https://www.imdb.com/title/tt7451284/?ref_=nv_sr_1

     Sungguh tak bisa dimengerti, DC Comics nyaris selalu gagal secara kritik film live-action-nya, khususnya DC Extended Universe (DCEU), namun begitu kontras dengan pencapaian divisi animasi home video-nya. Beberapa film animasi panjangnya, amat brilian serta jauh berkualitas, sebut saja The Dark Knight Return Part 1 & 2, Justice League Dark, hingga baru lalu Lego DC Comics Superhero: The Flash. Melalui medium animasi ini, para kreatornya mampu mengeksplorasi tema, kisah, bahkan pendekatan estetiknya ke level baru yang belum pernah tersentuh sebelumnya. Satu contoh terbaru, Batman: Gotham the Gaslight yang membawa setting kota Gotham ke era Victoria dan mengkombinasi plotnya dengan kisah Jack the Ripper. Kali ini, Batman Ninja membawa lebih jauh lagi melalui pendekatan estetik unik serta plot brilian, dengan banyak tribute lokalnya. Batman Ninja digarap oleh sineas asal Jepang, Junpei Mizusaki serta desain karakter animasinya oleh Takasho Okazaki yang juga menggarap komik manga Afro Samurai.

     Sekalipun setting kisah berada jauh di era silam, namun penjelasan logis kisahnya bukannya tak terabaikan begitu saja. Alkisah, Batman tengah mencegah rencana jahat Gorilla Grodd di Arkham Asylum Gotham, namun satu kecelakaan besar terjadi hingga mesin waktu Grodd membawa mereka ke era feodal di Jepang. Tanpa diduga Batman, mesin tersebut ternyata juga membawa seluruh musuh bebuyutannya, yakni Joker, Harley Quinn, Two Face, Penguin, Poison Ivy, hingga Death Stroke yang kini telah menguasai wilayah Jepang. Batman berusaha mencegah rencana jahat Joker dan kembali ke masa depan dengan dibantu rekan-rekannya yang ternyata ikut pula terbawa dalam perjalanan waktu ini.

     Kisah Batman versus Joker tentu tak asing bagi kita, namun kini setting kisahnya yang membuat plotnya menjadi lebih bergairah. Dengan sentuhan estetik sineasnya yang berdarah lokal membawa nuansa era feodalisme begitu pas berpadu dengan plotnya. Di era silam ini, Joker tetaplah Joker yang gemar bermain-main dengan sang jagoan. Batman tetaplah Batman yang selalu menjaga kode etiknya yang tak bisa membunuh musuhnya. Intrik demi intrik cerita berlangsung walau ending-nya tak sulit untuk kita tebak. Aksi pertarungan pun layaknya seri anime yang selalu tak ada habisnya, jatuh, bangkit, jatuh dan bangkit lagi. Sedikit mengesalkan juga karena seolah mereka selalu punya senjata andalan yang mereka simpan, yang tak ada habisnya. Kisahnya juga mengkombinasi subgenre kaiju (monster/robot raksasa) walau tak masuk akal, namun bolehlah jika dimaksudkan sebagai tribute. Setidaknya sebuah upaya yang memang unik dan segar untuk genrenya.

Baca Juga  Our Men (Festival Sinema Prancis)

     Membawa superhero dan supervillain ikoniknya, Batman Ninja merupakan sebuah terobosan brilian genrenya yang mengkombinasi variasi subgenre serta latar cerita dan setting yang eksotis dengan pendekatan estetik yang khas. Walau tak bisa dibilang istimewa, namun Batman Ninja adalah sebuah pencapaian yang rasanya tak akan berani dilakukan oleh film live-action-nya. Batman adalah satu sosok superhero ikonik yang sudah terlampau sering difilmkan dalam medium ini. Tim Burton sudah melakukan dengan pendekatan estetiknya yang khas. Nolan sudah mengangkat jauh Batman melalui pendekatan yang lebih realistik. Sementara DCEU mencoba bermain aman dan hasilnya sudah kita lihat sama-sama. Mungkin saja, sedikit masukan dari para kreator divisi home video-nya yang brilian, bisa membuat sosok ini menjadi berbeda dan unik.

WATCH TRAILER

PENILAIAN KAMI
Overall
80 %
Artikel SebelumnyaBioskop Jogja, dari Empire 21, Empire XXI, hingga Ambarrukmo XXI
Artikel BerikutnyaAvengers Infinity War, Is It a Masterpiece?
Hobinya menonton film sejak kecil dan mendalami teori dan sejarah film secara otodidak setelah lulus dari studi arsitektur. Ia mulai menulis artikel dan mengulas film sejak tahun 2006. Karena pengalamannya, penulis ditarik menjadi staf pengajar di Akademi Televisi dan Film swasta di Yogyakarta untuk mengajar Sejarah Film, Pengantar Seni Film, dan Teori Film sejak tahun 2003 hingga tahun 2019. Buku film debutnya adalah Memahami Film (2008) yang memilah seni film sebagai naratif dan sinematik. Buku edisi kedua Memahami Film terbit pada tahun 2018. Buku ini menjadi referensi favorit bagi para akademisi film dan komunikasi di seluruh Indonesia. Ia juga terlibat dalam penulisan Buku Kompilasi Buletin Film Montase Vol. 1-3 serta 30 Film Indonesia Terlaris 2012-2018. Ia juga menulis Buku Film Horor: Dari Caligari ke Hereditary (2023) serta Film Horor Indonesia: Bangkit Dari Kubur (2023). Hingga kini, ia masih menulis ulasan film-film terbaru di montasefilm.com dan terlibat dalam semua produksi film di Komunitas Film Montase. Film- film pendek arahannya banyak mendapat apresiasi tinggi di banyak festival, baik lokal maupun internasional. Baru lalu, tulisannya masuk dalam shortlist (15 besar) Kritik Film Terbaik dalam Festival Film Indonesia 2022. Sejak tahun 2022 hingga kini, ia juga menjadi pengajar praktisi untuk Mata Kuliah Kritik Film dan Teori Film di Institut Seni Indonesia Yogyakarta dalam Program Praktisi Mandiri.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.