Three Billboards Outside Ebbing, Missouri (2017)

115 min|Comedy, Crime, Drama|01 Dec 2017
8.1Rating: 8.1 / 10 from 558,166 usersMetascore: 88
A mother personally challenges the local authorities to solve her daughter's murder when they fail to catch the culprit.

     *Mengandung spoiler 

Mildred menyentilkan jari telunjuknya untuk membalikkan serangga yang terbalik dekat jendela saat ia memesan iklan pada tiga papan iklan di pinggir kota tempat ia tinggal. Selepas momen itu pula, Mildred memutarbalikkan otoritas Ebbing dengan tulisan pada tiga papan iklan tersebut. Sang polisi muda rasis, Dixon, bertanya pada seorang tukang pemasang iklan, “How come, what? What?” ketika ia membaca di papan bertuliskan, How Come, Chief Willoughby? Si tukang pun hanya menunjuk dua papan iklan di depannya yang tengah juga dipasang, dan Dixon pun bergegas ke sana. “F*** me”, ujarnya, sesaat setelah membaca papan iklan pertama. Handphone sang sheriff Willoughby pun berdering di saat ia tengah makan malam bersama istri dan dua putrinya yang manis. Kisah pun bermula dengan kejutan demi kejutan yang sama sekali tidak bisa kita duga hingga akhir.

Sang sineas asal Inggris, Martin McDonagh (In Bruges) mengaku ide untuk menulis naskah film ini muncul ketika ia melintas di wilayah Georgia, Florida, Amerika Serikat, dan melihat papan iklan yang bertuliskan tentang satu kasus kriminal yang belum tuntas. “Saya begitu tersentuh dan terus ada di pikiran saya” akunya. Ia lalu menuliskan naskahnya dengan hanya ada dua aktor/aktris di pikirannya, yakni Francis McDormand dan Sam Rockwell. Nyatanya, semua berbuah kesempurnaan. Dua aktor ini benar-benar berperan di film ini dan rasanya adalah pencapaian akting terbaik sepanjang karir mereka.

Bak seorang Terminator, McDormand berperan begitu dingin nyaris tanpa senyum sepanjang filmnya. Ia adalah Mildred Hayes, seorang ibu yang penuh amarah karena kasus putrinya yang tewas diperkosa secara mengenaskan tak kunjung usai. Hal yang ada di otaknya hanyalah keadilan hingga satu kantor polisi dibuat kelimpungan olehnya. Bahkan hingga membakar kantor polisi pun ia tega  untuk melampiaskan emosinya. Karakternya begitu dingin dan penuh amarah, namun di saat yang sama kita juga mampu dibuat berempati penuh dan memahami karakternya sebagai sosok ibu yang amat merasa bersalah pada sang putri. Sementara sebaliknya, Sam Rockwell berperan brutal sebagai Dixon, polisi brutal dan konyol yang berpikiran pendek. Omongannya kasar dan tanpa dipikir, yang ada di otaknya hanyalah kekerasan, namun ia tergagap-gagap ketika seseorang menyinggung mamanya. Selepas ia membaca surat meyentuh dari almarhum atasannya dan keluar dari “neraka” (kantor polisi yang dibakar Mildred), ia pun berubah sikap, sungguh tak diduga, kita bisa berempati penuh dengan karakter ini. Segelas orange juice lengkap dengan sedotan yang diberikan oleh Red, si empunya papan iklan yang Dixon pukuli babak belur dengan brutal, membuat kita begitu trenyuh. Chemistry kedua tokoh ini yang diperankan McDormand dan Rockwell mampu membuat perasaan kita tak menentu. Antara benci dan cinta memang tipis. Di penghujung film, Mildred pun tersenyum dan tertawa untuk pertama kalinya, ketika ia mengaku telah membakar kantor polisi, dan Dixon menjawabnya ringan, “Siapa lagi? (kalau bukan kamu)”.

Film ini bicara apa sebenarnya? Keadilan? Penegakan Hukum? Iya benar jika kita simak dari kisahnya. Mildred memasang tulisan di tiga papan iklan, yakni “Raped While Dying?”, “And Still No Arrest?”, dan   “How Come, Chief Willoughby?”. Ketika ia ditanya mantan suaminya (yang kini berkencan dengan remaja perempuan berusia 19 tahun), mengapa ia memasang iklan tersebut? Mildred menjawab ringan untuk memotivasi para polisi untuk bekerja lebih serius. Namun, yang ada justru situasi berkembang sebaliknya. Sang sheriff yang tak kuasa menahan penyakit kankernya, akhirnya memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dengan pistol. Mildred pun sontak dianggap menjadi biang pemicunya. Red, sang bos iklan dihajar dan dilempar dari kantornya lantai dua oleh Dixon, yang berakibat ia kehilangan pekerjaannya. Walau kita tak diperlihatkan, Dixon pun rasanya adalah pelaku dibalik terbakarnya tiga papan iklan yang dipasang Mildred. Mildred membalasnya dengan membakar kantor polisi yang tak ia sangka-sangka ternyata Dixon di dalamnya. Di luar dugaan, dua surat dari almarhum sang sheriff untuk Mildred dan Dixon mengubah sikap keduanya. Entah mengapa keduanya menjadi lebih tenang, sekali pun Dixon luka parah. So, film ini bicara tentang keadilan? Rasanya tidak juga.

Baca Juga  Mosul

Bagaimana jika begini? Tiga papan iklan tersebut adalah merepresentasikan masyarakat AS. “Raped While Dying?” adalah warga AS., “And Still No Arrest?” adalah hukum, dan “How Come, Chief Willoughby?” adalah otoritas atau lebih tepatnya pemerintah. Ada ketidakseimbangan di antara ketiga unsur ini. Kisah “Mildred vs Dixon”, adalah satu kisah lama yang tak kunjung usai hingga kini. Jalan yang diambil adalah selalu jalan pintas, sikap anarki atau aksi kekerasan di luar hukum. Mereka tak bisa move on dan tak bisa saling memaafkan. Ini mengapa kekerasan selalu terjadi di sana. Dan adanya unsur “militer (tentara)” di film “tiga papan iklan” ini semakin mempertegas segalanya. Semua pelaku cerita dalam film ini dikisahkan penuh konflik dan kekacauan tanpa ada solusi. Sesaat setelah menonton film ini, saya mendadak ingat film dokumenter arahan Michael Moore bertajuk “Where to Invade Next?”. Dalam satu segmen di Norwegia. Moore bertanya kepada seorang ayah yang putranya tewas di peristiwa penembakan camp musim panas yang menewaskan 69 orang, “Apakah kamu tidak mau membunuh dan membalas dendam kepada sang pelaku?”. Inti jawabnya, “Biarkan hukum yang bekerja, jika kita saling dendam, masalah tak akan kunjung usai.” Sederhana sekali bukan. Di akhir film tiga papan iklan ini, Mildred dan Dixon, apakah mereka telah berdamai dengan diri dan hati mereka? Sepertinya belum.

Puitis dan estetis, serta didukung akting kuat dari dua pemain sentralnya, Three Bilboard Outside Ebbing, Missouri, adalah sebuah pencapaian langka berisikan tentang masyarakat Amerika Serikat kini.  Segudang penghargaan telah diraih film ini, termasuk film drama terbaik di ajang Golden Globe serta BAFTA baru lalu. Tak diragukan, film ini adalah salah satu film terbaik tahun ini bahkan dalam satu dekade terakhir. Rasanya untuk ajang Academy Awards yang berlangsung pekan depan, film ini adalah satu-satunya calon yang terkuat, walau seringkali ajang ini penuh kejutan. Rasanya, Piala Oscar adalah termasuk pula untuk naskah orisinal dan dua pemainnya yang bermain sangat mengesankan.

WATCH TRAILER

PENILAIAN KAMI
Overall
100 %
Artikel SebelumnyaPeter Rabbit
Artikel BerikutnyaMark Wahlberg Akan Membintangi Komedi Instant Family
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.