Allied (2016)

124 min|Action, Drama, Romance|23 Nov 2016
7.1Rating: 7.1 / 10 from 170,712 usersMetascore: 60
In 1942, a Canadian intelligence officer in North Africa encounters a female French Resistance fighter on a deadly mission behind enemy lines. When they reunite in London, their relationship is tested by the pressures of war.

Robert Zemeckis bisa jadi sudah lewat masanya dengan karya-karya masterpiece-nya seperti, Back to The Future, Forest Gump, serta Cast Away namun bukan berarti sang sineas telah habis. Tahun lalu ia mengarahkan The Walk sekalipun gagal secara komersil namun film ini banyak dipuji pengamat. Kembali bertema sejarah, kali ini Zemeckis menjajal genre drama thriller berlatar perang yang dibintangi Brad Pitt dan Marion Cotillard. Film ini sendiri justru populer karena isu affair antara dua aktor utamanya yang berujung pisahnya Pitt dengan sang istri, Angelina Jolie.

 Berlatar Perang Dunia II di Maroko, Afrika Utara, Jerman telah menguasai wilayah Casablanca. Di tempat ini seorang perwira dan agen asal Kanada, Max Vatan, serta seorang anggota pemberontak Perancis, Marianne Beausejour mendapat sebuah misi rahasia untuk membunuh seorang petinggi Nazi. Setelah misi selesai mereka berdua jatuh hati kemudian hidup bersama di London. Masalah justru muncul ketika mereka berdua hidup dalam masa-masa bahagia.

Kematangan sang sineas sangat terasa dalam menampilkan alur kisahnya secara sabar dengan tempo lambat. Sejak awal penonton dibawa ke sebuah wilayah asing dengan tokoh-tokoh yang misterius. Dua tokoh diperkenalkan dan kita masih belum bisa menduga apa tujuan mereka hingga momen klimaks disajikan. Segmen terbaik filmnya memang ada pada bagian pembuka ini. Dua segmen cerita selanjutnya terlalu mudah diantisipasi hingga arah ending pun rasanya tak sulit diprediksi. Alur plot seperti ini sudah terlampau banyak dalam film sejenis.

Baca Juga  Black Mass

Kisah filmnya pada separuh awal lebih mengarah pada unsur roman. Walau dari sisi ini plotnya terasa kurang menggigit namun penampilan Pitt dan Cotillard mampu menutupi kelemahan. Inti kisahnya memang bukan pada unsur roman tapi nuansa thriller-nya pada separuh akhir film. Pitt yang tampil baik mampu bermain baik sesuai kelasnya namun tak ada yang istimewa disini. Cotillard pun jauh lebih menonjol di awal dengan mampu tampil seksi dan misterius sementara pada sisa plotnya ia tampil lebih santai. Nyaris tak ada chemistry ketegangan pada keduanya pada momen separuh akhir film.

Allied menampilkan kematangan penyutradaraan dari sineas kawakan, Robert Zemeckis serta akting dua aktor utamanya namun sayang plotnya berkembang menjadi terlalu familiar. Zemeckis yang dikenal sebagai pengguna efek visual justru tak menonjol disini. Satu faktor teknis yang agak mengganggu adalah beberapa setting lokasi eksterior yang tampak artifisial, berbeda dengan pencapaian yang sama dalam The Walk. Di luar faktor pencapaian baik dari sineas, gosip tentang affair antara Pitt dan Cotillard bisa menjadi pertaruhan filmnya. Agak geli juga melihat film ini ada kemiripan dengan plot Mr. & Mrs Smith, yang dimainkan Pitt dan Jollie satu dekade silam, dan film ini pula yang menyebabkan pisahnya hubungan sang aktor dengan aktris, Jennifer Aniston.

WATCH TRAILER

https://www.youtube.com/watch?v=nBTwUhtd3KM

PENILAIAN KAMI
Overall
70 %
Artikel SebelumnyaMelbourne Rewind
Artikel BerikutnyaUnder the Shadow
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.