Jack Reacher: Never Go Back (2016)

118 min|Action, Thriller|21 Oct 2016
6.2Rating: 6.2 / 10 from 189,831 usersMetascore: 47
Jack Reacher must uncover the truth behind a major government conspiracy in order to clear his name while on the run as a fugitive from the law.

Jack Reacher: Never Go back adalah sekuel dari Jack Reacher yang menampilkan aktor top, Tom Cruise yang kali ini ditemani bintang baru, Cobie Smulders. Film ini kini digarap oleh Edward Zwick yang sering menggarap film-film bertema militer atau pertempuran. Cruise kembali berperan sebagai Jack Reacher, seorang penyelidik yang merupakan mantan anggota militer dan menjadi legenda di kalangan militer. Jack kini harus menolong rekan barunya, Mayor Susan Turner yang ditangkap karena tuduhan yang tak jelas. Reacher dan Turner yang menjadi buron harus berhadapan dengan komplotan militer yang menjual senjata ke pemberontak di timur tengah. Di lain pihak, Reacher ternyata juga memiliki seorang yang diduga sebagai putrinya, Samantha, yang secara tak sengaja terlibat dalam petualangan mereka ini.

Jack Reacher pada seri pertama adalah sosok jagoan yang cerdas, mahir berkelahi, bekerja sendirian bebas tanpa aturan, serta memiliki komitmen penuh dalam menegakkan kebenaran dan keadilan. Segalanya yang membuat sosok ini menjadi legenda di kalangan militer dengan puluhan tanda jasa yang konon tak cukup lagi ditempel di baju militernya. Reacher menjadi sosok misterius yang ditakuti pihak manapun bahkan penonton pun sulit mengukur seberapa tangguh sebenarnya tokoh ini. Pada film sekuelnya ini sosok legendaris yang misterius ini hilang dan berganti menjadi sosok yang lebih manusiawi melalui kedekatannya dengan Turner dan Samantha. Tidak ada yang salah atau buruk dengan hal ini hanya satu poin yang menjadi kekuatan film pertamanya tidak tampak lagi disini. Bicara soal plot invetigasinya, tak ada lagi ketegangan dan misteri disini karena tertutup dengan chemistry Reacher dan Turner.

Baca Juga  Everest

Hubungan Reacher dengan Turner justru kini yang menjadi nilai lebih filmnya. Chemistry antara keduanya sepanjang kisahnya mampu membuat rasa penasaran penonton terus terusik dengan kedekatan mereka. Reacher yang senang bekerja sendirian dan Turner sebagai perempuan tangguh yang mandiri dan sama-sama pintar dan keras kepala membuat keduanya seringkali beradu mulut dan amat menyenangkan untuk dilihat. Hal ini tak lepas dari permainan akting memikat dari Cruise dan Smulders. Smulders kini justru lebih banyak mencuri perhatian penonton. Belum lagi ditambah dengan Samantha yang memiliki sifat nyaris sama seperti Reacher yang dimainkan secara menawan pula oleh aktris muda, Danika Yarosh.

Jack Reacher: Never Go Back kehilangan nuansa misteri dari sosok legendaris Jack Reacher pada film sebelumnya dengan plot investigasi medioker, sekalipun terhibur melalui chemistry antara Cruise dengan Smulders. Cruise sendiri rupanya belum bosan dengan peran tipikalnya yang mirip dengan tokoh Ethan Hunt di seri Mission Impossible. Aksi-aksinya juga tak jauh dari seri Jason Bourne yang penuh aksi pengejaran serta rivalitas Reacher dan sang pemburu. Tidak banyak yang ditawarkan dalam film sekuelnya ini selain nama besar sang aktor sendiri. Rasanya kita juga bakal melihat Coby Smulders dalam film-film besar di masa mendatang selain sebagai karakter Agen Maria Hill di seri Avengers.

WATCH TRAILER

PENILAIAN KAMI
Overall
60 %
Artikel SebelumnyaWonderful Life
Artikel BerikutnyaDear Love
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). A lifelong cinephile, he developed a profound passion for film from an early age. After completing his studies in architecture, he embarked on an independent journey exploring film theory and history. His enthusiasm for cinema took tangible form in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience eventually led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched students’ understanding through courses such as Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended well beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, Understanding Film, an in-depth examination of the essential elements of cinema, both narrative and visual. The book’s enduring significance is reflected in its second edition, released in 2018, which has since become a cornerstone reference for film and communication scholars across Indonesia. His contributions to the field also encompass collaborative and editorial efforts. He participated in the compilation of Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1–3 and 30 Best-Selling Indonesian Films 2012–2018. Further establishing his authority, he authored Horror Film Book: From Caligari to Hereditary (2023) and Indonesian Horror Film: Rising from the Grave (2023). His passion for cinema remains as vibrant as ever. He continues to offer insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com while actively engaging in film production with the Montase Film Community. His short films have received critical acclaim at numerous festivals, both nationally and internationally. In recognition of his outstanding contribution to film criticism, his writing was shortlisted for years in a row for Best Film Criticism at the 2021-2024 Indonesian Film Festival. His dedication to the discipline endures, as he currently serves as a practitioner-lecturer in Film Criticism and Film Theory at the Indonesian Institute of the Arts Yogyakarta, under the Independent Practitioner Program from 2022-2024.

1 TANGGAPAN

  1. Menurut saya tak ada yang menarik dari film ini selain nama besar Cruise dan Zwick. Sebagai penonton saya berharap film ini tidak terlalu jauh dari penampilan Cruise di MI.
    Alih-alih terhibur, saya justru merasa bosan Karena lemahnya plot film, banyak hal-hal janggal, serta aksi laga yang cukup jauh serunya dibanding serial Bourne misalnya. Tapi untuk tiket nonton yang hanya 20 ribu .. ya sudahlah saya tak akan terlalu banyak mengeluh ?

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses