The Calm Beyond adalah film bencana produksi Hong Kong yang digarap oleh mendiang sineas Joshua Wong. Film ini dibintangi oleh Kara Wang, Sarinna Boggs, serta Terence Ying. Film ini dirilis oleh platform streaming Catchplay +. Film bersubgenre pascabencana berupa survival sudah banyak dirilis dengan beragam motif. The Calm Beyond mengambil perspektif unik, pasca bencana Tsunami yang melanda Kota Hong Kong yang terendam air laut.

Dikisahkan tsunami besar melanda Bumi dan membumihanguskan kota-kota Besar di dunia, Singapura, Indonesia, termasuk Hong Kong. Entah sudah berapa lama berlalu, Asha (Wang) adalah salah satu dari sedikit orang yang selamat sewaktu bencana melanda Hong Kong. Ia kehilangan seluruh keluarganya dan kini bertahan hidup di bangunan gedung yang dulu adalah tempat tinggalnya. Asha bertahan hidup dengan mencari makanan instan di dalam bangunan serta menampung air hujan. Tidak hanya itu, ia juga berupaya sembunyi dari para pemburu makanan yang tak segan membunuh korbannya. Suatu ketika, Asha mendapati seorang gadis cilik (Boggs) yang ternyata selama ini bersembunyi di bangunan yang sama.

Tak banyak film subgenre ini yang mampu memadukan kisah drama yang solid dengan sisi thriller. Sebagian besar lazimnya lebih mengutamakan sisi aksi. Dalam satu perspektif, The Calm Beyond bisa dibilang adalah film drama keluarga, yakni hubungan “adik-kakak” dengan chemistry unik dari dua pemain utamanya. Tanpa tergesa, sisi kedekatan dibangun natural dengan ikatan batin yang semakin hangat. Permainan tarik ulur antara keduanya disajikan begitu menggemaskan, khususnya si cilik Boggs yang bermain memikat sebagai Hei Hei. Segmen kilas balik pun mampu memberi informasi kuat, bagaimana situasi mental sosok Asha yang trauma akibat kehilangan adik dan keluarganya saat bencana.

Baca Juga  My Neighbor Totoro, Kombinasi Imajinasi dan Falsafah Hidup

Ketika hubungan Asha dan Hei-Hei telah solid, seperti diduga, mereka pun diberi ujian fisik melalui gangguan para pemburu liar. Klimaksnya yang berupa aksi-thriller adalah sebuah kejutan besar yang memberi kekuatan lebih untuk filmnya. Dengan kekuatan setting-nya serta permainan cahaya gelap-terang, membuat aksi ala “John Rambo” ini lebih menegangkan. Percaya pada saya, Asha memang jauh dari sosok jagoan tapi apa yang dilakukannya dijamin melampaui semua ekspektasi.

The Calm Beyond adalah salah satu film Asia terbaik untuk genre pascabencana melalui naskah yang solid, setting, penampilan kuat dua kasting utama, serta ending yang mengejutkan. Entah mengapa, cerita film ini terasa personal, terlebih dengan situasi pandemi yang masih saja berkelanjutan hingga kini. Beberapa momen dalam film ini mampu memberikan “rasa nostalgia” semasa kita terisolasi di masa lockdown. Asha mampu lepas dari trauma dan belajar dari kesalahannya. Dari satu sisi, film ini memberikan pelajaran untuk bisa menghargai sesuatu yang lebih penting dan bernilai bagi kita di tengah situasi seburuk apapun, dan itu jelas bukan materi/fisik. Apresiasi tinggi untuk mendiang Joshua Wong, satu sineas Asia berbakat.

1
2
PENILAIAN KAMI
Overall
90 %
Artikel SebelumnyaDesperate Hour
Artikel BerikutnyaThe Burning Sea
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.