https://www.imdb.com/title/tt8076266/?ref_=fn_al_tt_1

Pendapat bahwa mencintai sahabat sejati adalah hal yang sangat indah ternyata benar-benar bisa terjadi. Kalau dulu, saya hanya menganggap kisah seperti itu hanyalah ada dalam film. Setelah menonton Teman Tapi Menikah (TTM), saya menjadi percaya bahwa hal itu adalah impian sekaligus kenyataan. Bagaimana tidak? Cerita film ini diangkat dari novel berjudul sama yang ditulis oleh Ayudia Bing Slamet dan suaminya Muhammad Pradana Budiarto atau yang biasa dipanggil Ditto. Lalu apa kelebihan film ini dibandingkan film roman lainnya? Kisahnya nyata! Ya, ini adalah kisah cinta yang sangat manis dan tidak heran novelnya menyandang predikat best seller.

     TTM mengisahkan perjalanan cinta dua sahabat yang memerlukan waktu 12 tahun untuk akhirnya menjadi pasangan. Sejak kecil, Ditto (Adipati Dolken) sangat mengidolakan Ayu (Vanesa Prescilla) dan selalu takjub melihat aktingnya melalui layar kaca. Beruntung ketika SMP Ditto berkesempatan duduk sebangku dengan gadis pujaannya itu. Mereka pun bersahabat sangat akrab. Tetapi, Ayu selalu menganggap Ditto sebagai sahabat. Hingga akhirnya, Ditto pun perlu berjuang keras menyimpan perasaannya sendiri. Bukan ending-nya yang menjadi tujuan kisah film ini, karena judulnya pun sudah sangat jelas memberikan gambaran cerita. Meskipun kisah ini sangat manis, tetapi untuk cerita film romantis macam ini, saya yakin penonton sudah sering menyaksikan film sejenis produksi negara mana pun.

     TTM membawa penonton terhanyut dari satu adegan ke adegan lainnya. Ikut tertawa, menyanyi, menangis sedih hingga terharu. Adegan per adegan disajikan dengan sangat baik, rapi, dan layak dinikmati. Film tampak digarap dengan mapan dan penuh perhitungan. Hal ini langsung tampak di opening scene yang mengagumkan, menciptakan mood yang sangat baik dimana penonton dibuat asik menikmati shot demi shot yang disajikan mengikuti iringan musik perkusi. Musik dan lagu memberikan pengaruh yang kuat bagi film ini. Dari awal hingga akhir film, mengiringi kisah cinta yang bikin baper ini semakin baper. Setting, kostum dan makeup cukup diperhatikan dengan detail sehingga tampak pas tanpa cela.

Baca Juga  Doa yang Mengancam, Ancaman Apanya?

     Satu hal lain yang menjadi kunci sehingga film ini begitu nikmat diikuti hingga akhir adalah akting para pemainnya. Setelah terkesan dengan detail mimik wajah Adipati Dolken yang begitu ekspresif tanpa harus bergerak berlebihan dalam Posesif, kali ini saya kembali dibuat terkagum-kagum dengan kemampuan aktingnya. Ia mampu berakting natural bahkan ketika tidak ada satu pun dialog yang keluar dari mulutnya. Ekspresi seorang laki-laki yang patah hati, tengil, dan berlagak semaunya bisa ia perankan dengan baik. Ia mampu berbicara dengan tatapan mata. Saya yakin semakin banyak remaja perempuan yang mengaguminya. Walaupun saya tidak lagi remaja, saya akui dia patut diacungi jempol. Aktor peraih aktor terbaik Reza Rahardian mungkin akan berkurang pamornya dalam waktu singkat. Bagaimana dengan Vanesha? Berbeda dengan karakter Milea dalam Dilan (1990) yang telah meraih lebih dari 6 juta penonton, Vanesha kini menjadi gadis periang yang lebih ceria dan atraktif. Jujur saja, cara bicara dan suaranya adalah kekuatan utama untuk menghadirkan kekhasan dirinya sebagai aktris muda. Suaranya yang serak dan cara bicaranya manja dan lucu mampu menghidupkan suasana. Chemistry dua sejoli ini begitu tampak jelas sehingga interaksi mereka begitu luwes dan alami. Nyatanya, di luar set pun mereka memang kemudian berpacaran.

     Film garapan Rako Prijanto ini membuktikan bahwa film Indonesia memiliki potensi yang patut dibanggakan. Film remaja romantis yang kekinian pun tidak kalah dengan film Korea yang adegan-adegannya bikin baper. Saya sangat berharap film sejenis dengan kualitas yang semakin baik terus diproduksi sehingga generasi milenials tidak ragu untuk mencintai film Indonesia dan terus mengapresiasi karya anak bangsa.

WATCH TRAILER

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini