Sam Owens (mantan kepala tim riset di Hawkins) yang menganggap ini bukan anomali biasa. Ia pun mencoba membujuk Eleven untuk kembali ke lab guna mengembalikan kekuatannya yang hilang untuk melawan sang iblis Vecna yang menjadi penyebab awal segala kekacauan yang terjadi di Hawkins.

Sebelumnya, saya tidak pernah mengulas seri Stranger Things. Ada baiknya, sebelum membahas seri ke-4, kita mengulas tiga seri sebelumnya secara ringkas untuk bisa mendapatkan pembahasan yang komprehensif keempat seri ini secara beruntun.

Season 1

Seri Stranger Things pertama ini rasanya adalah yang terbaik dari semua serinya. Seri ini membawa aroma nostalgia film-film fiksi ilmiah era 1980-an, macam E.T., The Goonies, serial horor IT, hingga film drama Stand By Me. Seri pertama ini merupakan beragam kombinasi genre, yakni horor, fantasi, drama keluarga, fiksi ilmiah, roman, komedi, hingga aksi. Dengan belasan karakter unik dan latar cerita 1980-an, film ini mampu membangun intensitas drama, misteri, dan ketegangannya dengan sangat baik. Nyaris tidak ada yang miss dari tiap episodenya yang mampu terus memicu rasa penasaran. Sajian plot yang dibagi menjadi beberapa subplot tersendiri akhirnya memuncak dalam satu klimaks yang memuaskan. Walau banyak pertanyaan masih tidak mampu dijawab secara tuntas, yang rupanya berlanjut pada musim keduanya.

Season 2

Jika seri pertama memilliki tribute pada film-film era 1980-an, maka seri keduanya boleh dibilang adalah menggunakan konsep plot “Aliens”. Berbeda dengan seri pertamanya, seri ini murni adalah film aksi yang lebih banyak menampilkan aksi menegangkan ketimbang sisi misteri. Walau begitu, kekuatan chemistry tiap karakternya yang menjadi keunikan film ini sama sekali tidak hilang. Kisah seri musim kedua ini juga tidak terasa ada satu pun aspek cerita yang dipaksakan. Beberapa karakter baru, seperti Max, Billie, Bob, dan Sam Owens juga menambah warna segar dalam serinya.

Season 3

Jika seri pertama adalah yang terbaik, seri ketiga ini adalah yang paling brilian dalam mengemas konsep temanya. Masih tidak lepas dari kisah musim pertama dan kedua, seri ketiga ini menambah segar konsep kisahnya melalui unsur komunisme dan kapitalisme. Masuknya militer Rusia dalam kisahnya menjadi tribute film-film monster era perang dingin serta era kapitalisme (mall) yang mulai masuk di AS pada latar waktu kisahnya. Aksi-aksinya jauh lebih mapan dari dua seri sebelumnya, dengan menggunakan set mall (pusat perbelanjaan) sungguhan, serta fasilitas rahasia bawah tanah milik Rusia yang megah. Di sinilah, aksi klimaks yang heboh berlangsung, dan kini sisi humornya terasa begitu kuat ketimbang dua seri sebelumnya. Chemistry tiap karakternya pun masih terjalin kuat dengan beberapa karakter baru yang menyegarkan (Robin dan Erica). Secara umum, plotnya masih menggunakan formula dua seri sebelumnya dengan sajian subplot terpisah yang intens silih berganti. Satu sisi lemah, terlihat pada para kastingnya yang kini terlihat beranjak remaja. Untuk naskahnya sendiri, kini mulai tampak ada sedikit yang dipaksakan.

Baca Juga  Gunpowder Milkshake

Season 4 Volume 1

Jika dibandingkan dengan tiga seri sebelumnya, seri ini (Season 4 Vol.1) boleh dikatakan adalah yang terburuk. Durasi yang panjang (dan belum tuntas) membuat beberapa segmen plotnya menjadi terasa bertele-tele dengan membuang waktu untuk banyak hal yang tak perlu. Seperti tiga seri sebelumnya, plotnya dibagi menjadi 4-5 sub plot yang silih berganti disajikan. Potong silang adegan ini masih disajikan intens, hanya saja, durasi yang panjang membuat beberapa segmen cerita memiliki proses yang lebih lama dari biasanya, belum lagi segmen kilas-balik. Ini terjadi di segmen “Eleven”, yang poin sesungguhnya hanya merupakan latar belakang dari sosok antagonisnya (sang iblis). Tidak seperti tiga seri sebelumnya, seri ini juga tidak banyak menyajikan selipan humor dengan dialog-dialog yang kini lebih serius. Banyak adegan brutal pun disajikan lebih eksplisit karena memang tokoh-tokohnya kini bukan lagi anak-anak. Tambahan karakter baru (Eddie dan Argyle) juga tidak memberikan sesuatu yang lebih pada kisahnya.

Kisahnya yang rada kelewat panjang ini sedikit tertutup dengan berbagai pencapaian teknisnya yang mengesankan. Sisi visual memiliki banyak kemajuan dengan CGI yang levelnya nyaris setara film-film bioskop. Ini jauh berbeda dengan kualitas tiga seri sebelumnya. Skala cerita yang lebih luas juga menampilkan setting yang lebih banyak dengan pengadeganan yang kolosal. Baru kali ini, kita banyak melihat sebuah adegan penuh dengan puluhan warga, di mana pada seri sebelumnya banyak dihindari. Ini tentu membuat filmnya terlihat lebih meyakinkan. Satu catatan, selain permainan pergerakan kamera yang dinamis, sisi editing juga seringkali menyajikan “graphic match/audio” (kontinuiti visual) yang cerdas untuk transisi antar segmennya. Sisi teknisnya yang lebih mapan mendukung penuh kisahnya yang kini lebih gelap, suram, dan horor.

Untuk serinya, dari sisi naskah, Stranger Things 4 Vol.1 adalah yang terburuk dengan kasting mudanya yang beranjak dewasa, namun walau terasa dipaksakan, kontinuiti cerita untuk mengungkap sisi misteri di tiga seri sebelumnya patut diapresiasi. Kisahnya belum kelar, kita cuma berharap saja finale untuk seri 4 ini yang dirilis bulan depan dapat memberi satu penutup yang memuaskan untuk menuntaskan seri fenomenal ini. Kita nantikan saja.

Season 4 Volume 2

Stranger Things Musim 4 – Volume 2 yang baru saja rilis hanya menampilkan 2 episode saja, walau episode finalnya berdurasi sekitar 2.5 jam! Bagi fans seri ini yang sudah terbiasa menonton maraton, durasi sepanjang ini tentu bukan masalah. Melanjutkan seri sebelumnya, problem yang dihadapi para antagonis kita makin gelap dan suram. Tone yang sudah disajikan pada volume pertama masih bisa kita lihat, sebut saja minim humor, transisi adegan dari satu lokasi ke lainnya, sisi horor yang lebih kental.

Namanya juga segmen klimaks, dua episode ini bergerak cepat dengan sekuen aksi tanpa henti, pula dengan pergantian adegan yang makin cepat. Jika boleh jujur, segmen di Soviet adalah yang paling tidak menarik dan secara cerita juga tidak memiliki keterikatan yang kuat dengan plot utamanya, tidak seperti tiga seri sebelumnya. Untuk kali pertama dari semua serinya pada segmen klimaks, semua karakter tidak muncul dalam satu frame. Bahkan Eleven pun, membantu Nancy, Max dan kawan-kawan dari jarak ribuan mil. Segmen klimaks ini, boleh dibilang tak banyak greget seperti sebelumnya. Banyak adegan masih banyak yang diulur durasinya, entah melalui dialog, pengulangan adegan/aksi, tambahan adegan yang tak urgen, dan lainnya, ini sedikit tidak membuat nyaman. Ending-nya? Masih banyak hal yang sengaja dibuat mengambang. Jika kalian mencoba mencari tahu apakah ada kelanjutan serinya, ini sudah menjawab segalanya.

3.75/5

Untuk serinya, dari sisi naskah, Stranger Things 4 Vol.1 & 2 adalah yang terburuk dengan kasting mudanya yang beranjak dewasa, namun walau terasa dipaksakan dan diulur dalam banyak momen, kontinuiti cerita untuk mengungkap sisi misteri di tiga seri sebelumnya patut diapresiasi.

1
2
PENILAIAN KAMI
Overall
75 %
Artikel SebelumnyaRanah 3 Warna
Artikel BerikutnyaThe Man from Toronto
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.