Captain America: Civil War (2016)

147 min|Action, Sci-Fi|06 May 2016
7.8Rating: 7.8 / 10 from 854,367 usersMetascore: 75
Political involvement in the Avengers' affairs causes a rift between Captain America and Iron Man.

Rilis film yang paling dinantikan tahun ini oleh para fans Marvel akhirnya menjawab semua pertanyaan yang membuat semua orang penasaran sejak trailer pertamanya muncul. Karakter superhero besar yang akhirnya bisa ditarik Marvel dari Sony, Spiderman, menjalani debut pertamanya di film ini. Semua karakter superhero besar di Marvel Cinematic Universe (MCU) semuanya muncul, kecuali Thor, Bruce Banner, dan Nick Fury. Agak aneh juga sebenarnya Fury tidak masuk dalam plotnya karena ia salah satu tokoh pencetus The Avengers. Duo sineas, Anthony dan Joe Russo masih menggunakan pendekatan realistik yang sama dengan Captain America: Winter Soldier dalam sekuen aksinya.

Boleh dibilang plot Civil War merupakan sekuel dari Winter Soldier dan Averger’s Age of Ultron. Bucky Barnes (Winter Soldier) yang mencoba hidup membaur dan jauh dari masalah mulai terusik ketika ada kelompok misterius yang menggunakan sosoknya untuk melakukan teror sehingga ia menjadi buron kembali. Sementara akibat aksi Tim Avengers yang selalu menimbulkan bencana dan korban jiwa dalam tiap aksinya memicu negara-negara di dunia untuk membuat petisi untuk mengontrol segala aksi mereka. Tim Avengers pecah menjadi dua, Tony Stark dan rekan-rekannya memilih untuk menandatangani petisi namun Steve Rodgers dan teman-temannya menolak. Bucky masuk ditengah panasnya konflik tersebut dan Steve ternyata memilih untuk membela sahabat lamanya.

Tidak seperti Ultron yang memiliki cerita yang rumit dan kompleks. Civil War memiliki plot yang relatif lebih jelas dan gamblang terlebih untuk para fans MCU. Saking “gamblang”-nya hingga mampu mengecoh kita habis-habisan untuk disimpan sebagai sekuen klimaks yang menggetarkan yang pernah ada pada genre superhero. Plot sejak awal memang sengaja terlihat mudah dan disimpan untuk momen besar ini. Hal yang amat disayangkan adalah kemunculan beberapa tokoh superhero yang terasa agak memaksa, khususnya Spiderman. Agak aneh saja, karakter Peter Parker yang masih amat belia dipaksa untuk masuk dalam situasi yang ia sendiri belum pahami. Lalu juga ada Scott Lang (Ant Man) yang terasa sekali dipaksa masuk ke dalam situasi “besar” yang ia sendiri tidak mengerti mengapa. Sementara karakter Black Panther justru bisa membaur sempurna dalam plot filmnya meski tanpa latar yang memadai.

Baca Juga  Spiral

Hal yang paling jelas dinantikan para penonton jelas adalah sekuen aksinya. Ada empat sekuen aksi besar, yakni di Lagos, Bucharest, Berlin, serta Siberia, dan semuanya dijamin akan memuaskan para fans tanpa terkecuali. Pendekatan realistik pada segmen aksinya juga yang menjadi satu kekuatan filmnya. Aksi-aksi banyak fokus pada perkelahian jarak dekat dan tidak banyak menggunakan CGI seperti yang disajikan dalam Ultron. Segmen aksi jalanan di Wakanda tercatat menjadi segmen paling dinamis dan mengesankan. Segmen aksi besar yang melibatkan semua superhero di area airport Leipzig bisa jadi adalah yang paling menghibur namun harus diakui terlihat memaksa.

Terlepas dari sekuen aksinya yang amat menghibur dan realistik, serta segmen klimaks yang menghebohkan, sayangnya Captain America: Civil War menampilkan beberapa karakter besar yang memaksa untuk tampil. Namun dari semua film MCU sebelumnya bahkan untuk genrenya, Civil War adalah yang paling dalam dan gelap menggambarkan konflik antar karakternya. Musuh mereka bukanlah alien yang ribuan banyaknya atau robot yang super pintar namun adalah diri dan mental mereka sendiri. Persahabatan mereka diuji ke level paling dalam dan Civil War mampu menggambar semuanya dengan sempurna. Marvel kembali berhasil melampaui plot sebelumnya namun munculnya karakter-karakter baru amat berpotensi melemahkan pondasi MCU sendiri. Civil War tinggal menanti waktu menjadi film terlaris tahun ini.

WATCH TRAILER

PENILAIAN KAMI
Overall
90 %
Artikel SebelumnyaSurat Cinta Untuk Kartini
Artikel BerikutnyaSuper Didi
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.