Green Book (2018)
130 min|Biography, Comedy, Drama|16 Nov 2018
8.2Rating: 8.2 / 10 from 572,075 usersMetascore: 69
A working-class Italian-American bouncer becomes the driver for an African-American classical pianist on a tour of venues through the 1960s American South.

Green Book adalah film komedi – roadmovie yang diarahkan oleh Peter Farelly. Peter bersama saudaranya, Bobby Farelly, kita kenal dengan garapannya film-film komedi laris, sebut saja Dumb and Dumber, There’s Something About Mary, Shallow Hall, hingga Fever Pitch. Green Book sendiri diinspirasi dari kisah nyata sebuah perjalanan seorang musisi kulit hitam kenamaan, Don Shirley bersama supir sekaligus pengawalnya, Frank Vallelonga. Film berbujet US$ 23 juta ini dibintangi oleh Viggo Mortensen, aktor peraih Oscar, Mahershala Ali, serta Linda Cardellini. Seperti kita tahu Green Book, belum lama ini berhasil meraih film terbaik dalam ajang Golden Globe untuk kategori film komedi/musikal terbaik. Dalam ajang bergengsi Academy Awards, film ini pun sukses meraih 5 nominasi Oscar, termasuk film terbaik.

Film ini berkisah tahun 1960-an di AS, di mana masalah perbedaan warna kulit masih menjadi isu besar kala itu. Alkisah Frank Vallelonga aka Tony Lip (Mortensen) harus mencari pekerjaan baru tatkala klub malam di tempat ia bekerja tengah direnovasi selama 2 bulan. Frank yang membenci orang negro justru mendapat tawaran pekerjaan dari seorang musisi kulit hitam kenamaan bernama Don “Doc” Shirley (Ali) untuk menjadi supir dan asisten pribadinya selama 2 bulan untuk tur di wilayah selatan AS. Dengan upah yang begitu tinggi, Frank tak mampu menolak dan istrinya pun mengijinkannya untuk pergi. Tak disangka, perjalanan ini kelak bakal mengubah cara pandang dan hidup mereka untuk selamanya.

Untuk genre roadmovie, Green Book adalah tipikal textbook genrenya. Tak ada yang baru dari alur plot maupun kisahnya. Sejak sukses Miss Little Sunshine (2006), roadmovie semakin langka diproduksi, dan Green Book seolah membawa sebuah penyegaran bagi genrenya. Satu hal yang menjadi pembeda besar dengan film roadmovie lainnya adalah tema dan dua pemain bintangnya. Setting kisahnya yang berlatar 1960-an, dengan isu rasisme yang dikemas dalam satu perjalanan panjang yang mencerahkan, seolah hanya untuk mengantarkan satu pesan besar tentang situasi yang masih relevan hingga kini.

Baca Juga  Mortal Engines

Film ini dituturkan sederhana dengan naskah dan dialog yang amat brilian sepanjang filmnya. Durasi 130 menit sama sekali tidak terasa sebagai perjalanan panjang yang melelahkan, namun justru sangat menghibur sekaligus mencerahkan. Semua disajikan serba gamblang tetapi mampu merefleksikan sebuah sikap, kesadaran, kedangkalan berpikir yang jauh lebih dalam dari yang kita bisa bayangkan. Satu dialog brilian ketika Doc menyuruh Frank untuk mengembalikan batu “akik” yang ia pungut (baca: curi) dari tanah yang terjatuh dari kotaknya. Satu hal kecil yang seolah tak penting, namun bisa berbicara banyak tentang film ini. Mereka berdua dengan caranya masing-masing ternyata mampu mengisi satu sama lain untuk menjadikan mereka pribadi yang lebih dewasa.

Di luar naskahnya yang istimewa, satu lagi pencapaian terbesar filmnya adalah penampilan dua tokoh utamanya. Viggo Mortensen dan Mahershala Ali mampu bermain maksimal menghasilkan satu chemistry yang begitu berkesan bagi penonton. Dua sosok yang amat kontras dalam gaya bicara dan sikap ini menghasilkan satu penampilan memikat yang teramat jarang kita lihat dalam film. Dengan dukungan kekuatan dialognya dalam semua adegannya, mereka berdua begitu menghibur hingga kita menikmati dan selalu menantikan ketika mereka beradu mulut. Chemistry kedua sosok ini mampu membuat kita seolah tak ingin film ini berakhir.

Sekalipun masih tipikal plot roadmovie, namun Green Book adalah film sederhana dan menghibur yang didukung naskah serta dua pemain bintangnya yang brilian, plus tema rasisme serta sisi manusiawi yang hangat. Film bertema sama juga bukan hal yang baru dalam industri film AS yang kini bahkan menjadi tren. Masalah rasisme serta isu lainnya terkait kulit hitam seolah tak ada habisnya dieksplor dan kini menjadi topik yang “seksi”. Momentum Black Panther semakin memperkuat dan mempopulerkan film bertema ini dan para pemain kulit hitam. Apakah lantas bisa kita sebut film-film bertema ini, termasuk Green Book dianggap latah? Saya tak bisa menjawabnya, satu hal yang pasti, Green Book adalah salah satu film terbaik produksi pada tahun rilisnya dan salah satu film terbaik di genrenya.

WATCH TRAILER

PENILAIAN KAMI
Overall
100 %
Artikel SebelumnyaMatt & Mou
Artikel BerikutnyaTembang Lingsir
His hobby has been watching films since childhood, and he studied film theory and history autodidactically after graduating from architectural studies. He started writing articles and reviewing films in 2006. Due to his experience, the author was drawn to become a teaching staff at the private Television and Film Academy in Yogyakarta, where he taught Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory from 2003 to 2019. His debut film book, "Understanding Film," was published in 2008, which divides film art into narrative and cinematic elements. The second edition of the book, "Understanding Film," was published in 2018. This book has become a favorite reference for film and communication academics throughout Indonesia. He was also involved in writing the Montase Film Bulletin Compilation Book Vol. 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Additionally, he authored the "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). Until now, he continues to write reviews of the latest films at montasefilm.com and is actively involved in all film productions at the Montase Film Community. His short films have received high appreciation at many festivals, both local and international. Recently, his writing was included in the shortlist (top 15) of Best Film Criticism at the 2022 Indonesian Film Festival. From 2022 until now, he has also been a practitioner-lecturer for the Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts in the Independent Practitioner Program.

1 TANGGAPAN

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.