Buried (2010)
95 min|Drama, Mystery, Thriller|15 Oct 2010
7.0Rating: 7.0 / 10 from 165,978 usersMetascore: 65
Paul is a U.S. truck driver working in Iraq. After an attack by a group of Iraqis he wakes to find he is buried alive inside a coffin. With only a lighter and a cell phone it's a race against time to escape this claustrophobic dea...

Paul Conroy (Reynolds) mendapati dirinya terikat dan dikubur hidup-hidup dalam sebuah peti mati. Ia panik menjerit minta tolong dan berusaha sekuatnya untuk keluar dari peti namun usahanya sia-sia. Tak lama ia menyadari sebuah handphone berada di dekatnya. Dengan hanya bermodal sebuah handphone isi baterai bersisa separuh, Paul berusaha menghubungi orang-orang yang ia yakini bisa menolongnya keluar dari mimpi buruk ini.

Film dengan setting minim memang bukan hal baru. Tercatat sineas thriller kawakan Alfred Hitcock gemar menggunakan setting dalam ruang yang terbatas, seperti Rear Window, The Rope, Dial M for Murder, hingga Lifeboat. Lifeboat tercatat merupakan setting yang paling minim yakni hanya dalam satu sekoci penyelamat. Belum lama lalu film produksi Jerman, Lebanon (2009) mengambil setting interior sebuah tank. Namun Buried sejauh ini tercatat adalah film yang menggunakan setting paling sempit (minim), yakni dalam sebuah peti mati. Mata kamera sama sekali tak pernah beranjak menyorot ruang dalam peti mati.

Apa yang bisa ditawarkan dari setting begitu sempit dan terbatas ternyata melebihi yang kita bayangkan. Setting cerita pasca invasi Irak serta motif tebusan teroris membuat segalanya menjadi memungkinkan. Handphone menjadi satu-satunya alat yang ampuh untuk mengembangkan cerita. Dari awal hingga akhir unsur ketegangan cerita berjalan semakin meningkat tanpa memaksa sedikit pun. Hanya solusi cerita dirasa terlalu mudah, kurang setimpal dengan semua usaha yang telah dilakukan oleh Paul. Apa mau dikata, apa lagi yang bisa kita lakukan jika kita dikubur hidup-hidup? Sungguh-sungguh sebuah mimpi buruk.

Baca Juga  The Mitchells vs. the Machines

Apa yang diinginkan sineas adalah penonton benar-benar merasakan seperti apa rasanya jika kita dikubur hidup-hidup. Rasa frustasi dan takut tak hanya dialami oleh Paul namun juga oleh kita. Unsur realistik juga dibangun melalui tata cahaya natural yang “hanya” menggunakan alat penerangan yang dimiliki Paul yakni, pemantik api, lampu handphone, serta lampu senter (sepertiga akhir cerita). Terakhir, separuh kekuatan filmnya jelas adalah akting menawan Ryan Reynolds yang memberikan segalanya untuk perannya ini. Rasa frustasi, takut, gelisah, optimis, serta penuh harap membaur seluruhnya dalam wajah Paul yang nyaris di-close up sepanjang film. Permainan sudut kamera adalah satu hal yang mampu membuat penonton tidak bosan sekalipun setting-nya hanya itu-itu saja.

Buried dari satu sisi tidaklah menuturkan cerita, namun adalah sebuah perjalanan sinematik yang meruntuhkan kelaziman film-film masa kini. Boleh jadi idenya bukanlah hal yang baru namun keberanian untuk mengangkat kisah film ini mampu mengingatkan jika medium film masih bisa dieksplorasi lebih jauh tanpa teknologi canggih masa kini. Hitchcock bisa jadi iri dengan pencapaian film ini namun jika ia masih hidup rasanya ia bisa berbuat lebih baik. Seperti halnya film-film Hitchcock, Buried dengan berjalannya waktu akan semakin banyak dikenang para pecinta film. Buried memang bukanlah film istimewa namun kelak merupakan salah satu film penting bagi sejarah perkembangan sinema modern. Coba setting apa lagi yang lebih sempit dari peti mati?

https://www.youtube.com/watch?v=gjy9RC8zNwc

PENILAIAN KAMI
Overall
80 %
Artikel SebelumnyaNarnia, Voyage of the Dawn Treader, Berakhir Sesaat Bermula
Artikel BerikutnyaTron: Legacy
Hobinya menonton film sejak kecil dan mendalami teori dan sejarah film secara otodidak setelah lulus dari studi arsitektur. Ia mulai menulis artikel dan mengulas film sejak tahun 2006. Karena pengalamannya, penulis ditarik menjadi staf pengajar di Akademi Televisi dan Film swasta di Yogyakarta untuk mengajar Sejarah Film, Pengantar Seni Film, dan Teori Film sejak tahun 2003 hingga tahun 2019. Buku film debutnya adalah Memahami Film (2008) yang memilah seni film sebagai naratif dan sinematik. Buku edisi kedua Memahami Film terbit pada tahun 2018. Buku ini menjadi referensi favorit bagi para akademisi film dan komunikasi di seluruh Indonesia. Ia juga terlibat dalam penulisan Buku Kompilasi Buletin Film Montase Vol. 1-3 serta 30 Film Indonesia Terlaris 2012-2018. Ia juga menulis Buku Film Horor: Dari Caligari ke Hereditary (2023) serta Film Horor Indonesia: Bangkit Dari Kubur (2023). Hingga kini, ia masih menulis ulasan film-film terbaru di montasefilm.com dan terlibat dalam semua produksi film di Komunitas Film Montase. Film- film pendek arahannya banyak mendapat apresiasi tinggi di banyak festival, baik lokal maupun internasional. Baru lalu, tulisannya masuk dalam shortlist (15 besar) Kritik Film Terbaik dalam Festival Film Indonesia 2022. Sejak tahun 2022 hingga kini, ia juga menjadi pengajar praktisi untuk Mata Kuliah Kritik Film dan Teori Film di Institut Seni Indonesia Yogyakarta dalam Program Praktisi Mandiri.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.