Inuyashiki (2018)
127 min|Thriller|20 Apr 2018
7.2Rating: 7.2 / 10 from 238 usersMetascore: N/A
Inuyashiki Ichirou is down on his luck. While only 58 years old, his geriatric looks often have him written off as a pathetic old man by the world around him and he's constantly ignored and...

Setiap anak pasti pernah bermimpi untuk memiliki kekuatan super dan mereka pasti memiliki superhero favorit yang dijadikan role model. Namun, yang paling banyak kita jumpai adalah karakter superhero dari Marvel Comics atau DC Comics, diantaranya memiliki kekuatan super sejak lahir atau mengalami kecelakaan yang membuat mereka menjadi manusia super.

Apa jadinya jika kalian mendapat kekuatan super pada saat usia senja? Ini yang dialami Inuyashiki Ichiro, seorang pekerja kantoran biasa yang terancam pensiun, terabaikan orang sekitarnya bahkan keluarganya sendiri. Hidupnya makin terpuruk saat dirinya divonis mengidap kanker stadium akhir di mana ia memiliki sedikit waktu tersisa. Saat ia merasa sangat putus asa dengan hidupnya, Ichiro dihantam oleh sinar aneh. Ichiro terbangun dalam kondisi normal, namun ia merasakan perubahan aneh dalam dirinya, hingga akhirnya ia menyadari bahwa dirinya berubah menjadi cyborg, manusia robot.

Diadaptasi dari manga berjudul Inuyashiki karya Hiroya Oku, film fiksi ilmiah berjudul sama ini disutradarai oleh Shinsuke Sato, yang sebelumnya menyutradarai Gantz. Film ini dibintangi Noritake Kinashi, Mari Hamada, Kanata Hongo, Ayaka Miyoshi, Fumi Nikaido, Yuki Saito, dan Takeru Satoh. Kabarnya, film ini akan dibuat trilogi, namun belum ada kabar, kapan film selanjutnya akan diproduksi.

Konsep ceritanya sudah terlihat menarik karena jarang sekali menemukan sosok manusia yang mendapat kekuatan super pada usia lanjut, terlebih sang antagonis adalah siswa SMA. Dalam film ini memperlihatkan bagaimana Ichiro di usia senja merasa kikuk, bingung, dan tidak tahu apa yang harus dilakukan saat mendapati dirinya bukan manusia biasa. Ia dituntut untuk cepat memahami kekuatan yang dimilikinya saat mendapati kenyataan bahwa ada orang lain yang memiliki kekuatan yang sama, namun digunakan untuk melakukan kejahatan.

Baca Juga  Tokyo Ghoul

Pengenalan tokoh disajikan dengan baik terutama untuk sosok Ichiro. Bagaimana kondisi keseharian Ichiro dengan keluarganya yang sangat acuh, ia tak memiliki teman di kantor, hingga akhirnya ia mendapati kekuatan super. Setelahnya, plot film justru berjalan cepat dan terkesan terburu-buru. Sosok Hiro diperkenalkan sebagai remaja biasa, namun dipaksakan memiliki situasi yang membuatnya menjadi jahat. Tidak dijelaskan, bagaimana para polisi bisa mengetahui pelakunya adalah Hiro. Tiba-tiba saja Hiro diburu tanpa henti. Hal ini menjadi satu contoh bagaimana konfliknya terlihat memaksa. Bagi yang tidak membaca serial manga-nya, tentu akan sedikit kesulitan memahami tokoh Hiro yang tiba-tiba berubah kepribadian karena alur yang berubah cepat. Penonton tak diberi waktu cukup untuk merasa empati dengan apa yang dialami Hiro hingga membuatnya menjadi sosok penjahat.

Secara visual, pada separuh awal film tak banyak menggunakan efek visual buatan. Hanya pada adegan tertentu memperlihatkan sosok tokoh berubah menjadi cyborg. Jujur saja, pencapaian visualnya layaknya efek visual produksi Hollywood. Justru saat memasuki konflik antara kedua tokoh, banyak sekali efek visual yang terlihat artifisial, namun rasanya hampir seluruh adaptasi live action produksi Jepang memang lemah di aspek ini. Secara keseluruhan film ini memiliki konsep cerita yang menarik, namun pengemasannya masih banyak kekurangan terlebih dari segi cerita, teknik, terutama efek visual.

WATCH TRAILER

PENILAIAN KAMI
Overall
55 %
Artikel SebelumnyaMission: Impossible – Fallout
Artikel BerikutnyaTeen Titans Go! To the Movies
Luluk Ulhasanah
Luluk Ulhasanah atau lebih akrab dipanggil EL, lahir di Temanggung 6 September 1996. Sejak kecil sudah suka menonton film. Minatnya pada film membuat ia bergabung dengan Komunitas Film Montase sejak tahun 2016 dan mulai beberapa kali terlibat produksi film pendek, dan aktif menulis review film, khususnya film Asia. Pada bulan Desember 2017, ia menjadi juri mahasiswa dalam ajang festival film internasional, Jogja Asian Film Festival (JAFF Netpac) 2017. Kini, ia menjabat sebagai Kepala Divisi Website untuk periode 2018-2019. Selain itu ia juga aktif dalam komunitas dance di Yogyakarta.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini