Cobweb (2023)
88 min|Horror, Mystery, Thriller|20 Oct 2023
5.9Rating: 5.9 / 10 from 31,614 usersMetascore: 50
An eight-year-old boy tries to investigate the mysterious knocking sounds that are coming from inside the walls of his house, unveiling a dark secret that his sinister parents have kept hidden from him.

Cobweb merupakan film horor thriller arahan sineas debutan Samuel Bodin. Film ini dibintangi Lizzy Caplan, Woody Norman, Cleopatra Coleman, dan Antony Starr. Film berdurasi 88 menit ini sempat mendapat rilis teater sebelum tayang dalam platform streaming Prime Video minggu lalu. Apa lagi yang kini ditawarkan Cobweb untuk bersaing di genrenya?

Peter (Norman) tinggal bersama ayah ibunya, Mark (Starr) dan Carol (Caplan) di sebuah lingkungan perumahan yang sepi. Sewaktu malam, Peter mulai terganggu suara-suara di dinding hingga suatu ketika suara tersebut memanggil namanya. Ayah dan ibunya yang berperangai aneh tidak menggubrisnya, seolah ada sesuatu yang mereka sembunyikan. Hingga suatu ketika, Peter pun berkomunikasi dengan suara seorang gadis kecil dari balik dinding. Gadis misterius tersebut menguak rahasia besar terkait kedua orang tuanya.

Horor penuh twist macam Cobweb memang sudah beberapa kali kita temui, terakhir yang mampu memberi kejutan besar contohnya Barbarian. Namun tidak seperti Barbarian yang memiliki penuturan unik, Cobweb semata hanya turunan dan kombinasi dari beberapa jenis plot horor yang sebenarnya sudah jamak.

Pertama adalah sisi misteri. Separuh durasi awal, Cobweb mampu membangun sisi misterinya dengan amat rapi. Adegan demi adegan memancing rasa penasaran karena kita tak tahu situasi apa yang sebenarnya dihadapi Peter. Sikap kedua orang tua Peter yang diperankan dengan sangat baik oleh Caplan dan Starr, seolah mengalihkan kita ke masalah yang sesungguhnya (Peran Starr sebagai Mark mengingatkan banyak pada sosok Norman Bates dalam Psycho). Bagi penikmat horor sejati, rasanya tak sulit diantisipasi arah kisahnya. Benar saja, tempo plot yang lambat mendadak berubah menjadi demikian intens bak film aksi alien/slasher yang bergerak tanpa henti.

Baca Juga  The Violent Heart

(spoiler alert)

Sang monster bisa kita ibaratkan sebagai sosok Alien. Hanya saja setting-nya kali ini di rumah tinggal. Pada babak ketiga (sekitar 25 menit akhir) aksi-aksinya luar biasa intens. Bak tukang jagal, sang monster memburu mangsanya dengan gayanya yang khas. Titelnya sudah mengindikasikan para korbannya yang terperangkap dalam jaring maut yang menjadi wilayah teritorinya. Untuk genrenya, boleh jadi Cobweb adalah salah satu yang paling efektif dalam menyajikan aksi ketegangannya. Hanya sayangnya, latar kisahnya sedikit mengganjal. Jika sang monster sudah sekian lama berada di sana, mengapa ia harus mengambil momen saat ini,? Toh Peter selama ini juga ada di sana. Mengapa Mark dan Carol tidak menyingkirkannya sejak dulu jika ia begitu berbahaya? Sebenarnya masih banyak hal mengganjal lainnya.

Cobweb merupakan satu horor unik yang memadukan sisi misteri dan ketegangan ala plot alien/slasher. Dari sisi genrenya, tak ada eksplorasi baru di sini selain hanya pengolahan tempo cerita serta sosok sang monster yang unik. Dari sisi horor, tak banyak aksi jump scare yang mengagetkan seperti film horor kebanyakan, namun pembangunan atmosfir eksterior dan interiornya patut diacungi jempol. Sineas debutan Samuel Bodin terbukti memiliki talenta yang cakap dalam mengemas sisi misteri dan serta aksi-aksinya. Kita tunggu karya sang sineas berikutnya. Untuk penikmat horor, rasanya Cobweb tak boleh dilewatkan.

1
2
PENILAIAN KAMI
overall
70 %
Artikel SebelumnyaHeart of Stone
Artikel BerikutnyaBlue Beetle
His hobby has been watching films since childhood, and he studied film theory and history autodidactically after graduating from architectural studies. He started writing articles and reviewing films in 2006. Due to his experience, the author was drawn to become a teaching staff at the private Television and Film Academy in Yogyakarta, where he taught Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory from 2003 to 2019. His debut film book, "Understanding Film," was published in 2008, which divides film art into narrative and cinematic elements. The second edition of the book, "Understanding Film," was published in 2018. This book has become a favorite reference for film and communication academics throughout Indonesia. He was also involved in writing the Montase Film Bulletin Compilation Book Vol. 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Additionally, he authored the "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). Until now, he continues to write reviews of the latest films at montasefilm.com and is actively involved in all film productions at the Montase Film Community. His short films have received high appreciation at many festivals, both local and international. Recently, his writing was included in the shortlist (top 15) of Best Film Criticism at the 2022 Indonesian Film Festival. From 2022 until now, he has also been a practitioner-lecturer for the Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts in the Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.