Trolls (2016)

92 min|Animation, Adventure, Comedy|04 Nov 2016
6.4Rating: 6.4 / 10 from 97,374 usersMetascore: 55
After the Bergens invade Troll Village, Poppy, the happiest Troll ever born, and the curmudgeonly Branch set off on a journey to rescue her friends.

Trolls adalah sebuah film animasi musikal yang jarang diproduksi studio Dreamworks Animation yang sukses dengan film-film boxoffice berkualitas seperti Shrek, Kung Fu Panda, dan How to Train Your Dragon. Film yang diadaptasi dari boneka mainan populer ini tercatat adalah film ke-33 yang diproduksi oleh Dreamworks Animation yang juga merupakan film nonfranchise. Trolls digarap oleh Mike Mitchell yang diisi suara oleh beberapa pemain bintang, yakni Anna Kendrick, Justin Timberlake, serta Zooey Deschanel.

Alkisah Trolls adalah makhluk kerdil yang memiliki tiga moto dalam hidup mereka, yakni menari, menyanyi, dan berpelukan serta hidup bahagia sepanjang waktu. Mereka memiliki musuh besar, kaum raksasa Bergen yang bisa meraih kebahagian jika memangsa Trolls. Kini 20 tahun sudah sejak Trolls lepas dari kejaran Bergen. Pesta yang meriah diadakan putri Poppy, putri sang raja, untuk memperingati hari besar tersebut. Branch, satu Trolls yang berbeda dengan yang lain beranggapan bahwa pesta tersebut akan memancing Bergen datang. Branch terbukti benar, dalam kejadian itu rekan-rekan Poppy dibawa oleh seorang Bergen ke kotanya untuk dihidangkan kepada sang raja. Poppy bersama Branch terlibat dalam sebuah petualangan seru untuk menyelamatkan rekan-rekan mereka.

  Trolls adalah sebuah kisah sederhana yang memang lebih ditujukan untuk anak-anak. Kisahnya mudah untuk diikuti dengan sisipan komedi yang rasanya sebagian besar hanya bekerja untuk anak-anak. Pesannya pun lugas, mudah dicerna anak-anak walau pesan lebih dalam bisa jadi hanya ditangkap oleh penonton dewasa. Inti kisah sejenis rasanya sudah terlampau banyak namun kekuatan film ini memang bukan disini namun pada aspek musikal. Dimotori Anna Kendrick (Pitch Perfect) yang memang memiliki suara merdu dan tentu saja Justin Timberlake, Trolls menyajikan serangkaian musik dan lagu yang dinamis dan amat enak dinikmati. Sebagian lagu pasti tak asing di telinga penonton, tak perlu disebut disini, dan jangan heran jika Anda mulai ikut bernyanyi bahkan ikut bergoyang. Musik dan lagunya memang asyik dan pas untuk tiap momennya.

Baca Juga  G20 | REVIEW

Trolls yang ceria dan penuh warna adalah hiburan pas untuk penonton segala usia dengan sajian beberapa nomor lagu manis dengan kemasan cerita dan pesan yang sederhana. Bicara pencapaian visual sepertinya sudah terlalu biasa untuk film-film animasi masa kini. Film dengan kisah senada rasanya sudah banyak sehingga agak berat untuk bisa mencapai sukses seperti Shrek, Kung Fu Panda, dan How to Train Your Dragon, namun siapa tahu. Dreamworks memang memiliki formula yang berbeda dengan Pixar yang hingga kini masih superior. Masih ditunggu film animasi produksi Dreamworks yang bisa bersaing kualitas dengan studio-studio lain.

WATCH TRAILER

PENILAIAN KAMI
Overall
70 %
Artikel SebelumnyaRemake Live Action: Mulan (Disney) vs Mulan (Sony)
Artikel BerikutnyaOuija: Origin of Evil
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). A lifelong cinephile, he developed a profound passion for film from an early age. After completing his studies in architecture, he embarked on an independent journey exploring film theory and history. His enthusiasm for cinema took tangible form in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience eventually led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched students’ understanding through courses such as Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended well beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, Understanding Film, an in-depth examination of the essential elements of cinema, both narrative and visual. The book’s enduring significance is reflected in its second edition, released in 2018, which has since become a cornerstone reference for film and communication scholars across Indonesia. His contributions to the field also encompass collaborative and editorial efforts. He participated in the compilation of Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1–3 and 30 Best-Selling Indonesian Films 2012–2018. Further establishing his authority, he authored Horror Film Book: From Caligari to Hereditary (2023) and Indonesian Horror Film: Rising from the Grave (2023). His passion for cinema remains as vibrant as ever. He continues to offer insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com while actively engaging in film production with the Montase Film Community. His short films have received critical acclaim at numerous festivals, both nationally and internationally. In recognition of his outstanding contribution to film criticism, his writing was shortlisted for years in a row for Best Film Criticism at the 2021-2024 Indonesian Film Festival. His dedication to the discipline endures, as he currently serves as a practitioner-lecturer in Film Criticism and Film Theory at the Indonesian Institute of the Arts Yogyakarta, under the Independent Practitioner Program from 2022-2024.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses