Studio Ghibli kembali dengan animasinya yang bertemakan petualangan ajaib. Kali ini tokoh utamanya adalah seorang anak laki-laki beranjak remaja bernama Mahito. Sosok misterius yang berinteraksi dengannya adalah seekor bangau kelabu yang bisa berbicara. Misi apa ya yang diemban Mahito dalam The Boy and the Heron (Kimitachi wa Dō Ikiru ka) ini?

Cerita diawali dengan Mahito yang panik ketika rumah sakit tempat ibunya dirawat kebakaran. Saat itu Jepang telah terlibat dalam Perang Dunia II. Cerita kemudian bergeser beberapa waktu kemudian. Mahito nampak kurang bersemangat ketika diajak ayahnya pindah dari Tokyo ke sebuah daerah pinggiran.

Mereka berdua akan tinggal bersama istri baru ayahnya, Natsuko, adik perempuan ibunya. Mahito masih berduka. Ia masih sering teringat peristiwa kebakaran yang menewaskan ibunya tersebut.

Ketika seekor bangau kelabu memintanya mengikutinya ke menara yang terbengkalai dengan dalih untuk menemukan ibunya yang masih hidup, Mahito marah sekaligus penasaran. Natsuko dan para nenek pelayan memintanya menjauhi menara tersebut karena kakek buyutnya pernah hilang di sana. Tapi kemudian Natsuko menghilang. Jejaknya mengarah ke menara tersebut.

Kembalinya Hayao Miyazaki dan Petualangan Ajaib Ala Spirited Away

Hayao Miyazaki telah absen selama 10 tahun di film layar lebar Ghibli. Karya terakhirnya adalah The Wind Rises yang bercerita tentang sosok insinyur di balik pembuatan pesawat Zero yang memporak-porandakan pangkalan Amerika di Hawaii. Meski demikian sutradara berusia 82 tahun ini tidak benar-benar pensiun di studio Ghibli, tercatat ia terlibat sebagai penulis dan sutradara anime pendek berjudul Boro the Caterpillar yang dirilis tahun 2018.

Kembalinya Hayao Miyazaki disambut gembira oleh penggemar animasi dan pecinta anime Ghibli pada khususnya. Selama ini ada dua sutradara yang banyak terlibat di anime Ghibli, yakni Hayao Miyazaki dan Isao Takahata. Hayao Miyazaki memberikan ciri khas tersendiri di anime Ghibli lewat palet warnanya yang dominan cerah, gambar latar yang detail, karakternya yang ekspresif, dan ceritanya yang memiliki unsur fantasi.

Karya Hayao Miyazaki yang paling banyak diapresiasi adalah Spirited Away yang merupakan naskah asli buatannya. Film animasi rilisan tahun 2001 ni meraih banyak penghargaan termasuk piala Oscar, berkat ceritanya yang imajinatif dan unik. Dan, rupanya setelah dua dekade dan pada usianya yang tak lagi muda, Hayao masih tetap mampu menghasilkan karya yang extraordinary. Kualitas dari The Boy and the Heron terbilang menyamai atau mungkin malah melebihi pencapaian Spirited Away.

The Boy and the Heron memiliki judul asli yang terinspirasi dari sebuah novel berjudul How do You Live?  karya Genzaburō Yoshino. Meski judul dalam bahasa Jepangnya sama dengan judul novel rilisan tahun 1937, namun ceritanya tak ada kaitannya sama sekali. Cerita ini murni ditulis oleh Hayao Miyazaki. Novel tersebut hanya muncul sekilas di sebuah adegan ketika Mahito menemukan tulisan tangan ibunya yang ditujukan kepadanya di sebuah halaman di dalam novel.

Baca Juga  Taken 2

Petualangan dalam The Boy and the Heron ini terbilang ajaib dengan jalan cerita yang mengalir dan sulit ditebak. Sebenarnya apa maksud dari bangau kelabu tersebut memintanya untuk masuk ke dalam menara tersebut? Siapa sebenarnya bangau misterius tersebut? Dan apa isi menara terbengkalai yang nampak misterius tersebut? Semuanya membuat penonton penasaran dan tertarik untuk mengikuti jalan ceritanya hingga selesai.

Ceritanya memang fresh. Namun apabila penonton mengikuti rangkaian anime yang diproduksi oleh Ghibli, mana akan terasa familiar dengan desain karakter dan desain set beberapa karakter dan beberapa adegan dalam film. Juga, sepertinya ada inspirasi dari ikon film lainnya yang dimasukkan oleh Hayao Miyazaki.

Karakter tujuh nenek, misalnya. Desain karakternya sekilas mirip dengan nenek yang ada di Spirited Away, How’s Moving Castle, dan Princess Mononoke. Sementara, jumlah nenek dan keberagaman karakternya mengingatkan pada tujuh kurcacinya Snow White. Sosok Natsuko yang nampak tangguh dengan busurnya langsung mengingatkan pada Lady Eboshi dalam Princess Mononoke.

Dalam sebuah adegan ketika Minato berjumpa dengan Himi juga mengingatkan akan adegan dalam When Marnie was There. Sementara sosok penjaga menara mengingatkan pada sosok penyihir dalam salah satu cerita Narnia, The Voyage of the Dawn Treader.

Di Ghibli rasanya tak lengkap jika tak muncul para makhluk imut menggemaskan. Ada spirit hutan dan para debu dalam My Neighbor Totoro dan Arrietty. Lalu ada Kodama, semacam spirit hutan berwarna putih lucu dalam Princess Mononoke. Nah, dalam film ini ada para makhluk mirip Kodama yang disebut Warawawa, yang rupanya jiwa dari para manusia yang belum lahir ke dunia. Mirip dengan para jiwa yang ada dalam film Soul.

Dari segi cerita, seperti yang disebutkan di atas memang kaya akan petualangan yang imajinatif. Sebuah perjalanan jauh yang sebenarnya merupakan upaya untuk mengatasi rasa kehilangan dan membuka diri terhadap lingkungan yang baru. Ceritanya sebenarnya agak suram sehingga anak-anak perlu didampingi orang tuanya selama menonton anime ini.

Hayao Miyazaki kembali bekerja sama dengan Joe Hisaishi untuk mengisi skoring. Nomor-nomor yang tersaji dalam film umumnya relatif minimalis dan sebagian memiliki unsur Jepang klasik. Lagu soundtrack berjudul  Spinning Globe dibawakan oleh Kenshi Yonezu.

Para pengisi suara dalam film ini di antaranya Soma Santoki, Masaki Suda, Aimyon, Yoshino Kimura, Ko Shibasaki, Kaoru Kobayashi, Shinobu Otake, dan Takuya Kimura. Film yang mulai tayang di Indonesia Rabu, 13 Desember ini masuk ke dalam nominasi Golden Globe bersaing dengan Wish, Suzume, Elemental, The Super Mario Bros. Movie, dan Spider-Man: Across the Spider-Verse.

PENILAIAN KAMI
Overall
85 %
Artikel SebelumnyaFast Charlie
Artikel BerikutnyaSiksa Neraka
Dewi Puspasari akrab disapa Puspa atau Dewi. Minat menulis dengan topik film dimulai sejak tahun 2008. Ia pernah meraih dua kali nominasi Kompasiana Awards untuk best spesific interest karena sering menulis di rubrik film. Ia juga pernah menjadi salah satu pemenang di lomba ulas film Kemdikbud 2020, reviewer of the Month untuk penulis film di aplikasi Recome, dan pernah menjadi kontributor eksklusif untuk rubrik hiburan di UCNews. Ia juga punya beberapa buku tentang film yang dibuat keroyokan. Buku-buku tersebut adalah Sinema Indonesia Apa Kabar, Sejarah dan Perjuangan Bangsa dalam Bingkai Sinema, Antologi Skenario Film Pendek, juga Perempuan dan Sinema.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.