mad_max
Sebuah Batas Tipis antara Film Hiburan dan Seni

 

mad_poster
Mad Max Movie Poster

Sutradara: George Miller
Produser: George Miller/Doug Mitchell/P.J. Voeten
Penulis Naskah: George Miller/Brendan Mc Carthy/Nico Lathouris
Pemain: Tom Hardy/Chalize Theron/Nicholas Hoult
Sinematografi: John Seale
Editing: Margaret Sixel
Ilustrasi Musik: Junkie XL
Studio: Kennedy Miller Mitchel/Village Roadshow Pictures
Distributor: Warner Bros. Pictures
Durasi: 120 menit
Bujet: $150 juta

 

 

Setelah penantian selama 30 tahun akhirnya seri keempat film aksi legendaris Mad Max diproduksi oleh Miller yang kini berusia 70 tahun. Seri Mad Max adalah film aksi berlatar masa depan pasca perang nuklir dimana bumi kini menyisakan gurun tandus serta peradaban manusia yang tak mengenal hukum. Seri pertama mengisahkan latar-belakang karakter Max Rockatansky yang kelam sementara dua kisah selanjutnya adalah petualangan Max yang terjebak masalah dari satu kelompok geng ke geng lain. Seri kedua The Road Warrior (1981) dengan berjalannya waktu dianggap para pengamat sebagai karya masterpiece dan merupakan salah satu film aksi murni terbaik yang pernah ada. Dalam Mad Max: Fury Road, Miller menggunakan formula cerita dan aksi yang sama dengan seri kedua bahkan mengemasnya jauh lebih baik.

Segala hal yang ada didalam Mad Max: Fury Road tidak akan bisa dipercaya sampai kita melihatnya sendiri. Cerita berjalan tanpa henti dengan tempo sangat cepat dan nyaris sepanjang film kita berada di diatas kendaraan dengan aksi gila-gilaan yang tak mengenal lelah.  Max kali ini kembali terjebak dalam pertikaian internal geng dimana akhirnya ia terpaksa harus menolong satu pihak sekaligus agar ia bisa menyelamatkan jiwanya. Max terlibat dalam aksi pengejaran terbesar sepanjang sejarah, yakni satu truk besar melawan ratusan kendaraan kombinasi dari tiga kelompok geng. Apa coba yang ditawarkan dari plot sederhana seperti ini? Dijamin Anda tidak akan mempercayainya sebelum melihatnya sendiri.

Baca Juga  Resident Evil: Welcome to Raccoon City

Aksi super keras dan gila disajikan nyaris sepanjang filmnya. Jika Anda sudah merasa melihat aksi mobil gilaan-gilaan di Furious 7 baru lalu, aksi-aksi tersebut terlihat seperti film anak-anak jika dibandingkan dengan sekuen aksi di Fury Road. Beberapa sekuen aksi bahkan tidak akan kita percaya bakal mungkin ada sampai kita menyaksikannya sendiri. Berbeda dengan Furious 7, aksi di Fury Road semuanya terasa nyata dan masuk akal sehingga kita bisa merasakan kengerian yang sangat luar biasa. Aksi murni dengan stunt, plus sinematografi dan editing yang amat menawan menyajikan sebuah koreografi aksi terhebat yang pernah ada dalam sejarah film. Hanya ini yang bisa saya katakan.

Mad Max: Fury Road bukan hanya sekedar merupakan film aksi tapi adalah sebuah karya seni yang akan dikenang lama. Penantian panjang para fans sejati film aksi akan terpuaskan dari sisi manapun. Tidak seperti film aksi sejenis kebanyakan, wanita-wanita muda dalam film ini bukan merupakan pemanis namun adalah motif utama cerita filmnya. Charlize Theron yang berperan sebagai Imperator Furiosa bermain luar biasa mendampingi Tom Hardy sebagai Max yang jarang sekali bicara. Hardy memang bukan Mel Gibson namun sosoknya pas menggantikan Max yang berkarakter dingin, keras dan traumatik namun sebenarnya berhati lembut. Sebagai kesimpulan dengan segala apa yang ditawarkan Mad Max: Fury Road, serial ini bakal akan terus berlanjut. Mad Max: Fury Road adalah sebuah pencapaian langka diantara film-film box-office masa kini yang penuh dengan gemerlap efek visual dan teknologi modern.

Movie Trailer

 

PENILAIAN KAMI
Total
100 %
Artikel SebelumnyaAvengers: Age of Ultron
Artikel BerikutnyaDeretan Superhero Marvel Jadi Film Franchise Terlaris di Dunia
His hobby has been watching films since childhood, and he studied film theory and history autodidactically after graduating from architectural studies. He started writing articles and reviewing films in 2006. Due to his experience, the author was drawn to become a teaching staff at the private Television and Film Academy in Yogyakarta, where he taught Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory from 2003 to 2019. His debut film book, "Understanding Film," was published in 2008, which divides film art into narrative and cinematic elements. The second edition of the book, "Understanding Film," was published in 2018. This book has become a favorite reference for film and communication academics throughout Indonesia. He was also involved in writing the Montase Film Bulletin Compilation Book Vol. 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Additionally, he authored the "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). Until now, he continues to write reviews of the latest films at montasefilm.com and is actively involved in all film productions at the Montase Film Community. His short films have received high appreciation at many festivals, both local and international. Recently, his writing was included in the shortlist (top 15) of Best Film Criticism at the 2022 Indonesian Film Festival. From 2022 until now, he has also been a practitioner-lecturer for the Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts in the Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.