Alien: Covenant (2017)

122 min|Horror, Sci-Fi, Thriller|19 May 2017
6.4Rating: 6.4 / 10 from 303,152 usersMetascore: 65
The crew of a colony ship, bound for a remote planet, discover an uncharted paradise with a threat beyond their imagination, and must attempt a harrowing escape.

Alien: Covenant adalah film keenam dari seri Alien yang merupakan sekuel dari Prometheus. Covenant kembali digarap oleh Ridley Scott, sineas yang jelas memberikan ekspektasi tinggi pada filmnya kali ini. Film berbujet US$ 111 juta ini kembali dibintangi oleh Michael Fassbender dengan pemain-pemain baru, seperti Katherine Waterston, Billy Crudup, dan Danny McBride. Konon Covenant adalah film kedua dari rencana besar, tiga prekuel film orisinalnya, Alien (1979) yang juga digarap Scott.

Film ini berkisah 10 tahun berselang setelah kejadian Prometheus. Pesawat luar angkasa raksasa, Covenant, yang mengangkut koloni berisi ribuan orang dan belasan awak, bertolak menuju sebuah planet sebagai habitat baru mereka. Dalam perjalanan, Covenant mengalami kecelakaan hebat sehingga seluruh awak pesawat harus dibangunkan dari tidur panjangnya. Di saat tengah mereparasi pesawat angkasa tersebut, sinyal misterius dari sebuah planet memaksa mereka untuk berbelok arah. Dari sinilah semua bencana berawal.

Sejak Prometheus rilis, ekspektasi terhadap film ini jelas kecil. Mengapa? Subgenre “alien” sudah berkembang jauh sejak film Alien dirilis beberapa dekade silam. Variasi genre ini sudah tak terhitung lagi jumlahnya di luar seri populer ini. Baik dari aspek thriller, horor, aksi, drama, supernatural, komedi, dengan monster berbagai macam bentuk, semuanya lengkap. Apa lagi yang mau ditawarkan Prometheus? Ridley Scott menjawabnya dengan berani dan elegan mengambil kisah asal-usul sang alien yang menjadi penyebab semua malapetaka ini. Tema eksistensi manusia dan asal-usulnya, hubungan dengan sang pencipta, membuat nuansa filosofis film ini semakin kental. Baik tema maupun teknis, film ini adalah pencapaian yang sangat baik walau akhir kisahnya menggantung.

Covenant menjadi jawaban kisah lanjutan dari Prometheus. Kita sekarang tahu apa yang terjadi dengan David dan Elizabeth Shaw. Namun, apakah semua ini sepadan dengan kisah Prometheus? Jawabnya jelas tidak. Covenant jelas akan mengarahkan kita ke sebuah titik dimana momen Alien bakal terjadi. Semua kemungkinan bisa saja terjadi dan kisah (proses) yang ditawarkan Covenant, boleh dibilang jauh dari kata sempurna. Kedalaman tema yang muncul dalam Prometheus, sirna karena film ini tampak semata hanya direka sedemikian rupa dengan amat memaksa untuk menuju ke satu titik. Scott tidak lagi mampu menemukan sesuatu yang segar dalam kisahnya. Penonton yang sudah paham betul seri ini, sudah tahu bagaimana cerita ini akan berjalan sejak satu sosok misterius muncul di separuh film. Film ini bukan lagi mengangkat soal isu “alien”, namun adalah isu AI (Artificial Intelligence). Hal yang paling mengecewakan adalah twist konyol, yang siapa pun yang menonton pasti tidak sulit untuk menduga.

Baca Juga  A Quiet Place

Alien: Covenant berada di antara Prometheus dan Alien, dua film alien terbaik garapan Ridley Scott dan di tengahnya (Covenant) adalah film paling buruk dari serinya. Di luar pencapaian efek visual, sinematografi yang menawan, hingga musiknya yang tematik dengan seri sebelumnya, Covenant tidak bisa menemukan sesuatu yang baru, baik dari sisi ketegangan cerita maupun aksinya. Adegan klimaks sangat terasa sekali nuansa adegan klimaks dalam Aliens, tanpa ada satu pun aksi yang menggigit. Waterston tampak sekali bakal diarahkan menjadi pengganti Sigourney Weaver sebagai sosok ikonik, Allen Ripley. Dalam film sekuel berikutnya, fans seri ini sudah tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Ekspektasi jelas sudah menurun tanpa ada sesuatu yang bisa kita harapkan. Setidaknya jika memang sekuelnya dibuat, entah mengarah ke thriller atau aksi, setidaknya film tersebut kelak bisa menghibur fansnya. Kita tidak butuh satu android yang berlagak menjadi “Tuhan” yang sama sekali jauh dari esensi seri ini sejak awal.

WATCH TRAILER

Prologue 1 – Shaw & David

WATCH PROLOGUE-1

Prologue 2 – The Last Supper

WATCH PROLOGUE-2

PENILAIAN KAMI
Overall
60 %
Artikel SebelumnyaA Silent Voice
Artikel BerikutnyaCritical Eleven
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.