kartolo numpak terang bulan

Setelah Srimulat, tiga (dari sejumlah) seniman Ludruk legendaris, yakni Cak Kartolo, Cak Sapari, dan Eko Tralala (Eko Londo) juga melayarlebarkan eksistensi mereka lewat Kartolo Numpak Terang Bulan. Namun, lain daripada dua film Srimulat (Srimulat: Hil yang Mustahal – Babak Pertama/2022 dan Srimulat: Hidup Memang Komedi/2023) dengan biografi dan perjalanan mereka di Jakarta, Kartolo semata komedi. Melalui produksi Air Films dan Smekdors Film Academy, dengan arahan Ainun Ridho yang sekaligus pula menggarap skenarionya bersama Haikal Damara. Bermain dalam film ini, tentu ada Cak Kartolo, Cak Sapari, serta Eko Tralala itu sendiri, lalu Ning Kastini, Dewi Kartolo, Alda Yunalvita, Arief Wibhisono, Rizky Boncel, Yulawan Krisdianto, Wandi Marzuki, dan Beta Sofiyansyah. Bakal ke mana tendensi film ini dengan beberapa tokoh Ludruk di dalamnya?

Di antara hiruk-pikuk kehidupan masyarakat Surabaya, Kartolo (Cak Kartolo) mengelola seorang diri rumah kosnya. Hanya ada empat anak kuliah yang tinggal bersamanya, yaitu Hormat (Krisdianto), Boncel (Boncel), Simon (Sofiyansyah), dan Yusuf (Marzuki) dengan perbedaan asal daerah masing-masing. Meski Jon (Wibhisono), putra tetangga Cak Tolo, Ning Tini (Kastini), kerap main ke kosnya, tetapi Sapari (Cak Sapari) dan istrinya, Mbak Dewi (Dewi Kartolo), tetap mengkhawatirkan hari-hari tua Cak Tolo tanpa anak dan istrinya. Sampai suatu ketika, terjadi insiden Cak Kartolo pingsan dan harus dilarikan ke rumah sakit, hingga mesti mendatangkan seseorang untuk pulang.

Sebagaimana film-film seputar tokoh-tokoh komedi atau para pelawak legendaris di Indonesia hingga hari ini, kecenderungannya kerap kali berkutat pada nostalgia gaya komedi mereka. Baik yang dibuat untuk me-reboot film-film lawas mereka, mengisahkan perjalanan, menonjolkan ciri khas dalam membawakan sesosok ikonik, maupun membangkitkan kenangan lama. Tendensi yang mudah sekali diketahui bila melihat film-film seperti Warkop DKI Reborn dari 1 sampai 4 (2016, 2017, 2019, 2020), Benyamin Biang Kerok dan sekuelnya (2018, 2020), kedua film Srimulat, hingga Kartolo ini. Paling sering adalah memungkinkan satu peristiwa kurang logis atau memaksakan suatu situasi demi memunculkan lawakan khas mereka. Misalnya dalam Kartolo, dialog konfrontatif berisi perdebatan remeh dengan gaya berkomunikasi masyarakat Jawa Timur, khususnya Surabaya.

Baca Juga  Mendadak Dangdut, Benar-Benar "Dangdut"

Kartolo Numpak Terang Bulan terlihat menempatkan format Ludruk ke layar lebar dengan beragam komponennya. Bukan hanya dialog, melainkan pula segala properti, lokasi, busana, serta pengadeganan. Tak terkecuali turut pula diikuti musik-musik latar dari rangkaian gamelan di banyak kesempatan. Mengabaikan ketidaklogisan apa pun yang datang dari tuntutan filmis. Misalnya, latar waktu yang tak sinkron dengan setiap detail properti yang digunakan. Sebut saja seperti kursi-kursi di ruang kampus tempat keempat anak kos, Mat, Boncel, Simon, dan Yusuf berkuliah yang tampak lawas. Setiap absurditas demi menunjang lawakan atau situasi lucu dianggap benar oleh film ini. Seperti bagaimana tiba-tiba Yusuf membelikan laptop baru, cara Boncel memperbaiki laptop kawannya, hingga musabab Cak Kartolo pingsan.

Namun, salah satu sisi paling menyenangkan dari Kartolo ialah mendengar percakapan Jawa Timurannya tanpa tersendat-sendat, kaku, patah-patah, atau aneh. Kesan yang sering didapat saat pemeran tokoh dalam film berlatar Jawa atau daerah lainnya bukanlah orang yang memang fasih. Dapat dikatakan bahwa satu-satunya aspek paling menyenangkan di atas segala suguhan lain dalam Kartolo Numpak Terang Bulan ialah percakapan antartokohnya. Sayangnya, film ini malah ditutup dengan sebuah informasi yang nuansa tabunya tak terkira. Memang mengejutkan melihat ke arah mana Kartolo memutuskan untuk mengakhiri kisahnya. Namun, tidakkah ada pilihan kejutan lainnya sebagai penutup cerita?

Sejak awal, Kartolo Numpak Terang Bulan menampakkan tendensinya semata pertunjukan lawak gaya Ludruk tanpa menghiraukan kausalitas yang baik. Tanpa mempertimbangkan setiap properti, lokasi, dan latar waktu agar sinkron, selama dapat menjadi bahan tawa, maka dianggapnya sah-sah saja. Toh bekerja dalam Ludruk. Akibatnya, gampang sekali alur ceritanya diantisipasi. Walau agak mengecewakan melihat cara film ini dalam menutup ceritanya dengan membuka sebuah informasi tak terduga yang begitu tabu. Semoga saja tidak ada keberpihakan macam-macam dari penulis dan sutradara film ini terhadap eksistensi informasi tersebut.

PENILAIAN KAMI
Overall
50 %
Artikel SebelumnyaImaginary
Artikel BerikutnyaTanduk Setan
Miftachul Arifin lahir di Kediri pada 9 November 1996. Pernah aktif mengikuti organisasi tingkat institut, yaitu Lembaga Pers Mahasiswa Pressisi (2015-2021) di Institut Seni Indonesia Yogyakarta, juga turut andil menjadi salah satu penulis dan editor dalam media cetak Majalah Art Effect, Buletin Kontemporer, dan Zine K-Louder, serta media daring lpmpressisi.com. Pernah pula menjadi kontributor terpilih kategori cerpen lomba Sayembara Goresan Pena oleh Jendela Sastra Indonesia (2017), Juara Harapan 1 lomba Kepenulisan Cerita Pendek oleh Ikatan Penulis Mahasiswa Al Khoziny (2018), Penulis Terpilih lomba Cipta Puisi 2018 Tingkat Nasional oleh Sualla Media (2018), dan menjadi Juara Utama lomba Short Story And Photography Contest oleh Kamadhis UGM (2018). Memiliki buku novel bergenre fantasi dengan judul Mansheviora: Semesta Alterna􀆟f yang diterbitkan secara selfpublishing. Selain itu, juga menjadi salah seorang penulis top tier dalam situs web populer bertema umum serta teknologi, yakni selasar.com dan lockhartlondon.com, yang telah berjalan selama lebih-kurang satu tahun (2020-2021). Latar belakangnya dari bidang film dan minatnya dalam bidang kepenulisan, menjadi motivasi dan alasannya untuk bergabung dengan Komunitas Film Montase sejak tahun 2019. Semenjak menjadi bagian Komunitas Film Montase, telah aktif menulis hingga puluhan ulasan Film Indonesia dalam situs web montasefilm.com. Prestasi besar terakhirnya adalah menjadi nominator Festival Film Indonesia 2021 untuk kategori Kritikus Film Terbaik melalui artikel "Asih, Cermin Horor Indonesia Kontemporer" bersama rekan penulisnya, Agustinus Dwi Nugroho.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.